Pencarian populer

Zidane, di Jerman Tahun 2006

Di Jerman tahun 2006, Zidane tetap turun gelanggang.
Sudah 11 tahun Piala Dunia itu mengingatkan kita bahwa beberapa hal memang layak buat ditutup dengan sebaik-baiknya. Zidane menjemput akhir kariernya sebagai pesepak bola dengan hebat. Ia tak mau menjadikan usia tuanya sebagai nasib tersial.
ADVERTISEMENT
Prancis dan Italia bertemu di final. Keduanya putra-putra Eropa, sedikit membikin kening berkerut karena ini Piala Dunia. Tim-tim Afrika sudah terjungkal. Asia dan Australia entah ke mana. Kelok liar lari pria-pria Latin pun terhenti sebelum menyentuh final.
Semuanya memang serba Eropa, tapi Zidane tak pernah benar-benar jadi Eropa.
Eduardo Galeano menggambarkan Piala Dunia 2006 sebagai turnamen yang penuh antitesis. Piala Dunia 2006 tidak datang dalam diam. Ia turut membawa seruan yang menolak rasisme. Semua orang punya hak yang sama. Mari mempersetankan ras, warna kulit dan agama karena mengungkit-ungkit persoalan dan pilihan personal macam itu cuma bakal membikin ruwet.
Namun Lilian Thuram buka suara. Ia tak terima dengan perdana menteri Prancis saat itu, Jean-Marie Le Pen, yang mengumbar olok-olok dengan berkata ia tidak bisa lagi mengenali tim nasional Prancis karena kebanyakan mereka berkulit hitam. Bagi Thuram, Le Pen tak lebih dari orang yang berambisi menjadi presiden tapi sama sekali tak memahami sejarah Prancis.
ADVERTISEMENT
Zidane mendiamkan orang macam Le Pen dengan caranya sendiri. Ia memimpin tim nasional Prancis sampai ke partai final. Tawanya yang ramah dan renyah ketika menyalami Ronaldo beberapa saat sebelum pertandingan tidak menjadi penanda dari kesungkanan untuk menghentikan rancak Samba Brasil. Sebelumnya ia pula yang memimpin Prancis yang mengalahkan Spanyol asuhan Luis Aragones, yang dua tahun sebelumnya mengolok Thierry Henry dengan sebutan kotoran hitam.
Zidane, barangkali adalah salah satu pesepak bola yang menjadi alasan mengapa FIFA memilih untuk menggembar-gemborkan penolakan terhadap keberbedaan di perhelatan Piala Dunia 2006 ini. Ia memang tinggal di Eropa. Membela kesebelasan dan tim nasional Eropa. Namun keberadaan Zidane bukanlah sesuatu yang pas untuk banyak hal yang ada di Eropa.
ADVERTISEMENT
Sepak bola profesional adalah sepak bola yang harus dimenangkan. Kita boleh saja mengungkit-ungkit cerita nostalgia tentang sepak bola zaman kanak. Saat hujan jadi penyemangat untuk segera turun ke lapangan. Waktu aturan offside tak sudi buat diberlakukan dan status sosial sesederhana mana yang jadi pemilik dan peminjam bola. Sepak bola yang demikian adalah sepak bola yang punya kodrat sebagai sepak bola yang dimainkan. Namun semenyenangkan apa pun ia, laiknya usia yang tak akan memuda, sepak bola tak akan kembali ke sana.
Barangkali, hal ini pulalah yang membikin kebanyakan tim tampil dengan pertahanan gerendel di perhelatan Piala Dunia 2006. Semacam menyaksikan duplikat Italia di seluruh grup dan sepanjang fase. Tapi tak ada yang salah, karena ini pula yang berhasil membikin Italia jadi juara. Pertahanan yang rapat, yang membuat lawan-lawan Italia sangat kesulitan menjebol gawang yang dikawal oleh Buffon.
ADVERTISEMENT
Tapi Zidane tetap tampil anggun. Seorang tua yang tak mau keanggunannya dijarah oleh kemudaan sepak bola yang begitu mendamba kemenangan. Saya ingat satu esai lama Zen Rachmat Sugito tentang Zidane yang seperti ini. Keberadaan Zidane tak pas dengan keberpihakan sejarah Prancis kepada orang-orang muda. Revolusi Prancis tak akan terjadi tanpa orang-orang muda yang menolak stagnasi.

Semua tahu Zidane anak imigran Aljazair. Seorang Muslim. Tinggal di lingkungan kumuh Marseille. Suka atau tidak suka, menerima atau menyangkal, Zidane memang sudah terbiasa bertahan hidup sejak kanak. Dan barangkali, tandukannya kepada Materazzi adalah cara terakhirnya untuk bertahan hidup sebagai pesepak bola.

- Saragih Marini

Prancis adalah negeri yang terbuka untuk setiap orang muda dan segala perubahannya. Namun di turnamen itu tim nasional Prancis dipimpin oleh seorang tua. Ia mengendalikan ritme tim dan tempo permainan. Ia paham kapan harus menahan bola demi memberi ruang dan waktu yang cukup kepada teman-temannya untuk naik, kapan mengalirkan bola dengan cepat untuk mencuri kesempatan saat lawan sedang ringkih-ringkihnya.
ADVERTISEMENT
Menyaksikan Zidane bermain sedemikian seperti menyaksikan Santiago dalam cerita The Old Man and the Sea pergi melaut untuk terakhir kalinya. Keberadaan Santiago tak pas dengan melankolia usia senja. Apalagi kala itu Amerika sedang ada dalam tekanan The Great Depression. Dan kita semua tahu, Ernest Hemingway, sang penulis, adalah seorang Amerika. Tapi Santiago tetap melaut dengan segala ketidaktepatannya. Orang bilang kariernya sebagai nelayan (dan juara adu panco) sudah meredup. Lebih baik ia diam di gubuk, sesekali keluar untuk minum-minum. Biarkan Manolin, yang masih muda, yang berangkat melaut. Mencari ikan, merebut tangkapan.
Kekukuhan Zidane untuk tetap turun gelanggang dengan turut membawa keanggunannya membikinnya berjarak dari sepak bola saat itu. Jarak yang mungkin dianggap sebagai ancaman buat pemain lain, termasuk Materazzi. Ancaman yang memantik pikiran untuk segera menyingkirkan Zidane. Dan apalah cara terbaik buat mematikan lawan selain memanfaatkan kelemahannya?
ADVERTISEMENT
Zidane memang anggun, tapi ia bukan Ronaldinho yang dipenuhi dengan kegembiraan saat bertanding. Ia bukan Ronaldinho yang tertawa saat diganggu lawan, dan membuat lawan tertawa saat mereka tak berhasil merebut bola darinya. Zidane bukan sang ayah dalam lagu Father and Son milik Cat Stevens. Di lagu itu, ia adalah sang anak yang muntab karena dipaksa mendengar -menerima- sejak ia dapat berbicara.
Semua tahu Zidane anak imigran Aljazair. Seorang Muslim. Tinggal di lingkungan kumuh Marseille. Suka atau tidak suka, menerima atau menyangkal, Zidane memang sudah terbiasa bertahan hidup sejak kanak. Dan barangkali, tandukannya kepada Materazzi adalah cara terakhirnya untuk bertahan hidup sebagai pesepak bola. Zidane memang sudah memutuskan untuk benar-benar gantung sepatu sehabis Piala Dunia 2006. Kariernya boleh selesai, tapi bukan berarti ditutup dengan memeram olok-olok Materazzi.
ADVERTISEMENT
Di Jerman tahun 2006, Zidane memang menuai olok-olok. Namun keberadaannya yang membuat spanduk “The Old France is a Magic” dibentangkan di salah satu sisi stadion. Usianya boleh tua. Anginnya sudah tak kencang lagi. Tapi toh, ia tetap bertiup. Zidane tetap bangun pagi. Ia bahkan bangun lebih awal. Ia mau menikmati satu hari lebih lama lagi.
Lantas, kita pun bisa menjadi Zidane.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.81