Pencarian populer

Mengadili Raiola dan Label "Agen Rakus" yang Menempel Padanya

Raiola memperlakukan kontrak sebagai pertandingan. Segala hal yang ada di dalam kontrak harus ia menangkan. Bursa transfer memang menyenangkan buat diikuti. Kejutan-kejutan tentang siapa yang datang, tinggal dan pergi selalu menjadi daya tarik. Namun bagi pesepak bola, bursa transfer tak pernah jadi hal yang sesepele itu. Ia kelewat penting untuk sekadar jadi kejutan yang menyenangkan. Masa depan mereka taruhannya. Dan sebagai agen, Raiola punya tugas untuk memenangkan pertaruhan macam ini.
ADVERTISEMENT
Yang ditangani Raiola tak melulu transfer-transfer yang memindahkan seorang pemain dari satu klub raksasa ke klub raksasa lainnya. Tahun 1998, Rody Turpijn tahu bahwa umur kariernya sebagai pesepak bola tak akan lama lagi, padahal waktu itu umurnya baru 20 tahun. Umur 13 tahun, van Gaal meyakinkannya untuk masuk akademi Ajax. Ia mulai bermain di tim utama pada umur 17 tahun. Namun selama tiga musim ia hanya bermain enam kali. Dan di tahun 1998 itu, satu-satunya klub yang menaruh minat padanya adalah De Graafschap.
Gaji yang ditawarkan De Graafschap tak bisa dibilang buruk, karena jumlahnya juga lebih besar daripada apa yang dihasilkannya di Ajax. Namun Raiola menolak angka tersebut. Sebagai agen dia tahu, klub yang sekarang bernegosiasi dengannya masih dapat memberikan angka yang lebih tinggi. Impresi yang diberikan Raiola melalui ceritanya tentang transfer Nedved dan gelagatnya untuk segera mengakhiri pertemuan jika tak mau menaikkan nilai gaji pada akhirnya membuat manajemen De Graafschap ciut.
ADVERTISEMENT
Turpijn memang tak mengungkapkan besaran transfer dan gajinya di De Graafschap. Namun menurutnya, gaji yang diterimanya tak hanya cukup untuk melanjutkan hidup selama empat musim di klub barunya ini. Apa yang dihasilkannya sesuai kontrak tersebut sanggup mengamankan masa depannya, walaupun ia memutuskan untuk pensiun dini sebagai pesepak bola dan melanjutkan pendidikannya di University of Amsterdam.
Yang dibuktikan lewat cerita transfer Turpijn dan De Graafschap ini bukan tentang rakus atau tidak rakusnya Raiola sebagai agen. Ia membuktikan bahwa transfer sekecil apa pun sanggup mengubah kehidupan seseorang.
Tak semua pesepak bola dianugerahi kecerdasan finansial dan pemahaman legal. Mereka yang disebut genius di atas lapangan bisa jadi terseok-seok di atas kertas. Mereka boleh mengamankan gawang dari tendangan penalti, tapi belum tentu mampu mengatur keuangan untuk menyelamatkan masa depan mereka.
ADVERTISEMENT
Mustahil untuk tak membicarakan uang di era sepak bola modern. Loyalitas dan kecintaan kepada klub boleh dielu-elukan oleh suporter. Sementara para pesepak bola itu, mereka tak mungkin hidup cuma dari cinta dan loyalitas. Perkara-perkara romantisme belaka mungkin bisa membuat mereka bertahan hidup, tapi yang jadi pertanyaan, apakah hidup seperti itu adalah hidup yang layak? Toh, mereka menyebut dan disebut sebagai pesepak bola profesional. Mau tidak mau, pembicaraan tentang profesional adalah pembicaraan yang menyangkut uang. Ia berbicara tentang pekerjaan yang dibayar.
Jerry Maguire dan catchphrase-nya. (Foto: Giphy)
Cerita-cerita tentang pesepak bola yang jatuh miskin dan hidupnya tak karuan di masa pensiun mereka bukan barang baru di ranah sepak bola. Agen seperti Raiola juga punya tugas agar klien-klien mereka tak perlu menjalani masa tua seperti itu.
ADVERTISEMENT
Lantas, jika berangkat dari kepentingan mengamankan masa depan, seharusnya saga transfer Donnarumma tak perlu menjadi keterusterangan yang terlampau mengejutkan dan memuakkan.
Milan memuja Donnarumma karena sedang nihil pahlawan. Semacam tak ada lagi yang bisa diandalkan. Siapa pun yang datang lewat bursa transfer mendapat elu-elu yang meriah. Bukan kenapa-kenapa, tapi karena mereka berharap orang yang datang itu bisa jadi pahlawan. Menjadi penyelamat klub yang sedang butut-bututnya.
Donnarumma kala menghalau sepakan penalti. (Foto: AK Bijuraj/Getty Images)
Lantas, Mihajlovic membikin pertaruhan besar. Donnarumma dibiarkannya untuk bermain di skuat utama. Waktu itu umurnya masih 16 tahun. Kelewat muda untuk seorang pemain inti. Tapi siapa yang tahu? Toh, Paolo Maldini juga memulai debut di usia yang sama.
Dan benar saja, kehadiran Donnarumma ibarat dua-tiga botol bir dingin sepulang kerja. Musim 2015/2016, dalam 30 penampilan Serie A, ia meraih 10 kali nirbobol, sementara di musim 2016/2017dalam 38 pertandingan -yang artinya ia bermain penuh selama semusim- 12 kali catatan nirbobol berhasil ia berikan buat Milan di kompetisi yang sama.
ADVERTISEMENT
Donnarumma tak hanya menjanjikan dari segi teknikal. Untuk beberapa saat, orang-orang menilai loyalitasnya patut diperhitungkan. Mencium emblem beberapa saat setelah mengamuk kepada wasit karena merasa kesebelasannya dirugikan oleh keputusan yang tak masuk akal. Donnarumma jadi harapan banyak orang. Satu-satunya pesepak bola yang konsisten tampil menjanjikan. Masih muda. jebolan akademi Milan. Orang Italia asli. Makanya, berlebihankah bila keberadaannya yang seperti ini memantik angan-angan akan lahirnya bintang lapangan dengan kesetiaan yang teramat sangat?
Saya membaca sejumlah wawancara yang melibatkan Paolo Maldini sebagai narasumber. Hampir semua wawancara itu mengangkat loyalitas Maldini terhadap Milan. Maldini bukannya tak memiliki apa-apa yang dibutuhkan oleh seorang pesepak bola untuk berpindah dan main di klub yang jauh lebih besar. Kemampuan taktikal, kharisma, kepemimpinan, pengalaman, nama baik, fisik yang prima, gelar juara. Maldini punya semuanya, tapi ia memilih tunduk kepada Milan, apa pun keadaannya dan seberharga apa pun ia buat klub yang ingin meminangnya.
ADVERTISEMENT
Lalu muncul isu Donnarumma tidak akan memperpanjang kontrak di Milan, sebagian besar Milanisti berang. Mereka berpendapat bahwa Donnarumma sudah menolak Milan. Donnarumma seharusnya berterima kasih karena sudah dipercayai untuk masuk ke dalam skuat utama. Sebagian besar orang menganggap bahwa Donnarumma harus mengabdi lebih lama kepada Milan.
Berbagai macam komentar sejenis muncul seiring dengan cerita Donnarumma di bursa transfer musim ini. Namun ada satu komentar berbeda yang bagi saya cukup menggelitik. Costacurta, mantan pesepak bola Milan itu, berkomentar seperti ini; "Bukan hal yang mengejutkan jika Donnarumma ingin pindah ke klub lain. Sama seperti setiap jenius yang ingin menjadi profesor di Harvard atau pengacara handal yang ingin bergabung dengan firma hukum ternama, seorang pesepak bola dengan kemampuan mumpuni juga pasti ingin bermain di klub papan atas."
ADVERTISEMENT
Tak semua orang ingin jadi pahlawan, tak semua pesepak bola punya hasrat menjadi anak baik-baik macam Maldini. Kalaupun Donnarumma pada akhirnya memutuskan untuk setia dan tak berpindah klub, adakah jaminan bahwa ia tak akan menerima ironi seperti yang dialami Maldini?
Atau lebih mudahnya, jika mereka yang berang itu mendapatkan tawaran pekerjaan di perusahaan dengan jenjang karier dan reputasi yang jauh lebih menjanjikan serta gaji yang lebih tinggi, maukah mereka berkata tidak? Saya berulang kali melihat catatan bagian personalia kantor, kebanyakan dari mereka segera belajar untuk menulis surat pengunduran diri.
Jika dalam sepak bola menggiring bola adalah salah satu hal yang harus dilakukan untuk mencetak gol, maka pekerjaan Raiola juga serupa demikian. Pada dasarnya yang menjadi tugasnya adalah membantu pemain menggiring kariernya masing-masing.
ADVERTISEMENT
Secara taktikal, ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk menggiring bola. Ada yang menggiring bola dengan kecepatan penuh macam Gareth Bale, ada yang cenderung mengandalkan kekuatan atau ada pula yang gemar mengubah kecepatan dan arah. Teknik yang terakhir barangkali yang paling sulit karena membutuhkan kekuatan otot yang lebih besar. Pemain yang punya kecenderungan menggiring bola seperti ini, tak akan selalu berlari dalam kecepatan penuh. Ia akan menurunkan kecepatan, berhenti atau bahkan mengubah arah. Kekuatan fisik macam ini membikin seorang pemain dapat melakukan gerakan-gerakan tak terduga dengan kecepatan yang tinggi pula. Dan tentunya akan sangat menguntungkan jika lawan tak siap.
Katakanlah segala macam keributan yang terjadi adalah bagian dari skenario transfer Donnarumma. Apa yang dihadapi Donnarumma bukan perkara mudah. Pesepak bola bau kencur, baru berlaga di skuat utama satu-dua musim, pemain yang tadinya begitu dipuja-puja, diamuk sedemikian rupa oleh suporter. Jika tak punya “stamina” yang kuat Donnarumma bukannya tak mungkin sudah habis. Tapi toh, sekarang dia mendapatkan kontrak bersama Milan, dengan gaji 6 juta Euro per tahunnya. Dan kalau ini benar-benar bagian dari taktik menggiring bola tadi, jelas keduanya berhasil. Setidaknya sampai sekarang, karena sepak bola memang sering tak tertebak, bukan?
ADVERTISEMENT
Dalam hubungan kerja sama agen dan pemain, ada dua orang yang menggiring karier. Jika agen adalah orang yang paling tahu dan yang bertugas menyelesaikan urusan-urusan pemain di luar lapangan, tentulah si pesepak bola harus mengikuti sugesti agen. Dan sebaliknya, karena kepentingan pesepak bolalah yang dibela di sini, tentunya agen harus paham benar apa yang dibutuhkan dan diinginkan kliennya. Mereka harus punya arah dan koordinasi yang sama dalam menggiring karier agar dapat mencetak gol. Karena hal inilah, mau tidak mau, pesepak bola harus meletakkan sepak bola sebagai salah satu bagian terpenting dalam hidupnya.
Dari segala macam cerita tentang klien Raiola, Balotelli adalah salah satu yang tergagal. Hal ini pun diakui oleh Raiola. Bagi Raiola, Balotelli adalah satu dari sejumlah pemain yang tak menempatkan sepak bola sebagai pusat hidupnya. Kesalahan Raiola adalah membiarkan Balotelli meninggalkan Manchester City dan bermain di Milan.
Musim ini, musim terbaik Balotelli. (Foto: Reuters/Eric Gaillard)
ADVERTISEMENT
“Balotelli adalah pesepak bola yang sering terdistraksi. Seharusnya ia mencapai sesuatu, bukannya jatuh cinta,” Barangkali Balotelli terlalu mencintai Milan, terlalu menyukai negeri tempat ia dilahirkan. Mungkin segala hal yang dimilikinya di masa kecil, di masa lalu, diperamnya sedemikian hebat –sampai apa yang bisa saja dimilikinya di masa depan sebagai pesepak bola tak lagi menjadi begitu penting.
Bagi Raiola, seberbakat apa pun pesepak bola, ia tak akan bisa jadi besar jika tak menempatkan sepak bola di tempat utama. Karier klien –termasuk bagaimana kehidupan mereka di masa depan selalu menjadi perihal penting bagi Raiola. Entah itu lebih penting, sama penting atau bahkan tidak lebih penting daripada gelontoran uang yang ia dapat atas jasanya –selalu ada kata penting jika berbicara tentang karier seorang pemain.
ADVERTISEMENT
Bagi Raiola, karier kliennya jauh lebih penting daripada klub. Peduli setan dengan loyalitas dan segala macam yang diteriakkan suporter. Barangkali pengertian yang semacam inilah yang membikin gelar rakus itu melekat rapat-rapat pada Raiola. Cerita-cerita tentangnya adalah cerita yang mengangkat ketamakan, yang dihayati dengan kecaman dan olok-olok adalah harga yang pantas atas segala sesuatu yang diterima Raiola.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80