Pencarian populer

Richard

Richard tak sekadar sendiri, ia memangkas jarak dengan apa-apa yang membuatnya jauh dari kesendirian.
ADVERTISEMENT
Usia Richard 42 tahun, tapi ia masih lajang. Kata tetangganya, Richard itu bujang lapuk. Pernah, sekali waktu Richard jatuh cinta. Jatuh sejatuh-jatuhnya.
Kalau tidak salah, nama perempuan itu adalah Maya. Tapi, cinta mereka kandas akibat persoalan beda agama. Apa mau dilacur, orang tua tak setuju. Lantas, Richard menutup hati sampai di usia segitu.
Bagi Richard, pekerjaan adalah teman karibnya. Saking karibnya, ia menolak untuk berjauh-jauhan dengan pekerjaannya. Rumah dan kantor Richard sangat dekat, bersebelahan. Temboknya pun menjadi satu.
Namun, sedekat apa pun ia dengan 'temannya' itu, Richard tahu apa yang harus dilakukannya pada pekerjaan. Ia menolak untuk tinggal di kantor. Padahal, bisa saja ia tinggal di lantai dua. Toh, kantor itu bentuknya ruko.
ADVERTISEMENT
Richard pun tak peduli, sedekat apa pun jarak rumahnya dengan kantor, ia tetap berdandan necis saat bekerja. Seandainya saya jadi Richard, saya, sih, bakal pakai piyama saat bekerja di kantor.
Richard adalah bos di kantor itu. Usaha itu adalah rintisan orang tuanya. Namun, setinggi apa pun posisinya di sana, disiplin waktu adalah segalanya. Ia bakal marah dan jadi cerewet tak karuan saat waktu karyawannya terlambat sedikit saja.
Intinya, Richard dan pekerjaannya jadi teman yang awet karena ia memperlakukannya dengan pantas. Ada berapa banyak pertemanan yang hancur karena saking akrabnya, seseorang justru bersikap seenaknya dengan temannya itu?
Richard sangat menyukai sepak bola. Baginya, sepak bola adalah pelarian. Di fragmen-fragmen awal, Richard memutuskan untuk menonton pertandingan bersama teman-temannya karena ia kesepian.
ADVERTISEMENT
Bagi sebagian orang, sepak bola adalah tempat yang membikinnya bisa merasakan kemenangan sekali saja dalam hidupnya. Dalam lima hari kita sudah kalah, babak-belur dihajar hidup, tapi saat tim yang kita sukai menang, kemenangan itu bakal juga bakal menjadi milik kita.
Sepak bola bagi Richard adalah nostalgia dan romantis. Dalam percakapannya dengan seseorang yang sudah jadi temannya sejak bersekolah, mereka bercerita tentang sepak bola zaman kanak.
Serupa kita, sepak bola mereka di zaman itu adalah sepak bola yang mempersetankan banyak hal. Ia jadi perkara yang manis buat diingat-ingat karena kesederhanaannya. Gawang dari sandal jepit, muntab saat bola menggelinding ke kolong mobil, azan magrib yang menghentikan pertandingan, ataupun lagak seperti pemain bintang saat berhasil mencetak gol.
ADVERTISEMENT
Bagi Richard, sepak bola adalah kesukaan yang tak kalah oleh zaman. Dan ia mempertahankan kesukaannya sebagai kesukaan belaka.
Di rumah, Richard tinggal sendirian. Dindingnya penuh dengan foto keluarga dan leluhurnya. Saya pikir, alasan foto-foto itu tetap ada bukan semata-mata karena hormat dan tradisi, tapi karena masa lalu menjadi tempat singgah paling aman buat Richard.
Rumah itu benar-benar menihilkan jarak antara Richard dengan kesendirian. Di dalam rumah itu, Richard bakal benar-benar terputus dengan dunia.
Saat tidur, Richard dengan seenaknya memakai singlet dan kolor yang sudah sobek-sobek. Padahal, dia itu orang berduit. Apa susahnya, sih, beli celana boxer yang gemas-gemas? Adegan garuk-garuk kelamin saat bangun tidur pun jadi penanda, di rumah itu hanya ada Richard.
ADVERTISEMENT
Keterputusan Richard dengan dunia luar juga muncul dari adegan memutar lagu dari piringan hitam. Ia tak kenal Spotify dan Youtube. Lagunya pun lagu zaman lampau macam Hidupku Sunyi yang dinyanyikan oleh The Mercy’s. Itu jadi satu-satunya lagu Richard, ia tak mencari lagu lain.
Hewan peliharaan Richard adalah kura-kura tua. Ukurannya besar amat. Bukannya menggemaskan, sosok kura-kura itu jadi sedikit seram di mata saya.
Kura-kura berumur panjang, mungkin Richard tak ingin kehilangan. Bisa jadi, justru Richard-lah yang mati duluan daripada kura-kuranya itu. Bila itu memang terjadi, keuntungan ada di tangan Richard, ia tak perlu menangisi satu-satunya makhluk hidup yang jadi teman di rumahnya itu.
Itu alasan pertama. Yang kedua, barangkali, kura-kura itu bukan hewan yang ramah. Kebanyakan orang akan memilih anjing atau kucing sebagai peliharaan.
ADVERTISEMENT
Alasannya, dua hewan ini cukup memahami manusia. Tak jarang, orang-orang menyebut peliharaan anjing dan kucingnya sebagai teman karena mereka mengusir kesepian si tuannya. Tingkahnya jenaka dan harus diperhatikan sedemikian rupa, membikin orang-orang lupa akan kesepiannya.
Namun, Richard tak begitu. Ia memilih untuk menikmati kesendiriannya. Barangkali, kesendirian itu jadi tempat yang aman buat Richard. Lantas, kura-kuralah yang dipilihnya. Mana ada kura-kura yang tingkahnya jenaka. Richard tak butuh teman untuk membuatnya lupa bahwa ia sendirian, ia butuh teman yang membikinnya betah tinggal dalam kesendirian.
Lantas, datanglah orang baru dalam kehidupan Richard. Namanya Arini, perempuan pula. Hadeh.
Pertemuan mereka pertemuan yang terpaksa. Salah satu teman nonton bareng Richard bakal menikah. Temannya itu bertaruh bersama teman-teman yang lain, Richard bakal datang sendirian.
ADVERTISEMENT
Richard kepalang gengsi, ia terlanjur bilang bahwa sebenarnya ia punya pacar, tapi memang tak pernah dibawa-bawa. Mati kau, Richard.
Akhirnya, Richard menggunakan jasa semacam biro jodoh yang menyewakan pasangan. Bisa untuk sebulan atau lebih. Ia menggunakan jasa itu supaya punya pasangan saat datang ke pernikahan temannya itu.
Richard mendapatkannya, Arini-lah nama orang itu. Benar saja, di pesta pernikahan itu, Arini memainkan perannya dengan piawai.
Sebenarnya, Richard tak butuh jasa Arini sehabis pesta. Ia bermaksud membayar Arini dan ongkos taksinya. Tapi, kata Arini, ia terikat kontrak.
Pernah teman Arini diperlakukan sama, dan ia langsung dipecat dari kantornya. Arini, sambil menangis di dalam taksi, berkata pada Richard, ia pun bakal bernasib sama bila Richard memperlakukannya seperti itu. Richard pada dasarnya sangat menghargai pekerjaan, ia pun setuju untuk melanjutkan kerja sama sampai batas kontrak, 45 hari.
ADVERTISEMENT
Arini tinggal di rumah Richard. Akhirnya, ada manusia lain yang tinggal di rumah itu. Tapi, Richard dan Arini tetap berjarak. Arini tidur di sofa ruang santai. Richard tetap di kamarnya.
Lantas, Arini pun memperlakukan Richard dengan pantas. Mulai dari memasakkan makanan macam-macam sehingga Richard tak cuma makan mie instan, hingga menemaninya menonton bola.
Arini bilang, tim favoritnya itu Newcastle United. Ia tergila-gila dengan David Ginola. Lagi-lagi cerita nostalgia dan sepak bola muncul. Kata Arini, ia suka Newcastle karena diracuni bapaknya yang memang menyukai Newcastle. Ealah, Mbak.
Puncaknya, mereka berhubungan intim. Hubungan intim mereka berutang pada setoples bagelan.
Hubungan intim menjadi penanda bahwa Richard mulai memutus jarak dengan kesendirian. Ia membiarkan seseorang masuk dalam kehidupannya. Ditandai dengan membiarkan Arini masuk dalam kamar tidurnya.
ADVERTISEMENT
Kamar tidur adalah simbol dari privasi. Hanya orang terdekat yang boleh masuk ke ruangan ini. Kalau tak punya hubungan yang cukup, maka, saat berkunjung, seseorang hanya akan sampai di ruang tamu atau ruang keluarga. Ya, paling jauh kamar mandi, itu pun harus minta izin dulu.
Kedatangan Arini dalam kehidupannya membikin Richard mulai menyentuh dunia luar. Mereka berjalan-jalan, nonton bareng, bersenang-senang di luar. Arini berkenalan dengan teman-teman Richard, Richard berkenalan dengan teman-teman Arini.
Richard pun mulai membuka diri dengan karyawan-karyawannya. Ia mulai mengajak mereka bicara dan bersikap lunak pada mereka. Tadinya, karyawan, ya, karyawan. Tak lebih, tak kurang.
Puncaknya, Richard melamar Arini. Tapi, Arini menolak. Ia pun pergi, pergi sepergi-perginya dari kehidupan Richard.
ADVERTISEMENT
Pascakepergian Arini, Richard tak lari dari dunia luar. Ia mulai 'berhubungan intim' dengan karyawan-karyawannya. Berhubungan intim di sini bukan berhubungan seks, tapi membagi hal-hal pribadi yang jadi bagian dari hidupnya.
Di film ini, keputusan itu digambarkan dengan Richard yang membagikan barang-barang pribadinya kepada karyawan-karyawannya itu. Mulai dari mesin pemutar piringan hitam, pajangan kuno bernilai sejarah, hingga mobil tua kesayangannya. Kura-kuranya itu pun dititipkan pada karyawan-karyawannya.
Sementara Richard, ia membeli motor baru. Lantas, memulai perjalanannya berkeliling negeri seorang diri.
Tapi, dalam perjalanan itu, Richard tak benar-benar sendiri. Ia tetap berkomunikasi lewat panggilan video dengan karyawan-karyawannya. Sesuatu yang saya yakin, tak pernah dilakukan Richard sebelum kedatangan dan kepergian Arini.
ADVERTISEMENT
Satu kalimat terakhir, yang sederhana, tapi mengena, yang meyakinkan saya bahwa Richard dan karyawan-karyawannya itu sudah melebur adalah omongan karyawannya yang seperti ini, "Mas Richard, pulang dong. Kami kangen."
****
Sebenarnya lumayan terlambat untuk membicarakan film Love for Sale. Film yang naskahnya ditulis oleh Irfan Ramli ini sudah tak tayang lagi di bioskop-bioskop. Tulisan yang mengulasnya pun sudah lumayan jamak.
Tapi, ini bukan ulasan film. Ini hanya tulisan tentang Richard yang jadi tokoh sentral di film ini. Sebagian ada yang saya pikirkan sendiri, sebagian ada yang saya dapat setelah membaca tulisan orang lain.
Saya tak bisa panjang-panjang, karena cuma ini yang saya tahu. Atau, jangan-jangan, bacotan saya sudah kepanjangan? Peduli setanlah, saya sedang bosan.
ADVERTISEMENT
Pokoknya, seperti itulah Richard bagi saya.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80