Pencarian populer
Bola & Sports

Sayonara

Mundurnya Gianluigi Buffon mencerabut kepastian, melahirkan tanda tanya tentang siapa yang rela dituduh sebagai biang kekalahan dan melakoni pertarungan satu lawan satu di depan gawang.

Hellas Verona memang bukan musuh bebuyutan. Tapi, tak ada laga yang terlalu sepele untuk tak diperjuangkan. Buffon siap. Ini terakhir kalinya ia bersiaga di depan gawang di Juventus Stadium.

Tulang-tulangnya bergemeretak. Kulitnya meremang. Matanya menyipit, kedua telapak tangannya ditepuk-tepukkan tanda siaga.

Pertandingan melawan Verona di Turin tak hanya menjadi laga terakhir Juventus di musim 2017/2018, tapi juga menjadi epilog dari keseluruhan cerita Buffon bersama Juventus. Atau mungkin, penutup bagi kisah Buffon sebagai pesepak bola.

Buffon menggendong anak bungsunya dan menggandeng dua anaknya yang lain saat memasuki lapangan. Sorak-sorai dan gemuruh pujian adalah irama rancak yang mengiring langkah sang bapak ke dalam lapangan.

Foto wajahnya terpampang megah di sudut tribune. Jersi-jersi bertuliskan namanya diangkat tinggi sedapatnya tangan. Legenda itu menyentuh tiang gawang Juventus untuk terakhir kalinya.

Lapangan bola terlalu luas bagi tiga bocah tadi. Namun, di hadapan ketiganya Buffon ingin mengajar bahwa akhir seperti ini hanya bisa diraih bila kau berpegang teguh pada pilihanmu seperti orang gila.

Di atas lapangan, teman-temannya merebut kemenangan. Di atas lapangan, Buffon sendirian menjaga kemenangan. Ketika tua nanti, mereka akan bercerita kepada anak-cucunya tentang kaki-kaki para penggawa yang menjamah lapangan dengan elegan. Namun, cerita tentang Buffon menyoal kaki-kaki yang menjejak di tempat rumput tak mau tumbuh.

Buffon bukan makhluk planet lain seperti yang disebut banyak orang. Ia serupa kiper lainnya yang bertanding dengan mengandalkan kecepatan refleks. Ia tak punya urusan apa-apa dengan sinar matahari kuning, karena kecepatan sistem saraf pusatlah yang menjadi sumber kekuatannya.

Orang-orang biasa membutuhkan waktu sekitar 150 hingga 300 milidetik untuk mengambil keputusan refleks. Namun, waktunya bisa lebih singkat bagi seorang penjaga gawang. Seratus milidetik, bahkan bisa lebih singkat.

Semakin dekat dengan gawang, marabahaya semakin menggeram dalam seram. Dalam satu detik, lemparan dari tepi lapangan bisa berubah menjadi tembakan ke arah gawang. Dalam waktu entah berapa detik keunggulan dapat berganti rupa menjadi kedudukan yang sama kuat.

Makanya, orang-orang bilang bahwa pendekatan terbaik bagi seorang kiper adalah jangan berpikir, tak perlu menilai ini dan itu. Bergeraklah secepat mungkin. Buanglah tubuhmu ke kanan dan kiri.

Semakin sering kau jatuh terjerembap, maka teman-temanmu akan semakin aman. Perkara menjadi kiper memang kesediaan untuk hidup dalam jerat laku masokis.

Tapi ternyata, di atas lapangan bola, pemain mana yang punya pikiran lebih kompleks daripada seorang kiper? Di depan gawang, ia mengukur ruang, menimbang keputusan ini dan itu, membaca arah bola, memberi perintah kepada barisan pertahanan.

Bila tangannya sibuk menunjuk-tunjuk satu area, maka berarti ia sedang memetakan sudut yang terbaca lawan. Saat wajahnya menegang, artinya ia sedang menentukan pilihan akan memukul atau menangkap bola.

Kata Brian Phillips, di depan gawang, seorang kiper menjadi filsuf yang tak hanya memeras otak, tapi berlomba dengan kecepatan dan bertaruh pada peluang. Pemain lain bertanding dengan gerakan cair, seorang kiper merenung di depan gawang.

Hiruk-pikuk membenci filsuf. Kerumunan suporter membenci pemikiran rumit, karena kemenangan semata yang jadi sumber keriaan.

Itulah sebabnya, penjaga gawang dibenci banyak orang. Ia menjadi yang tertuduh saat bola bersarang di gawang sendiri. Ia menjadi pesakitan saat kekalahan menjadi aib yang tak bisa dihalau dan ditepis.

Buffon menghidupi peran yang tak sedap ini selama 17 tahun bersama Juventus. Sebenarnya, ada banyak kesempatan bagi Buffon untuk pergi dan berlabuh ke tempat lain.

Alasannya juga masuk akal. Lagipula, filsuf bertahan hidup dengan bergantung pada hal-hal logis. Pada 2006, mereka harus turun kelas ke Serie B karena dinilai bersalah dalam skandal calciopoli yang juga melibatkan klub-klub papan atas Serie A.

Sebagai profesional, Buffon punya posisi tawar tinggi. Di tahun yang sama pula, ia menjadi bagian dari skuat Timnas Italia yang memenangi Piala Dunia. Toh, teman-teman setimnya kala itu juga ada yang memutuskan untuk melompat ke dalam sekoci, menyelamatkan diri atas nama karier.

Namun, Buffon bertahan. Bersama Alessandro Del Piero, Mauro German Camoranesi, Pavel Nedved, dan David Trezeguet, ia bersetia, mengerahkan daya sekuat-kuatnya untuk mengangkat kembali martabat Si Nyonya Tua.

Di hari terakhirnya, waktu berjalan lebih lambat daripada biasanya. Suporter memberi elu-elu dan sorak-sorai setiap kali ia menyentuh bola. Namun, situasi genting yang menjadi ciri khas kotak penalti menjaga jarak dengan Buffon di laga itu.

Barangkali, teman-temannya sadar ini jadi terakhir kalinya Buffon berada di rumah. Selayaknya hari terakhir, siapa pun ingin melakoninya dengan tenang. Menikmati sudut demi sudut, membangkitkan kenangan-kenangan manis tentang waktu yang tak mungkin kembali.

Lini penyerangan Juventus sibuk bekerja di garda terdepan. Berkali-kali mengancam gawang lawan, berkali-kali memberi ruang dan waktu bagi Buffon untuk menikmati Turin. Dua gol yang lahir di babak kedua berarti kesempatan bagi Buffon untuk dua kali lagi berteriak lantang dan melepaskan tinju ke udara.

Buffon adalah paradoks dari keberadaan seorang penjaga gawang. Setiap kiper dituntut untuk menjalani laga dengan tenang. Padahal, secara fisik, semua energi bersarang di dalam tubuh Buffon, di sela kedua kakinya, dalam kepala tinju yang mengacung garang.

Buffon tak ragu untuk menjadi badut. Ia menjadi simbol dari amarah yang meledak-ledak bagi seorang yang ditinggal sendirian di lapangan belakang, yang tak siap diganjar kekalahan. Berulang kali ia menuding wasit, berkali-kali ia melakoni laga dengan licik.

Di menit 63, Buffon dipanggil meninggalkan lapangan. Massimiliano Allegri meminta kiper ketiganya, Carlo Pinsoglio, untuk masuk ke lapangan dan berjaga di bawah mistar gawang.

Buffon tak melawan, ia tak meninggalkan tiang gawang sambil bersungut-sungut. Ia tahu, pada akhirnya setiap lagu akan berakhir dan setiap elu-elu akan usai.

Ia masuk ke bangku cadangan untuk terakhir kalinya. Sudut ini sering dipandang sebagai tempat bagi para pesakitan, yang tak cukup hebat untuk diperhitungkan dalam skuat dalam mengemban misi merebut kemenangan.

Namun, bagi sebagian orang, ini sudut ajaib. Tempat para pelatih meramu taktik, tempat para pemain mempersiapkan diri dan berdamai dengan luka.

Sekarang, Buffon diberi waktu untuk menikmati sudut ajaib yang telah mendewasakannya selama bertahun-tahun. Ia punya waktu untuk menyaksikan teman-temannya berlaga, menjerit kesetanan memberi semangat dari pinggir lapangan.

Buffon berjalan dengan lambat. Pelukan kepada seluruh temannya ibarat mengirim berkat kepada anak-anak muda yang akan bertarung di medan perang. Satu demi satu pula lawannya mendapat pelukan, karena Buffon sadar, yang punya tugas merebut kemenangan bukan hanya Juventus.

***

Tiga remaja memadati tribun terdepan. Ketiganya berusaha menggapai tangan Buffon, tangan yang entah berapa ratus kali mementahkan tembakan lawan, tangan yang entah berapa ratus kali menjadi pendosa karena tak sanggup menyelamatkan gawang sendiri.

Seremoni selepas pertandingan itu berlangsung khidmat tanpa kemeriahan yang dibuat-buat. Upacara itu bukan untuk merayakan keberhasilan Juventus mencapai langit ke tujuh, merengkuh scudetto dalam tujuh musim berturut-turut.

Ia ada untuk merayakan Buffon. Memberi hormat kepada sang kapten, memberi maaf untuk segala waktu buruk yang telah beranak cucu.

Seketika, orang-orang itu sadar Buffon tak akan berjaga lagi di depan gawang mereka. Serupa omongan seorang penulis, kenangan adalah fasilitas yang diberikan waktu untuk menghukum manusia.

Buffon berkeliling stadion, arena pertarungan yang sekaligus menjadi rumah baginya selama 17 tahun, untuk mengucapkan salam perpisahan. Ia melambaikan tangan dan memberikan tepuk tangan. Matanya nanar, tubuhnya membungkuk memberi tabik, gelagat paling jujur untuk menyambut sebuah akhir.

Di Turin, Buffon mengucapkan terima kasih yang berarti, saya menerima segalanya dengan kasih. Di Turin, Buffon melayangkan selamat tinggal yang berarti, saya ingin kalian selamat walau harus ditinggal pergi.

(Kredit foto: REUTERS/Massimo Pinca)

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: