Konten dari Pengguna
“Bismillah Avoidance”: Saat Menghindar Jadi Gaya Hidup dan Agama Jadi Label
31 Oktober 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
“Bismillah Avoidance”: Saat Menghindar Jadi Gaya Hidup dan Agama Jadi Label
Opini "Bismillah Avoidance" Gen Z. Analisis self-diagnosis jadi label. Menjembatani tafsir Al-Muṭaffifīn (curang) & ekonomi perilaku untuk bedah "muṭaffifīn emosional".Sawqi Saad El Hasan
Tulisan dari Sawqi Saad El Hasan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
“Bismillah, menghindar dulu ya 😌.”
Ungkapan sederhana tersebut tampak lucu, tapi itu menyimpan cermin sosial. Di tangan Generasi Z, frasa Bismillah — simbol awal dari niat baik — kini sering melekat pada tindakan menghindar: menolak komunikasi sulit, membatalkan janji, atau mundur dari percakapan emosional. Fenomena ini populer dengan nama “Bismillah Avoidance.”
ADVERTISEMENT
Sekilas itu hanya nampak seperti guyonan, tapi di baliknya ada gejala psikologis, kultural dan spiritual yang saling bertaut: kecenderungan mendiagnosis diri (self-diagnosis), konsumsi identitas, serta krisis keseimbangan antara kepedulian terhadap diri (self-care) dan tanggung jawab sosial.
Dari Attachment Theory Menjadi Budaya Diri
Dalam Attachment Theory (John Bowlby & Mary Ainsworth), gaya keterikatan avoidant muncul dari pengalaman awal: seseorang belajar bahwa kedekatan emosional bisa melukai, sehingga ia menjaga jarak.
Penelitian lanjutan (Fraley & Shaver, Annual Review of Psychology, 2016) menegaskan bahwa gaya ini bukanlah cacat karakter, melainkan respons adaptif yang bisa berubah jika hubungan sosial aman dan suportif. Namun di media sosial, konsep ilmiah itu mengalami penyederhanaan.
Banyak Generasi Z memakai label avoidant sebagai identitas: “aku memang begini, bukan salahku.” Fenomena ini menjadi semacam branding emosional dan ketika dibungkus dengan “Bismillah”, lahirlah legitimasi spiritual yang ironis: penghindaran yang tampak saleh.
ADVERTISEMENT
Leon Festinger (1957) menyebut ketegangan antara nilai dan perilaku sebagai disonansi kognitif. Dalam konteks ini, Generasi Z religius yang tahu pentingnya empati dan komunikasi tetap memilih diam, lalu menghapus rasa bersalahnya dengan menambahkan kata Bismillah.
Terjadi “penyeimbangan semu”: keyakinan tetap utuh, perilaku tetap nyaman. Akibatnya, muncullah kesalehan simbolik — ibadah terasa selesai pada tataran niat, bukan tindakan. Agama menjadi label penenang, bukan dorongan transformasi.
Timbangan Sosial yang Berat Sebelah
Dalam tafsir Al Misbah terhadap Surah Al-Muṭaffifīn (1-9), Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata al-muṭaffifīn tidak hanya berarti pedagang curang yang mengurangi timbangan.
Maknanya lebih luas: semua perilaku yang memakai standar ganda — menuntut hak secara penuh, tapi memberi hak orang lain dengan takaran minimal. Menurut beliau, celaka (wail) di ayat itu bukan hanya ancaman akhirat, melainkan kerugian sosial di dunia: hilangnya kepercayaan, rusaknya relasi.
ADVERTISEMENT
Jika diterapkan pada fenomena Bismillah Avoidance, kita menemukan pola serupa: Ingin dipahami sepenuhnya, tapi enggan memahami; Mereka menuntut ruang pribadi, tapi tak memberi ruang komunikasi. Mereka menjadi “muṭaffifīn emosional” — curang dalam timbangan batin. Mereka menuntut dan mengambil penuh rasa aman, tetapi hanya memberi sedikit kepedulian. Padahal, menurut Profesor Quraish Shihab, keadilan sosial adalah bentuk nyata dari ibadah. Dalam QS. Ar-Raḥmān 7-9 Allah berfirman:
Prof. Quraish menafsirkan “mīzān” sebagai hukum keseimbangan universal — fisik, moral dan sosial.
Manusia beriman dituntut menjaga keseimbangan (mīzān) bukan hanya di pasar barang, tapi juga di pasar perasaan: menakar empati dan kepedulian dengan adil. Di sinilah ḥablum minannās menemukan relevansinya dalam psikologi Islam: hubungan antar-manusia yang sehat adalah bukti keseimbangan spiritual.Menghindar boleh apabila itu hikmah — melindungi diri dari keburukan — tetapi menghindar karena malas berempati adalah tafrīṭ, yaitu kelalaian moral. Nabi Muhammad SAW bersabda:
ADVERTISEMENT
Cinta yang setimbang: memberi dan menerima terhadap sesama.
Surah Al-Mā‘ūn menegur mereka yang rajin beribadah tapi abai pada kebaikan kecil sosial: Cinta yang setimbang: memberi dan menerima.
Prof. Quraish menekankan bahwa mendustakan agama bisa berarti memisahkan ibadah dari empati. Ayat tersebut juga merepresentasikan tentang bagaimana seharusnya seorang manusia yang memiliki fitrah sebagai insan sosial dapat memiliki kepekaan terhadap manusia lainnya. Fenomena Bismillah Avoidance berada di ranah ini: secara ritual beriman, tapi secara sosial menghindar.
Sementara itu, Surah Al-Ḥujurāt (10–13) dengan penekanan terhadap menyeru kepada komunikasi dan rekonsiliasi:
ADVERTISEMENT
Ayat tersebut adalah terapi Qur’ani bagi mereka yang berperilaku avoidant: hadir, berdialog dan memaafkan. Bukan “menghindar demi tenang”, tetapi “hadir demi damai.”
Masuknya Perspektif Ekonomi Perilaku
Fenomena Bismillah Avoidance tidak bisa dilepaskan dari cara manusia menimbang “biaya dan manfaat” sosial — meski sering keliru dalam menaksirnya. Inilah wilayah ekonomi perilaku, cabang ilmu yang menjembatani psikologi dan ekonomi. Richard H. Thaler dan Cass R. Sunstein dalam Nudge (2008), serta Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow (2011), menunjukkan bahwa manusia sering membuat keputusan yang tampak rasional tapi sesungguhnya bias.Beberapa bias yang menjelaskan pola “menghindar dengan Bismillah” antara lain ada Loss Aversion, Status Quo Bias, Present Bias dan Moral Licensing.
ADVERTISEMENT
Loss Aversion adalah kehilangan terasa dua kali lebih berat daripada keuntungan sepadan. Bagi individu yang avoidant, risiko disakiti jauh lebih menakutkan daripada kebahagiaan karena kedekatan. Mereka memilih menjauh sebelum terluka. Selanjutnya ada Status Quo Bias – kecenderungan bertahan dalam zona nyaman. Menghindar terasa aman; berinteraksi memerlukan energi. “Bismillah menghindar” menjadi justifikasi spiritual bagi kemalasan sosial. Berikutnya yang paling sering menjadi modus, Present Bias – lebih memilih kenyamanan sesaat ketimbang manfaat jangka panjang. Diam sekarang (pada saat ini) lebih nikmat daripada dialog yang melelahkan, meski merusak hubungan esok hari. Bahkan berpotensi munculnya Moral Licensing – perasaan sudah “baik” setelah menyebut Bismillah membuat seseorang merasa tindakan berikutnya sah.
Bagi mereka yang mengucapkan Bismillah Avoidance, mereka telah menutup rasa bersalah: “aku sudah berdo'a, jadi tak apa menjauh.” Dengan kata lain, Bismillah Avoidance adalah hasil dari perhitungan emosional yang bias: manusia menakar kenyamanan diri lebih tinggi daripada nilai sosial. Tentunya, hal tersebut sama dengan pedagang curang yang “menimbang untuk diri penuh dan untuk orang lain kurang.”
ADVERTISEMENT
Dalam pandangan Islam, bias-bias tersebut menunjukkan ketidakseimbangan (mīzān). Manusia tidak hanya makhluk rasional dan makhluk sosial, tetapi juga makhluk spiritual; menimbang bukan hanya dengan akal, tapi dengan nurani. Ketika keputusan moral tunduk pada bias kenyamanan, maka terjadilah distorsi ekonomi moral: manfaat pribadi mereka maksimalkan, sedangkan nilai sosial bisa mereka korbankan. Dalam QS. An-Naḥl 90 menegaskan bahwa:
Ayat ini bukan seruan hukum, melainkan pedoman perilaku: keadilan adalah keseimbangan antara kepentingan diri dan kebaikan sesama. Fenomena menghindar (avoidant) menjadi pelanggaran keseimbangan (mīzān) bukan karena dosa besar, tetapi karena menggoyang keseimbangan relasional yang menopang kehidupan sosial.
Dorongan Halus bagi Generasi Z Muslim
Thaler dan Sunstein memperkenalkan konsep nudge — dorongan halus untuk mengubah perilaku tanpa paksaan. Dalam kerangka Islam, kita bisa menciptakan “nudge spiritual” yang menuntun Generasi Z dari avoidance menuju awareness.
ADVERTISEMENT
Beberapa contohnya: dorongan halus dalam aspek sosial, di mana media komunitas yang memberi penghargaan atas respons empatik, bukan sekadar “like” pada ironi dingin. Dorongan halus dalam aspek spiritual, untuk mengingatkan bahwa “menghindar demi tenang” tidak lebih utama daripada “hadir demi kebaikan.”. Dorongan halus dalam aspek Linguistik: mengganti jargon “Bismillah Avoidance” menjadi “Bismillah Awareness.” Dengan pendekatan lembut seperti ini, bias perilaku tidak diserang, tetapi diarahkan. Generasi Z diajak menimbang ulang “biaya sosial” dalam perspektif iman: bahwa hadir pun merupakan bentuk ibadah.
Fenomena ini menunjukkan dua jenis kesadaran modern: Reflektif — ingin memahami diri dan yang kedua Performatif — menjadikan identitas sebagai gaya hidup. Islam mengajak melampaui keduanya menuju kesadaran etik berbasis spiritual: bahwa setiap relasi adalah ujian keseimbangan. Kepedulian terhadap diri (Self-care) tanpa kepedulian terhadap kondisi sosial (social-care) hanyalah bentuk baru individualisme.
ADVERTISEMENT
Celaka bukan karena mereka tak menimbang, tetapi karena menimbang hanya untuk diri sendiri. Begitu pula manusia modern yang menimbang emosi hanya dari sisi kenyamanan pribadi. Generasi Z tumbuh dengan literasi psikologi yang tinggi dan kepekaan mental health yang baik — dua modal luar biasa. Namun keseimbangan baru muncul ketika kesadaran diri dipadukan dengan tanggung jawab sosial.
Saatnya frasa itu diubah: Bukan “Bismillah Avoidance”, tetapi “Bismillah Awareness.” Dengan nama menyebut nama Allah, aku hadir; dengan menyebut nama Allah, aku mendengarkan; dengan menyebut nama Allah, aku menimbang diriku adil terhadap sesama. Karena dalam Islam, Bismillah bukan tanda untuk mundur, melainkan langkah pertama untuk hadir sepenuh hati di hadapan manusia dan Tuhan.
ADVERTISEMENT

