Pencarian populer

Film Marlina: Dapur dan Parang dalam Pembunuhan

Keenam perampok itu mampus karena hasrat meniduri Marlina.
Pembicaraan mengenai Film Marlina berputar pada feminisme. Ia mengangkat perlawanan seorang perempuan, janda dari Sumba bernama Marlina, untuk melawan patriarki. Wujud dari patriarki yang muncul dalam film ini adalah perampokan dan perkosaan dari sekelompok laki-laki, yang dipimpin oleh Markus -serta pembiaran atas tindakan pemerkosaan yang dialami Marlina.
ADVERTISEMENT
I. Dapur Marlina
Pembunuhan pertama Marlina bermula di dapur, tapi ia merencanakannya di kamar tidur.
Markus, pria gondrong yang tak lagi muda itu, masuk ke kamar tidur Marlina. Ia tidur di sini, lalu memaksa Marlina untuk melakukan hubungan seks dengannya.
Tak hanya bagi perempuan, kamar tidur adalah wilayah paling pribadi bagi setiap orang. Kamar tidur bukan sekadar tempat beristirahat, ia tak melulu soal di mana kita meletakkan kasur dan meluruskan kaki setelah seharian penuh bekerja. Kamar tidur adalah tempat di mana kita memiliki privasi. Coba ingat-ingat lagi waktu kita beranjak remaja. Sebagian besar dari kita – atau mungkin semua- merasa jengah bila kita masih dipaksa untuk tidur dengan saudara dan orang tua. Kita bilang kita bukan anak-anak lagi, kita berhak atas privasi.
ADVERTISEMENT
Kamar tidur selalu menjadi ruangan paling intim yang ada di rumah kita. Intim di sini bukan hanya menyoal hubungan intim pasangan, tetapi lebih kepada diri sendiri. Tak semua orang bisa masuk ke dalam kamar tidur kita. Mereka yang masuk, hanyalah orang-orang yang kita izinkan.
Lantas, Markus masuk ke kamar tidur Marlina. Tanpa bicara, apalagi permisi. Ia masuk begitu saja. Menerobos masuk ke ruang paling pribadi buat Marlina. Markus tak cuma menjarah harta benda Marlina, ia juga memastikan bahwa Marlina tak punya kuasa apa-apa lagi, bahkan atas dirinya sendiri. Di rumah itu Marlina tak ada lagi, yang ada hanya Markus.
Marlina menyimpan senjata pembunuhnya di kamar tidur. Tadinya saya pikir buah itu semacam melinjo (mohon maaf lahir dan batin), buah yang memang dipakai untuk memasak. Ternyata buah tadi mengandung racun mematikan. Keempat teman Markus mati saat memakannya.
ADVERTISEMENT
Keinginan Marlina untuk melawan apa dan siapa yang berusaha merampas kehidupannya, lahir dari kamar tidurnya. Ia lahir dari pribadi Marlina sendiri. Melihat Markus ongkang-ongkang kaki di tempat tidurnya, Marlina cuma diam. Ia tak bersuara. Gelagat yang cenderung rancu. Saya pikir tadinya ia bakal mengamuk, atau melakukan tindakan emosional lainnya. Ternyata ia begitu tenang, menyusun dan memantapkan rencananya pelan-pelan sambil sedikit berdandan.
Lantas, ia kembali ke dapur. Bertingkah sebagai perempuan yang benar-benar perempuan sesuai adat.
Perempuan tempatnya di dapur. Seberapa sering kita mendengar hal ini? Seheboh apa pun kita menyuarakan bahwa perempuan punya tempat di mana pun, kalimat ini tak menguap begitu saja. Ia mengakar dalam pikiran dan alam bawah sadar kita. Apa-apa yang kita suarakan bukannya menandakan bahwa pernyataan ini tak masuk hitungan dalam pikiran kita. Kita sedang berusaha mencabutnya sampai ke akar-akar agar ia tak terus berada di sana.
ADVERTISEMENT
Namun demikian, tak ada yang salah dengan keberadaan perempuan di dapur. Toh, tanpa dapur rumah tak akan lengkap. Makanan dimasak di dapur, ia berbicara tentang bagaimana caranya mengayomi keluarga atau siapa pun yang kau undang ke rumah.
Secara pribadi, saya sangat menyukai adegan pembunuhan empat laki-laki pertama. Marlina membunuh dengan cara yang sangat perempuan, dengan cara yang sangat hangat.
Markus menyuruh Marlina untuk memasak sup ayam untuknya dan teman-temannya. Marlina menurut, ia pergi ke dapur dan memasak sup ayam terenak yang ia tahu. Di sini, Marlina tak terlihat sebagai perempuan yang berusaha mendobrak tatanan budaya. Bagi Markus dan teman-temannya, Marlina tidak muncul sebagai perempuan yang ingin melawan.
ADVERTISEMENT
Bila diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari, Marlina ini perempuan idaman. Ia setia, pintar mengurus rumah tangga dan jago memasak. Ditambah lagi ia cantik.
Ada banyak pendapat yang mengatakan bahwa menyebut perempuan itu cantik atau tidak adalah perkara seksis. Secara pribadi saya tidak memusingkan hal itu. Tak jarang kita menjadi ironi itu sendiri. Kita sering marah bila ada yang menilai perempuan cantik atau tidak, tapi ikut heboh berkomentar tentang betapa seksi dan tampannya Justin Trudeau (pelafalan nama belakangnya seperti apa, sih?). Ya kalau memang cantik, memangnya kenapa? Toh di mata saya, si Marlina ini memang cantik.
Marlina memasak dan menyajikan sup ayam tadi dengan tenang. Sedikit gugup, tapi saya pikir ia cukup yakin bahwa sebentar lagi mereka bakal mati dihajar racun. Pun saat keempat teman Markus memuji masakan Marlina. Ia tak bereaksi apa pun, tetapi menatapnya dengan rasa kemenangan yang disembunyikan. Selang beberapa menit kemudian satu persatu dari mereka tumbang. Mereka mampus sebelum sempat meniduri Marlina.
ADVERTISEMENT
Saya terkesan dengan adegan ini. Ia menunjukkan bahwa Marlina sadar ia seorang perempuan yang ada dalam tatanan budaya tertentu. Lantas, ia tak perlu menjadi orang lain. Sebagai perempuan, ia begitu utuh. Dan keutuhannya itu pulalah yang membuatnya sanggup untuk melawan.
Ternyata, daya Marlina tersembunyi dalam keperempuanannya.
II. Parang Marlina
Marlina membunuh Markus saat ia sedang menggagahinya.
Bos besar para perampok itu memaksa Marlina untuk berhubungan seks dengannya. Marlina menolak, namun Markus tetap memaksa. Lantas seperti tanpa daya, Marlina menuruti apa yang jadi kemauan lelaki tadi.
Namun entah seperti apa caranya, Marlina yang tadinya ditindih Markus, tiba-tiba justru berada di posisi atas. Ia tampak seperti perempuan yang sedang memanjakan hasrat seksual Markus.
ADVERTISEMENT
“Kamu juga suka kan?”
Marlina mempersetankan pertanyaan Markus. Pertanyaan yang belakangan sering kita dengar dalam bentuk, “Saat pemerkosaan itu, apakah Anda juga menikmatinya?” Pertanyaan yang muncul dalam selorohan; “Hidup ini seperti sedang diperkosa. Kalau tidak bisa melawan, nikmati saja.”
Di atas tempat tidur itu, Marlina seolah meladeni Markus. Lantas, tangannya diam-diam menarik parang dari sarungnya. Dan seketika, kepala Markus terputus dari badannya. Markus mati ditebas parang Marlina.
Dalam tradisi Sumba, parang melambangkan maskulinitas. Ia tak cuma berfungsi sebagai senjata, tapi atribut yang dibawa pria ke mana pun ia berada. Parang juga menjadi penanda dari perlindungan pria terhadap perempuan.
Ada beberapa pendapat yang menyayangkan adegan Marlina yang membunuh Markus dengan parang. Menurutnya, pembunuhan dengan parang itu menandakan ketidakutuhan subyek Marlina sebagai feminin. Matinya Markus di tangan Marlina berarti feminisme menang karena ada unsur-unsur maskulinitas yang menyusup masuk ke dalamnya.
ADVERTISEMENT
Adegan ini semacam membenarkan pendapat Simon de Beauvoir (ini juga bacanya seperti apa coba?) dalam The Second Sex; “Perempuan, oleh karena sifatnya yang terus ‘menjadi’ (becoming) dan ‘tidak pasti’ (unfixed), bisa menjadi semacam penanda kosong, yang maknanya bisa diisi oleh apa saja -termasuk oleh makna yang bisa digunakan untuk melanggengkan budaya patriarki.”
Saya teringat pada salah satu bagian dari buku "Kegelisahan Seorang Feminis: Sosok Virginia Woolf" yang ditulis oleh M.A.W. Brouwer (nama yang mengingatkan kita akan kalimat sakti: Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum -aih!) dan Myra Sidharta. Tulisan-tulisan Virginia Woolf lahir atas nama feminisme. Namun yang menarik, tulisan-tulisannya juga lahir saat wanita di Inggris waktu itu sudah bisa belajar di universitas, boleh berinisiatif mengajukan perceraian, sudah berani bersuara ataupun memiliki hak kepemilikan pribadi walau ia sudah menikah.
ADVERTISEMENT
Bagi Virginia, mengubah undang-undang itu bukan perkara sulit, yang sulit adalah mengubah mental. Harus ada hal-hal yang bisa menaikkan mental perempuan itu. Makanya, dalam buku-bukunya, seperti A Room for One's Own, yang dipersoalkan Virginia adalah dasar psikologis dan ekonomis dari hegemoni pria.
Isi bukunya sederhana, perempuan harus punya jabatan dan status ekonomi yang tinggi supaya keberadaannya bisa diakui. Dan di zaman apa pun, yang namanya jabatan dan status ekonomi yang tinggi tidak pernah berarti pemberian, ia harus direbut. Karena upaya inilah, beberapa kritik muncul atas karya-karya Woolf. Menurut mereka, kefemininan yang dihadirkan Woolf adalah kefemininan yang kurang bisa memunculkan kekhasan perempuan. Istilah yang muncul di buku ini adalah, feminin, tapi cenderung androgini.
ADVERTISEMENT
Lantas bagi saya, parang Marlina mirip dengan apa yang dijelaskan buku tadi tentang karya-karya Woolf.
Parang Marlina adalah penanda bahwa ia mempersetankan pengotak-kotakan antara yang mana simbol maskulin, mana simbol feminin. Tak ada perempuan Sumba yang berjalan membawa parang. Tapi Marlina melakukannya. Saat berjalan ke kantor polisi, Marlina bukan hanya menenteng parang, ia juga membawa kepala Markus. Baginya, sah-sah saja untuk menggunakan atribut-atribut maskulin untuk merebut tujuan feminismenya. Artinya, kefemininan itu tidak bisa dibatasi oleh simbol dan atribut.
Bukan hanya Marlina yang meleburkan simbol maskulin dan feminin. Novi, teman Marlina yang hamil 10 bulan juga menggunakan parang serupa untuk membunuh Franz. Sebagai catatan, Franz adalah anak buah Markus yang juga punya hasrat meniduri Marlina.
ADVERTISEMENT
Beberapa saat sebelum melahirkan, Novi berlari dari dapur. Mirip dengan apa yang terjadi pada Marlina, Novi pun diperintah Franz untuk memasakkannya sup ayam. Sebelum Marlina datang, Novi sebenarnya sudah berniat membunuh Franz yang memengaruhi suaminya, Umbu. Franz membohongi Umbu yang pada dasarnya memang tak percaya pada Novi. Katanya, Novi selingkuh dengan Franz. Umbu menganggap bayi dalam kandungan Novi itu tak lahir-lahir karena sungsang. Dan di sana, bayi sungsang adalah penanda bahwa seorang istri tak setia pada suami.
Marlina tak bisa sendirian, ia butuh Novi dan anak perempuan penjual sate di dekat kantor polisi, Topan. Sementara Novi, ia juga membutuhkan ibu-ibu tua yang hendak menikahkan keponakannya itu dan Ian, satu-satunya “laki-laki” dalam film ini.
ADVERTISEMENT
Bila diperhatikan, adegan pembunuhan demi pembunuhan di film ini juga diselingi humor. Namun humornya cenderung gelap. Entah di kantor polisi, dalam obrolannya dengan Novi maupun di adegan-adegan yang melibatkan para perampok. Kita, para penonton memang tertawa -saya pun demikian. Tapi bukan tertawa riang, lebih kepada tertawa miris. Respon yang bila diterjemahkan ke dalam kata-kata bisa berarti; “Halah, di tempatku juga begitu,” atau “Ya mau bagaimana lagi?” Hal-hal semacam itu.
Babak pembunuhan Marlina diakhiri dengan kelahiran bayi Novi. Bayi Novi adalah anak kandung dari harapan itu sendiri. Harapan akan lahirnya Marlina-Marlina yang lain. Harapan akan munculnya kebaikan dari Topan-Topan yang lain. Harapan akan terpancungnya kepala Markus-Markus yang lain.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86