Pencarian populer

Mengulang Cerita Ibu di Lapangan Bola

Bola Sepak (Ilustrasi) (Foto: pixabay)
Saya bukan anak yang dekat dengan ibu, ada jarak di antara kami yang memang tak ingin saya pangkas. Kalau ditanya mengapa, saya juga tidak tahu. Dan saya pun tidak ingin mencari tahu apa sebabnya. Bagi saya, beberapa hal memang tak perlu dipertanyakan, apalagi dijawab. Jadi, biarkan seperti itu saja.
ADVERTISEMENT
Kesukaan saya dengan sepak bola dimulai saat saya duduk di bangku sekolah dasar, kelas enam, setahun sebelum bapak saya meninggal. Bapak saya penggila bola. Ia penggemar Manchester United. Dulu saya heran mengapa bapak saya suka sekali menonton sepak bola. Abang dan saya sama-sama tidak menyukai sepak bola sebelumnya. Kami selalu mengolok-olok bapak yang kerap molor di akhir pekan karena begadang.
Pernah sekali waktu, saya mengikuti perkemahan Pramuka zaman sekolah dasar. Tak jauh, hanya berkemah di sekolah. Tapi seingat saya, itu pertama kali saya begadang, menghabiskan jam-jam malam saya dengan bermain bersama teman sekelas. Besoknya, saya tidur seharian. Mirip tulisan Ibu Kartini, habis gelap terbitlah terang. Saya tak beranjak-anjak dari kasur mulai dari matahari terbit sampai besok paginya. Giliran bapak saya yang mengolok-olok waktu kami makan mie telur di warung kegemaran. Katanya, “Sudah tahu kan rasanya kalau begadang?” Si bapak memang canggih perkara mengolok-olok.
ADVERTISEMENT
Saya ingat pertandingan sepak bola pertama saya. Bologna melawan AC Milan. Karena itu pulalah saya jadi menyukai Milan. Belakangan saya cukup sering menyesal, mengapa tim yang saya sukai itu Milan. Milan zaman dulu satu hal, dan Milan zaman sekarang adalah perkara lain. Kalau dulu begitu hebat, kalau sekarang amit-amit setengah mati. Tapi ya apa boleh buat, urusan suka-menyukai memang seperti itu. Perkara cinta memang sering bikin embuh-embuhan. Alamak!
Sejak pertandingan itu, saya jadi senang sepak bola. Bapak saya, tentu girang bukan kepalang. Bukan hanya saya yang jadi gemar menonton bola, abang saya juga. Tapi kami berdua menyukai Milan, sementara si bapak tetap dengan Manchester United. Untung bapak saya maklum. Setiap pertandingan Milan disiarkan, dia selalu menemani. Ya, kecuali kalau dia sedang dinas di luar kota.
ADVERTISEMENT
Bapak saya yang mengenalkan saya nama-nama pemain sepak bola dan apa posisinya. Bapak saya senang bukan kepalang waktu saya memberitahu siapa pemain kesukaan saya. Paolo Maldini. Biarpun tak hubungannya dengan Manchester United, bapak setuju bahwa Maldini itu pemain tangguh. Bagi bapak, Maldini adalah manifestasi terbaik dari keberadaan seorang bek.
Sewaktu menerima rapor caturwulan (anak lama!) pertama SMP, bapak girang bukan kepalang dengan nilai saya. Lewat obrolan telepon dia memberitahu bahwa saya boleh meminta apa saja sebagai hadiah. Saya tak butuh waktu lama untuk berpikir. Saya bilang saya mau kostum Milan yang ada nama Maldini di punggungnya. Bapak tertawa. Terbahak-bahak. Terpingkal-pingkal sampai teman kantornya bertanya. Bapak sempat berkomentar pada saya; “Masa perempuan minta baju bola, sih?” Saya jawab, saya cuma mau hadiah itu.
ADVERTISEMENT
Permintaan saya ini disampaikan bapak ke teman-teman sekantornya. Kata teman-temannya, bapak sedang menuai apa yang sudah ditaburnya: gila bola. Lantas, mereka mengompori bapak untuk segera membelikan baju bola Maldini tadi. Mumpung permintaannya hanya itu. Bapak setuju, ia senang setengah mati. Benar-benar setengah mati. Tiga hari setelahnya, bapak benar-benar mati. Ia tak sempat membelikan baju tadi. Namun, kostum Maldini tadi jadi cerita favorit saya bersama bapak.
Ibu saya tak senang saya menyukai bola. Baginya, sepak bola itu permainan laki-laki. Dulu, ibu memasukkan saya les menari Bali dan piano supaya saya sedikit menunjukkan gelagat perempuan. Tapi, karena tak suka keduanya, biarpun sudah lama mengikuti les, saya tetap tak mahir-mahir. Bahkan sedikit mahir pun tidak.
ADVERTISEMENT
Karena abang dan saya seumuran, sejumlah teman-temannya jadi teman-teman saya juga. Rumah di Medan punya halaman luas. Bisa untuk bermain bola. Konturnya naik-turun. Saya dan abang berlagak jadi pemain bola yang sedang latihan mengontrol bola di lapangan yang tak layak buat bermain bola. Ya, mirip orang-orang Brasil.
Sabtu siang jadi waktu favorit kami, karena teman-teman abang datang untuk bermain bola. Saya senang betul. Saya ikut bergabung, karena jumlah orangnya memang kurang. Tapi ibu, dia sering mencak-mencak melihat saya bermain.
Ibu saya memang tak suka-suka amat bila saya mengurusi hal-hal yang ada kaitannya dengan sepak bola. Tidak pernah melarang, tapi tidak pernah menyukai.
Namun, belakangan saya sadar, ibu saya dekat dengan sepak bola yang saya sukai.
ADVERTISEMENT
Saya dan teman kantor lama pernah bercerita soal ibu kami masing-masing. Tentang ibu, kami punya rasa penasaran yang sama.
Entahlah dengan kalian, tapi kami selalu penasaran bagaimana caranya ibu-ibu kami dulu selalu bisa menemukan kami bermain sepak bola. Ibu-ibu kami sadar bahwa sepak bola sering membikin anak-anaknya abai dengan PR dan tugas mengepel rumah.
Kalau sudah disibukkan dengan sepak bola, kami jadi kepalang cerdik perkara mencari alasan untuk mangkir dari tugas harian. Sepak bola juga menambah pekerjaan ibu-ibu kami. Mulai dari tumpukan cucian yang bertambah sampai teguran dari wali kelas. Makanya, mereka sering menyusul ke lapangan tempat kami bermain.
Jengah karena ibu yang terlalu cepat datang dan menghentikan permainan, kami berpindah lapangan tanpa memberitahu. Tapi, yang membikin heran, di mana pun kami bermain, ibu-ibu kami itu selalu mampu menemukan kami. Mereka seperti memiliki radar yang kelewat canggih untuk menemukan keberadaan anak-anaknya.
ADVERTISEMENT
Tidak peduli sejauh apa kami bermain, teriakan "PULAAANG!" dari mulut ibu-ibu kami selalu terdengar dari pinggir lapangan. Dan seketika, kami harus meninggalkan lapangan. Belakangan saya sadar, wasit semasyhur Pierluigi Collina dan Howard Webb sekalipun, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan teriakan ibu-ibu kami. Benar-benar the law of the game!
Kejadian ini tak hanya terjadi satu atau dua kali, tapi setiap kali kami membandel, jadi tak mungkin disebut sebagai kebetulan. Agaknya, sejauh apa pun jarak yang diinginkan si anak seorang ibu akan selalu datang dan mendekat.
Saya pernah menulis laporan pengamatan salah satu SSB di Bandung. Editor tidak menyuruh saya untuk mengamati pelatih dan murid-muridnya, tetapi apa yang dilakukan oleh ibu-ibu yang menonton anak-anaknya di pinggir lapangan.
ADVERTISEMENT
Di banyak pertandingan yang pernah saya tonton, bench selalu dilengkapi dengan kursi-kursi empuk -kalaupun tak empuk, pasti layak- untuk para tim kepelatihan dan para pemain. Namun bench yang saya lihat di lapangan SSB ini, yang ada cuma satu bangku reot. Rupanya mirip bangku-bangku di warung makan pinggir jalan.
Sudah kelewat ringkih, yang duduk di bench juga bukan pelatih dan pemain-pemainnya, tapi para ibu yang menunggui anak-anaknya bermain. Di bench ini, mereka heboh bukan kepalang. Dandanan dan lagaknya membikin geli. Seorang dari mereka menyeletuk lantang saat pelatih memberikan instruksi kepada seorang anak. Katanya, “Jadi bek wae, lebih alus!”
Si pelatih memalingkan wajahnya sejenak ke arah si ibu. Pandangannya bingung. Kata orang, surga itu di bawah telapak kaki ibu. Kalau tak menurut omongan ibu, urusannya bisa menyoal dunia akhirat. Bahaya.
ADVERTISEMENT
Itu baru yang satu, yang lain punya celetukan lain. “Pisangnya tambah! Heh, beli lagi!” Ibu yang satu ini menyuruh seorang anak untuk meninggalkan lapangan latihan untuk membeli pisang. Padahal, mereka sedang menanti lawan untuk pertandingan antarsekolah sepak bola. Luar biasa. Tak cuma menggantikan posisi suporter dan pelatih, ibu-ibu juga sanggup menjadi tim medis lapangan. Kata si ibu memang benar, pisang memang jadi makanan penggenjot energi yang baik bagi para atlet yang hendak bertanding.
Mereka, para ibu, memang tidak bermain. Mereka tidak turun ke lapangan, menendang bola pun mungkin tak biasa. Tapi kalau dipikir-pikir, tak ada yang lebih dekat dengan sepak bola si anak daripada seorang ibu, termasuk ibu saya. Bentuknya bisa bermacam-macam. Terkadang muncul dalam rupa persetujuan, kadang mengambil wujud penolakan.
ADVERTISEMENT
Sama seperti dengan bapak, saya juga tidak punya banyak cerita dengan ibu. Cerita tentang ibu dan sepak bola saya ini adalah pengulangan, serupa hubungan saya dengan ibu. Ia adalah pengulangan dari penerimaan dan permaafan. Pada setiap detailnya, saya menemukan rangkaian yang saling menjalin, yang membentuk sebuhul pengertian tentang bagaimana caranya meresponi kesenangan dan keganjilan yang datang berkali-kali.
Cerita tentang ibu memang selalu begitu. Ia menjadi cerita yang saya ulang-ulang, kejanggalan yang berubah menjadi sebentuk pengertian yang saya tenteng-tenteng seumur hidup.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80