Pencarian populer

Father and Son untuk Kita

Egy Maulana Vikri (Foto: Instagram/ @egymaulanavikri)
"I was once like you are now, and I know that it's not easy to be calm when you've found something going on."
ADVERTISEMENT
Atas segala pemberitaan tentang Egy Maulana Vikri, ada baiknya kita mendengar ulang Father and Son milik Cat Stevens.
Ini lagu lama yang rilis di tahun 1970-an. Saya pertama kali mendengarnya sewaktu masih SD, itu pun sudah dalam versi yang baru, yang dinyanyikan ulang oleh Boyzone. Lantas lagu ini sering saya dengar kembali sejak saya mulai asyik dengan Spotify, terlebih setelah digunakan sebagai soundtrack untuk film Guardians of the Galaxy 2. Ingat saat adegan pemakaman Yondu?
Konon, entah benar atau tidak, lagu ini dibuat sebagai bagian dari proyek drama musikal yang berjudul Revolussia. Ia mengambil latar revolusi Rusia. Secara garis besar, ceritanya menyoal perbedaan idealisme bapak dan anak laki-laki dalam satu keluarga Rusia. Sang bapak ingin agar anaknya ini menetap di kampung halaman untuk mengurus peternakan miliknya. Sementara si anak punya hasrat berbeda. Ia tak mau tinggal di rumah. Ia ingin bergabung dengan teman-temannya, menjadi satu dengan saudara-saudara idealismenya. Maju ke garda depan, mengusahakan kemenangan, memperjuangkan revolusi.
ADVERTISEMENT
Saya teringat lagu ini saat membaca berita-berita menyangkut Egy Maulana Vikri. Gaungnya terdengar di mana-mana, namanya jadi pembicaraan dalam dan luar negeri. Ia disebut-sebut sebagai Messi-nya Indonesia. Messi memang tak terpilih sebagai pesepak bola terbaik versi FIFA, tapi siapa yang tak mau menjadi Messi? Pesepak bola mana yang tak ingin disandingkan dengan Messi? Entah berapa banyak pesepak bola muda yang berharap untuk disebut-sebut sebagai The Next Messi. Maka, beruntunglah Egy.
Berbeda dengan cerita anak dan bapak di drama musikal Revolussia, ada banyak yang ingin Egy pergi dari negeri ini. Ke Eropa, yang benar-benar jauh. Bergabung dengan akademi sepak bola ternama. Menandatangani kontrak dengan klub Eropa, sehingga sebisa mungkin tak jadi dewasa di ranah sepak bola Indonesia. Ya, bolehlah tetap membela tim nasional, sesekali pulang ke Indonesia. Tapi tak usah berlama-lama di sini.
ADVERTISEMENT
Bukannya tak cinta sepak bola Indonesia, tapi menjadi dewasa di ranah sepak bola sini kelewat mengerikan. Usia dewasa memang tak ada sangkut pautnya dengan kedewasaan. Selama bertahun-tahun, menjadi dewasa di ranah ini berarti menghadapi sistem yang carut-marut, manajemen yang asal-asalan, skandal-skandal tak perlu dan hal-hal tak sedap lainnya.
Datangnya surat resmi dari Benfica yang mengharapkan kedatangan Egy membikin hari-hari penikmat sepak bola Indonesia penuh dengan semoga. Semoga mendapat kontrak, semoga jadi pesepak bola muda papan atas, semoga diperebutkan klub-klub raksasa, semoga saat menonton Liga Champion kita bisa sama-sama berseru; “Heh, itu orang Indonesia lho!”
Yang menyenangkan dari mengikuti segala macam pemberitaan Egy adalah ia tak pernah takut dengan sepak bola dan segala ketidakpastiannya. Sewaktu masih berlatih di SSB Tasbih, ia pernah gagal berangkat ke Jepang karena terkendala biaya walau ia telah lolos seleksi. Namun toh, dia tidak berhenti. Saya pikir ia juga paham bahwa persaingan sepak bola di Eropa tak ada mudah-mudahnya, namun nyatanya ia tetap mencoba. Atau lihatlah apa yang dilakukannya saat bertanding. Membuahkan gol atau tidak, ia gemar menekan dan mencoba menembus lini pertahanan lawan.
ADVERTISEMENT
Lantas yang paling menyebalkan dari semuanya adalah ekspektasi. Apa-apa yang lahir dari segala macam semoga tadi.
Lagu Father and Son pada dasarnya terdiri dari dua karakter: bapak dan anak laki-lakinya. Ini bukan lagu duet, ia hanya terdiri dari satu suara. Namun kalau didengarkan dengan teliti, perbedaannya akan terasa sekali. Waktu Cat menyanyikan bagian bapak, ia terdengar tenang. Tak ada gempuran emosi. Entah bagaimana caranya, yang pasti, ia terdengar bijak. Suaranya khas bapak-bapak. Sementara saat menyanyikan bagian anak, emosinya terdengar. Suaranya meninggi, hentakannya terasa benar.
Dulu, sewaktu masih bekerja di Kediri, saya berkali-kali berdebat dengan ibu saya. Tentu tidak dengan bertatap muka karena kami tidak tinggal di kota yang sama. Inti perdebatan kami satu, ibu berharap agar saya segera pindah bekerja di tempat lain. Alasannya masuk akal. Perusahaan rokok tempat saya bekerja dulu adalah perusahaan kecil. Gaji saya benar-benar tidak seberapa. Tidak ada jenjang karier walaupun saya memutuskan untuk tidak bekerja asal-asalan. Intinya, sekeras apa pun saya bekerja, rasa-rasanya tetap tak ada masa depan. Kalau pun ada, tentu suram.
ADVERTISEMENT
Saya tahu ibu saya khawatir dengan masa depan saya. Apalagi saya juga harus membiayai sejumlah kebutuhan keluarga. Makanya, ibu saya berkali-kali protes dengan pilihan saya. Berkali-kali pula ia meminta saya mengikuti seleksi pegawai negeri dan perusahaan lain yang kebetulan, jadi tempat sepupu-sepupu saya bekerja.
Ekspektasi ibu saya dan realita jauh berbeda. Waktu pertama kali saya memutuskan untuk merantau, diterima berkuliah di perguruan tinggi negeri, tentu ia berekspektasi kalau saya bisa lebih sukses daripada apa yang dia lihat pada waktu itu. Ekspektasinya adalah, saya mengikuti segala macam peraturan yang ada –saya tetap berjalan dalam agenda yang benar dan voila, menjadi wanita karier yang sukses dalam hitungan empat sampai lima tahun sejak pertama kali merantau.
ADVERTISEMENT
Tapi kawan, kerja realita memang sering kurang ajar. Realitanya adalah, saya tak berjalan dalam agenda yang benar. Saya pikir apa yang saya ambil adalah hal benar dan saya kehilangan kendali dalam banyak hal. Lantas konsekuensinya adalah, saya harus memutar haluan. Saya harus bekerja di perusahaan kecil. Berpuas diri dengan gaji yang tak seberapa, menahan marah saat perusahaan terlambat membayar gaji, bertungkus-lumus membenahi sistem perusahaan.
Tapi saya tahu apa yang tidak saya punya. Saya butuh bekerja di tempat semacam ini supaya bisa bekerja di perusahaan yang lebih baik. Latar belakang akademis saya bobrok, makanya saya harus punya catatan kerja yang baik. Melakukan apa-apa yang tak pernah, bahkan tak bisa dilakukan oleh mereka yang punya indeks prestasi kumulatif yang membikin saya mengutuki kebodohan sendiri. Lantas saya menjadi seperti anak laki-laki dalam lagu Cat Stevens tadi.
ADVERTISEMENT
Saya bukan orangtua. Saya tidak tahu bagaimana caranya membesarkan anak. Tapi saya seorang anak. Dan saya pikir, kita bukan Nabi Adam yang tak butuh manusia lain, generasi di atas kita, untuk lahir dan hidup sebagai manusia. Makanya, berapa pun usia kita saat ini, kita semua adalah seorang anak. Dan saya pikir setiap anak tahu bahwa siapa saja yang menaruh harap padanya. Dengan atau tanpa kita sadari, setiap anak paham akan tanggung jawab ini.
Egy Maulana Vikri (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Di ranah sepak bola Indonesia, Egy adalah seorang anak. Ia serupa kita yang pertama kali merantau atau saat kita diterima di perguruan tinggi bergengsi atau magang di perusahaan ternama. Dan kita yang beria-ria atas segala potensi menjanjikan dan pemberitaan yang semarak adalah orang tua yang menaruh harap pada anaknya. Pikiran kita penuh dengan syukur. Syukur karena akhirnya muncul lagi pesepak bola Indonesia yang bisa punya tempat di kancah sepak bola Eropa.
ADVERTISEMENT
Tanpa perlu ada yang mengingatkan, saya kelewat yakin bahwa Egy juga paham dengan hal ini. Dia sadar betul bahwa di dalam setiap peluang menjanjikan yang diterimanya tersimpan tanggung jawab dan tantangan yang sudah pasti tak mudah. Beban itu tak lagi sekadar gol yang harus ia cetak, tapi ekspektasi dari segenap pencinta sepak bola tanah air.
Gabriel Tan dalam Fox Sports Asia menulis hal menarik tentang segala potensi yang didapat Egy Maulana Vikri. Katanya; “Believe the hype but be patient with Egy Maulana.” Percaya saja dengan segala hal-hal menjanjikan yang ditunjukkan oleh Egy, jangan skeptis terhadap peluang yang diterimanya –tapi bersabarlah atas segala prosesnya. Beri dia waktu. Dalam tulisan ini ia juga menyebutkan talenta-talenta muda serupa Egy. Ada yang tenggelam karena kelewat dikendalikan oleh ekpektasi masyrakat, ada pula yang berhasil karena berhasil melepaskan diri dari ekpektasi yang kelewat berat dan mengambil langkah yang benar.
ADVERTISEMENT
Panggilan untuk mengikuti uji coba di Benfica memang perihal yang menjanjikan. Namun kalau toh ia tak langsung bermain di Eropa, seandainya ia harus malang-melintang dulu di liga-liga Asia dengan prestis yang tentunya tak seberapa bila dibandingkan Eropa, kalau pun ia harus ikut seleksi di sana-sini untuk mendapatkan klub walau sebagian orang yakin bahwa ia layak untuk mendapatkan kontrak tanpa seleksi; itu tak berarti Egy tak sedang berada dalam agenda yang benar.
Jangan keburu mencecarnya dengan kalimat; “Ah, bagus di awal doang! Tak sesuai ekspektasi! Harapan palsu,” bila dalam waktu tiga atau empat tahun ini kita belum melihat namanya tercatat di daftar pemain di salah satu klub Eropa. Siapa tahu hal-hal semacam itu memang dibutuhkan agar ia bisa bertahan, tak sekadar menjadi one hit wonder Eropa sana. Lagi pula kalau mau jujur, bukannya kita juga sudah terlampau sering mengumandangkan adagium bahwa proses tak akan mengkhianati hasil? Dan sepak bola, memang tak melulu tentang Eropa.
ADVERTISEMENT

“How can I try to explain, cause when I do, he turns away again. It's always been the same, same old story. From the moment I could talk I was ordered to listen.”

- Father and Son, Cat Stevens

Ini adalah bagian yang paling menyedihkan dari keseluruhan lagu Father and Son milik Cat Stevens. Sebagian besar orang menganggap bahwa lagu ini berisi percakapan antara bapak dan anak laki-lakinya. Tapi menurut saya, lagu ini bukan percakapan langsung. Si anak memang berbicara, tapi agaknya lebih kepada pembicaraan monolog. Ada ketidakpuasan dan amarah yang muncul. Tapi kepada siapa kedua perasaan ini ditujukan, sepertinya tak tersampaikan secara langsung.
Lewat sepak-terjang dan pencapaiannya sebagai pesepak bola muda Indonesia, Egy sedang ada dalam momen-momen awal di mana ia dapat berbicara. Ia berbicara lewat gol-golnya. Lewat keberhasilannya menembus pertahanan lawan. Lewat sejumlah pengakuan internasional. Saya tak tahu apa-apa tentang karier di ranah sepak bola. Tapi secara pribadi, saya tak mau dia menjadi anak laki-laki yang menyanyikan bagian tadi. Karena pada saatnya nanti, Egy layak untuk menjadi sosok bapak yang digambarkan oleh Cat Stevens di lagu ini.
ADVERTISEMENT

" Look at me, I'm old but I’m happy.”

- Father and Son, Cat Stevens

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86