Pameran foto dan grafis Indonesia Bergerak 1900-1942
17 September 2021 15:55
·
waktu baca 22 menit

Max Havelaar: Buku Yang Membunuh Kolonialisme?

Pramoedya Ananta Toer (Pram) dalam sebuah eseinya yang berjudul “The Book That Killed Colonialism” yang terbit di The New York Times Magazine 18 April 1999--juga jadi kata pengantar terjemahan bahasa Inggris novel Max Havelaar terbitan NYRB Classics (2019)--mengklaim bahwa Max Havelaar adalah buku yang membunuh kolonialisme. Tulis Pram:
Yang dijadikan Pram sebagai bukti sejarah bahwa Max Havelaar adalah buku pembunuh kolonialisme adalah dihentikannya kebijakan Cultuurstelsel (sistem tanam paksa) dan digantikan dengan Politik Etis yang salah satu programnya adalah diizinkannya pribumi untuk memperoleh pendidikan kolonial, walau hanya pribumi bangsawan yang mendapat hak istimewa ini.
Bagi Pram, faktor “pendidikan” merupakan hal paling penting dan positif dari kebijakan Politik Etis Belanda. Karena “perluasan kesempatan pendidikan mengembalikan kepada bangsa terjajah di dunia sebuah hak yang telah secara paksa dihilangkan oleh kolonialisme Barat–hak untuk menentukan sendiri masa depan mereka.” Walaupun “bangsa terjajah” yang dia maksud hanya “sejumlah kecil orang Indonesia, terutama anak-anak dari penguasa tradisional.”
Keuntungan berlangganan kumparan+
  • Ratusan konten premium dari pakar dan kreator terbaik Indonesia
  • Bahasan mendalam dengan kemasan memikat
  • Pengetahuan, hiburan, dan panduan yang solutif untuk hidupmu
Banyak orang menganggap Max Havelaar membunuh kolonialisme karena telah menginspirasi Politik Etis. Sebenarnya tak sesederhana itu. Saut Situmorang menulis esai panjang untuk mengupas novel karangan Multatuli ini dengan perspektif pascakolonial.