Pencarian populer

Final di Dubai

Usai menyaksikan kemenangan Kevin/Marcus, orang-orang Dubai dipaksa untuk berpikir ulang tentang arti menjadi kaya.

Ini negeri kaya. Rumah bagi mereka, pencinta uang. Harta benda jadi teman yang karib seantero negeri. Gedung-gedung tak bosan mencakar langit, label mentereng rajin mengangkat status. Ini tanah Dubai, raja-raja duduk senang mendulang minyak.

Peluh tak cuma jadi teman pekerja kilang. Shuttlecock beterbangan di arena satu, arena dua dan kesekian. Tepuk tangan, riuh tawa, jerit haru, jadi dongeng tidur para petarung. Bulu tangkis jadi ternama, ada yang gugur dan mendekat naik ke podium. Ini Super Series, Dubai adalah tuan yang menjadi rumah.

Si pirang selalu berdiri di paling depan, lehernya tak lagi dibebat dengan entah apa namanya, yang jelas warnanya serupa kulit. Katanya, ia cedera. Lehernya sakit entah karena apa. Tapi di hadapan orang-orang, ia tampil garang. Mendengus kesal saat melakukan kesalahan. Di namanya tersisip Gideon, pahlawan masyhur karena menolak loyo sepanjang hidup.

Yang satunya lagi, berdiri di belakang si pirang. Sekali waktu saya mendekatkan mata ke arahnya, seharusnya saya senang. Lantas, benarlah kata orang-orang. Mimiknya memang membikin kesal. Entah ada berapa banyak lawan yang mengeluhkan hal macam itu. Tapi, mungkin tak hanya lawan. Siapa tahu kawannya yang satu itu, yang berambut pirang, juga beberapa kali merasakan hal yang sama. Syukur saya hanya melihatnya dari televisi. Kalau langsung, barangkali raketnya bakal saya rebut dan ayunkan ke arahnya.

Di atas lapangan itu si pirang dan si bengal berpadu. Menenangkan kawan dan menantang lawan.

Dua hari sebelumnya mereka kalah. Saya pikir mereka tak akan bisa sampai ke hari ini. Hari yang paling dekat dengan podium. Tapi, ternyata sampai juga.

Mereka semarak dalam kostum berwarna kuning. Kata orang-orang mereka serupa Minions. Awalnya, ini olok-olok. Tapi, memang tak banyak orang yang merombak olok-olok menjadi takjub. Juara dunia.

Entah siapa yang memulai. Mereka selalu saling menepukkan tangan setiap melakoni servis. Menepuk pundak kawannya tanpa bicara. Bagi sebagian orang, kata-kata memang barang mahal, tak perlu diumbar, tak ada gunanya dibuang-buang.

Sekali waktu, raket terlepas dari tangan si bengal. Ia berputar-putar sejenak. Mirip akrobat, tapi tak sampai menyentuh tanah. Barangkali, raket dan si bengal memang kawan karib. Dalam hitungan detik, tangan si bengal sudah menggenggam balik.

Si pirang berjibaku di paling depan. Pertandingan belum selesai tapi ia sudah berteriak berulang kali, tanpa kata-kata pasti. Sebagian sorak-sorai dari tribun memang untuk mereka. Tapi si pirang mafhum, tak ada sorak-sorak paling mujarab daripada yang keluar dari mulutnya sendiri.

Basa-basi menghargai lawan memang tak perlu, karena ini bukan pentas sumo. Tak ada urusan dengan santun dan hormat.

Turun minum dua-tiga menit, si pelatih datang menghampiri. Mengajak mereka untuk mempersetankan aturan dan mengenyahkan pola-pola yang rapi. “Mau depan atau belakang, siapa pun yang dapat bola, langsung sikat.” Ah, perkara sikat-menyikat memang jadi kegemaran setiap orang.

Untuk menit-menit selanjutnya, shuttlecock ditebas berkali-kali. Hingga babak-belur, karena untuk itulah mereka dibuat. Tak ada yang mau kehilangan angka, tak ada raket yang tak ingin menebasnya. Si bengal dan si pirang makin padu, langkah dan pukulannya membikin mata penonton sibuk mengejar shuttlecock. Pelan tapi mantap. Satu-dua teman berkata, “Sabar. Ladeni terus,” dan pada waktunya, kami sama-sama berseru, “Nyoh!”

Angka sudah di ujung, kemenangan sudah melambai-lambai. Si bengal tambah girang, si pirang tambah garang. Dua wakil sudah kalah kemarin-kemarin. Kami tak mau miskin akan semoga.

Mereka sampai juga di menit itu. Si pirang menjatuhkan diri ke lantai. Tidur terlentang, mulutnya terbuka berteriak lantang. Si bengal, jadi teman mendulang asa. Menekuk badan hampir bersujud, lalu berlutut berteriak sambil menarik tinju. Si pelatih ikut bersorak, memeluk mereka yang tak bosan jadi pemenang. Tribun penonton tambah semarak. Kami yang di hadapan televisi kepalang senang, berlagak jadi dia yang menggenggam raket.

Mampus kau olok-olok, diam kau sumpah serapah.

Podium sudah siap. Mereka naik ke paling atas lalu jadi kesayangan jepret kamera. Seketika wajah mereka menjadi lucu, melahirkan senyuman yang tampak dipaksa. Barangkali, podium memang membikin kikuk. Satu per satu dari kami sadar, lantas membatin diam-diam, “Tempat mereka ada di arena. Dipisah net dan berbanjir keringat.”

Tapi apa boleh bikin. Sesekali manusia memang harus berpindah. Tak lama, hanya bersinggah. Membaur dengan seremonial dan remeh-temeh publikasi. Begitu lampu redup, mari berjingkat masuk arena.

Malam itu, di hadapan raja-raja mereka berdiri. Tak ikut duduk-duduk senang menampung untung, tak larut dalam peluh bercampur minyak. Peluh mereka peluh yang lain, kaya mereka kaya yang tak habis.

Ini juara dunia, ini kali yang ketujuh.

NB: Tulisan ini berdasarkan tontonan saya atas pertandingan final Kevin/Marcus lewat televisi. Modelnya mencontoh gaya Eduardo Galeano dalam Soccer in Sun and Shadow, tulisan sepak bola terbaik yang pernah saya baca. Panjang umur, kesayangan, meski nyawa sudah tak di tangan. (Sumber foto: Badminton Indonesia)

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: