Pencarian populer

Pirlo

Setiap kali menyaksikan permainan Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso tenggelam dalam keseriusan yang amat sangat. Seketika, secara cermat ia mempertanyakan apakah ia cukup layak untuk dipertimbangkan sebagai pesepak bola atau tidak.
ADVERTISEMENT
Pirlo, pesepak bola yang penuh perhitungan dan kelewat serius. Emosi yang meluap-luap jarang tertangkap sorot kamera. Selebrasi golnya cenderung garang dan nihil kesan jenaka. Kekalahannya ditanggung dalam sedu-sedan yang tak berisik. Entahlah bila di luar lapangan. Katanya dalam sejumlah wawancara, ia tergolong orang yang supel bila sedang tak ada sangkut-pautnya dengan sepak bola. Dan seperti kebanyakan orang supel lainnya, pastilah gemar melempar canda. Tapi yang dilihat kebanyakan orang bukan itu. Di atas lapangan, Pirlo kerap memainkan sepak bolanya dengan dingin.
Ketimbang berkata-kata, Pirlo lebih memilih berpikir. Agaknya sesaat setelah menjadi pesepak bola, Pirlo sudah cukup terbiasa untuk menunjukkan bahwa sepak bolanya lahir dari pemikiran. Ia tak punya urusan apa pun dengan hingar-bingar akibat mengumbar kata-kata.
ADVERTISEMENT
Detik-detik sebelum bola ada di atas kakinya menjadi saat paling khidmat bagi sepak bola ala Pirlo. Di waktu-waktu seperti ini, matanya begitu awas. Ia berjaga-jaga dalam kesiagaan penuh. Keningnya berkerut. Gestur yang menjadi ciri khas orang yang sedang berpikir. Saya membayangkan ia sibuk menimbang-nimbang dalam hati. Mana pemain yang siap, mana yang tak siap. Otaknya tak terdiri dari sekumpulan sel manja. Ia berhitung cepat. Mental dan kepercayaan diri ikut terpompa naik, walau ia tahu secara pasti ia tak boleh meledak, hanya meletup-letup. Maestro tak butuh ledakan, maestro butuh hentakan.
Dalam hitungan yang tak panjang, bola meluncur lewat kakinya. Juru kamera tahu bahwa kita tak sedang ada di stadion, terbatas jarak dan waktu. Lalu ia memandu kita, sorot kamera langsung diarahkan kepada para penyerang. Dan seketika itu juga kita menjadi sama dengan mereka yang ada di stadion. Menjadi orang-orang yang mengarahkan pandangan kepada penyerang karena percaya pada akurasi perhitungan Pirlo. Maestro.
ADVERTISEMENT
Pirlo melakoni laga terakhirnya sebagai pesepak bola saat New York City FC melawan Colombus Crew , 6 November 2017 lalu. Pertandingan ini memang ditutup dengan kemenangan 2-0 New York City. Namun tetap saja tak meloloskan mereka dari babak play-off semifinal Eastern Conference akibat dihajar 1-4 di kandang Colombus Crew pada putaran pertama.
Pirlo masuk di menit 90. Sekejap sebelum pertandingan berakhir. Masuknya Pirlo tak meriah. Tepuk tangan yang didapatnya tak jauh berbeda seperti yang didapatnya di laga-laga biasa. Jangan bandingkan saat ia meninggalkan Juventus. Hormat haru menjadi pemandangan di seantero stadion. Suporter, penonton, lawan dan kawan menaruh hormat. Mengangkat topi setinggi-tingginya. Semua ingin dipeluk dan memeluk Pirlo. Tak ada yang mau ditinggalkan maestro.
ADVERTISEMENT
Namun apa boleh bikin, Turin adalah satu hal dan New York adalah hal lain.
Untuk menyaksikan magis Pirlo seharusnya tak ada momentum lebih tepat dibandingkan dengan pertandingan terakhir ini. Magis di tengah-tengah waktu yang sempit pasti bakal punya pesona yang berlipat. Pesona yang membuatnya tak mudah dilupakan. Terngiang-ngiang di kepala, menghasilkan foto yang aduhai di surat-surat kabar dan kenang-kenangan yang tak bisa menjadi terlalu lampau untuk diceritakan.
Bayangkan bila ia mencetak gol dari tendangan bebas yang jadi kebesarannya. Bayangkan bila Pirlo melayangkan tinjunya ke udara, ke arah para penonton lalu berteriak garang satu-dua menit sebelum peluit panjang dibunyikan.
Tapi magis yang seperti itu tidak terjadi. Pirlo terpeleset saat memberikan umpan pertamanya. Tawa menggeliat di dalam stadion. Komentator bertutur jenaka. Kawan-kawannya tetap berlari mencari celah menembus pertahanan lawan. Patrick Vieira, sang pelatih, ikut terpeleset beberapa saat kemudian. Stadion riuh lagi oleh tawa. Komentator bertambah girang. Laga perpisahan semakin jenaka.
ADVERTISEMENT
Menyaksikan menit-menit terakhir Pirlo sebagai pesepak bola semacam menyaksikan komedi. Bukankah wajar bila adegan semacam ini muncul di pertunjukan atau film komedi? Tokoh yang satu jatuh, terdengar tawa penonton –lantas tokoh yang lain malah ikut terjatuh. Biasanya yang terjatuh akan berlagak tegar. Wajahnya tetap datar, tatapannya serius. Bila terjadi di dunia nyata, gelagat ini semacam menjadi pernyataan tersirat “sakitnya tak seberapa, tapi malunya itu”. Dan yang menonton bakal semakin geli.
Dalam esainya yang berjudul “Lantas Apa Salahnya Ketawa?”, Remy Sylado menjelaskan seperti apa komedi yang sebenarnya. Aktor dan aktris komedi seharusnya mampu menggunakan tubuhnya untuk menafsir naskah. Hasil tafsirannya itu bekerja akibat padu padan kata-kata lucu dan gerak-gerik jenaka. Namun, tujuannya bukan untuk menertawakan si aktor atau aktris. Gelak tawa para penonton seharusnya muncul karena apa yang dipertunjukkan aktor atau aktris tersebut harus menjadi gambaran dari semua orang yang menonton pertunjukan itu.
ADVERTISEMENT
Komedi yang seharusnya bukanlah pertunjukan yang menyajikan hal-hal yang membuat penontonnya menertawakan aktor dan aktrisnya semata, tetapi menertawakan apa yang sebenarnya ada dalam hidup si penonton: kesalahan, kebebalan ataupun kebodohan si penonton. Hal-hal yang sedapat mungkin dicegah agar tak terjadi, tapi terjadi juga. Apa-apa yang awalnya disepelekan, namun ternyata muncul dan cukup merepotkan.
Sebagai pesepak bola, apa yang tak dihitung Pirlo? Hitungan angka sekecil apa pun punya makna lebih untuknya. Katanya, jika model asal Israel, Bar Rafeili, berbaring telanjang di hadapannya –ia tak akan menyia-nyiakan barang 15 menit pun untuk terpaku dan melongo.
Obsesi menahunnya akan tendangan bebas Juninho Pernambucano membuatnya memperhitungkan waktu paling pribadi di dalam toilet sebagai kesempatan untuk mengalami eureka. “Bola harus ditendang dari sisi bawah menggunakan tiga jari pertama kaki Anda. Jaga kaki Anda tetap lurus, relaks, dan selesaikan dalam satu gerakan;” seperti itulah ia menjabarkan rahasia tendangan bebas Juninho.
ADVERTISEMENT
Bagi Pirlo sepak bola dan menjadi pesepak bola itu perkara serius. Tak ada yang kelewat remeh untuk tak diperhitungkan. Aih, apa tidak capai terus-menerus melakoni sepak bola dengan cara keren seperti itu?
Di penghujung kariernya sebagai pesepak bola, Pirlo memunculkan fragmen berbeda. Konyol. Menggelitik. Durasinya memang tak seberapa jika dibandingkan dengan keseriusan yang selama ini kerap ditampilkannya saat berada di atas lapangan. Tapi, barang sebentar pun, yang lucu tetap saja lucu.
Lantas, durasi yang tak panjang ini, momen terpeleset yang tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pencapaian Pirlo di ranah sepak bola ini, seharusnya menyadarkan bahwa sepak bola memang seperti itu. Tak peduli seberapa cerdas dan intuitif seorang pesepak bola, akan selalu ada hal yang meleset.
ADVERTISEMENT
Dengan segala kejeniusannya, Pirlo boleh menghitung secara detail apa-apa saja yang harus ia lakukan agar 10 tahunnya bersama Milan tak menjadi hitungan angka belaka. Tetapi, saat kapal Titanic itu (perumpamaan ini dapat ditemukan di bab II dalam buku I Think Therefore I Play) menghantam bongkahan es, ia tak diperhitungkan untuk naik ke sekoci.
Sejak bermain di tim junior Brescia, Pirlo boleh saja paham bahwa ia jauh lebih baik daripada siapa pun yang ada di timnya. Tetapi sampai hari ini, tetap saja Ballon d’Or tak mau berjauh-jauhan dari Messi dan Ronaldo. Pirlo sah-sah saja mempertahankan citranya sebagai maestro, genius sepak bola--namun, bukannya masuk pada menit 21, ia justru masuk pada menit 90 di laga terakhirnya.
ADVERTISEMENT
Setiap orang punya cara sendiri untuk mengakhiri suatu periode. Ada yang mengakhiri dengan diam-diam. Ada yang memilih untuk makan-makan dan bercanda dengan teman-teman terdekat. Ada yang sibuk menyusun daftar apa-apa saja yang harus dikerjakan setelahnya. Ada pula yang tak ambil pusing lalu mengambil libur panjang sendirian.
Lantas, Andrea Pirlo mengakhiri kariernya sebagai pesepak bola dengan memantik tawa.
Sumber foto: www.nycfc.com
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80