Konten dari Pengguna

Smong dan Negara yang Terlalu Percaya pada Proyek

Sawqi Saad El Hasan

Sawqi Saad El Hasan

Dosen Manajemen Bisnis Syariah STEBIS Bina Mandiri Cileungsi dan Konsultan Produk Halal di Universitas Indonesia Halal Center

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sawqi Saad El Hasan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gambar kesedihan yang meliputi keluarga korban bencana banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Simeulue. Sumber: Shutter Stock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar kesedihan yang meliputi keluarga korban bencana banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Simeulue. Sumber: Shutter Stock.

Fenomena bencana di Indonesia selalu punya pola yang terasa akrab: sirine yang tidak berbunyi, koordinasi yang kacau, dan proyek-proyek besar yang penuh janji, tetapi cepat menua sebelum sempat bekerja. Kita pernah menyematkan harapan pada buoy tsunami; alat canggih yang mengapung di laut seperti mercusuar modern.

Namun, menurut laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, lebih dari separuh buoy yang ada di Indonesia pada 2012–2016 sudah tidak berfungsi—baterainya habis, komponen dicuri, atau rusak diterjang ombak. Dalam bahasa fisika, teknologi kita tunduk pada hukum entropi: semua sistem akan menuju kerusakan bila tidak dirawat. Dan perawatan, seperti biasa, masih "jauh panggang dari api" di dalam imajinasi birokrasi kita.

Di saat alat-alat modern menua sebelum matang, satu cerita tua justru tetap muda: Smong. Cerita yang diwariskan dari Simeulue ini kembali diakui dunia setelah tsunami 2004, ketika hampir seluruh warga mengungsi sebelum gulungan air tiba. Penelitian Tohoku University menemukan bahwa rasio korban tewas di Simeulue kala itu hanya single digit, jauh lebih rendah dibandingkan pesisir Aceh daratan. Bukan karena alat canggih, melainkan refleks kolektif. Gempa besar, air surut, segera lari ke bukit. Pengetahuan diwariskan lewat lagu anak-anak, bukan lewat pedoman teknis.

Rumah yang terendam banjir di Desa Latitik Kecamatan Simeulue Tengah, Kabupaten Simeulue, Aceh. Foto: Dok. Istimewa

Namun sejarah tidak berhenti pada satu kemenangan. Beberapa waktu yang lalu, banjir bandang menerjang sejumlah titik di Simeulue. Rumah-rumah hanyut, jalan terputus, ternak mati, dan warga kembali berjaga semalaman. Masyarakat—yang pernah menjadi bukti paling kuat bahwa kearifan lokal dapat menyelamatkan—kini ikut merasakan rapuhnya bentang alam yang semakin berat menahan beban.

Tentu saja perkara tersebut menjadi pengingat pahit bahwa bahkan smong—secerdas apa pun ia dalam urusan tsunami—tidak bisa sepenuhnya melindungi kita dari bencana hidrometeorologi yang sumbernya lebih dalam: hutan yang menipis, Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tertekan, dan iklim yang semakin tidak ramah.

Ketika tutupan hutan Simeulue berkurang dalam dua dekade terakhir dan intensitas hujan ekstrem meningkat, memori kolektif pun tak lagi cukup. Ingatan dapat menyelamatkan dari tsunami, tetapi tidak bisa menahan debit air yang volumenya mengalir dari bukit yang sudah semakin gundul.

Rem Ekologi yang Hilang

Ilustrasi longsor. Foto: Shutter Stock

Banjir dan longsor yang silih berganti di Sumatera Barat dan Sumatera Utara—termasuk di Simeulue yang terkenal dengan Smong itu sendiri—adalah pertanda bahwa “rem” ekonomi kita benar-benar sudah haus. Banyak masyarakat adat Indonesia sebenarnya punya rem ekologis berbasis jeda, seperti Sasi di Maluku atau Lubuk Larangan di Sumatera.

Di tempat-tempat itu, alam diberi waktu bernapas; panen tidak dilakukan terus-menerus, sungai ditutup sementara, pohon besar tidak boleh ditebang sembarangan. Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR) beberapa kali mencontohkan Sasi sebagai mekanisme keberlanjutan yang membuat stok ikan, hutan sagu, dan sumber daya pesisir tetap stabil selama ratusan tahun.

Ilustrasi wilayah perairan pesisir Kota Kupang, NTT. Foto: Yoseph Boli Bataona/Antara

Namun, rem ini tidak hanya datang dari instrumen adat. Kita bahkan memiliki rem moral yang sangat eksplisit. Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan dua fatwa penting: Fatwa No. 86/2023 tentang Pengendalian Perubahan Iklim dan Fatwa MUI NO.30 Tahun 2016 tentang hukum pembakaran hutan dan lahan serta pengendaliannya.

Dalam bahasa agama, merusak lingkungan adalah fasad fil-ardh—kerusakan sistemik yang mengancam kehidupan. Dalam bahasa adat, hal itu pantangan leluhur. Dalam bahasa ilmiah, hal itu sebagai tanda peringatan dini bencana yang diabaikan. Ketiganya sejalan, tetapi negara tetap menginjak gas.

Ketika gas itu diinjak sangat dalam. Dalam dua dekade terakhir, bencana hidrometeorologi Indonesia naik lebih dari 700% menurut data BNPB. Hutan dibuka untuk sawit, bukit kapur diledakkan untuk semen, dan sungai dibendung tanpa mempertimbangkan daya tampung DAS.

Ketika dunia mulai membicarakan ekosida (ecocide)—perusakan ekosistem besar-besaran—sebagai kandidat kejahatan internasional baru, pola eksploitasi kita sebenarnya sudah mendekati definisi tersebut: sistematis, disengaja, dan berdampak luas. Demokrasi kita akhirnya menyerupai mobil sport tanpa rem; melaju gagah, tetapi tak punya cara berhenti sebelum menabrak tebing.

Ingatan yang Tertanam

Ilustrasi banjir. Foto: Galih Pradipta/Antara Foto

Smong mengingatkan kita bahwa sistem peringatan dini paling tangguh bukanlah alat elektronik, melainkan memori yang ditanamkan secara turun-temurun. Smong bekerja karena ia mengalami hal yang tidak bisa dilakukan oleh sirine: mengubah budaya menjadi refleks. Dalam istilah matematika, smong seperti algoritma sederhana, tetapi stabil—rumus kecil yang menghasilkan keputusan besar ketika waktu sangat sempit.

Namun, ingatan itu tidak hidup sendirian. Ingatan itu butuh ruang—ruang ekologis, ruang sosial, ruang budaya—untuk tetap relevan. Jika hutan gundul, sungai rusak, dan pola bencana berubah drastis akibat krisis iklim, smong bisa bertahan sebagai memori tsunami, tetapi tidak bisa menggantikan kerusakan struktural. Simeulue hari ini menjadi bukti: ingatan dapat mengalahkan gelombang besar, tetapi tidak bisa mengalahkan erosi ekologis yang berlangsung pelan, tetapi pasti.

Di Jepang, konsep “tsunami tendenko”—lari menyelamatkan diri tanpa menunggu perintah—telah menjadi bagian kurikulum nasional, terbukti menyelamatkan banyak anak sekolah di Tōhoku tahun 2011. Di Chile, simulasi nasional memastikan warga pesisir bisa mengungsi dalam delapan menit.

Di Selandia Baru, masyarakat Māori mempertahankan naratif hikoi ki uta (lari menuju daratan tinggi) sebagai pengetahuan turun-temurun. Namun, semua negara itu juga melakukan satu hal yang sering kita lupakan: menjaga ekologinya agar sistem sosialnya dapat bekerja. Pengetahuan tradisional tidak berdiri di atas tanah yang retak.

Pelajaran dari Negara Lain

Ilustrasi Jepang. Foto: Nghia Khanh/Shutterstock

Dari Jepang, kita belajar bahwa ingatan kolektif harus dikombinasikan dengan perawatan ketat terhadap infrastruktur. Dari Chile, kita belajar bahwa negara bisa sangat tegas dalam memastikan warganya tahu ke mana harus berlari. Dari Selandia Baru (New Zealand), kita belajar bahwa narasi adat bisa menjadi kebijakan publik, bukan hanya upacara budaya.

Namun, dari Simeulue hari ini, kita belajar pelajaran paling penting: bahkan tempat yang memiliki kearifan paling efektif ternyata bisa rapuh bila bentang alam di sekitarnya rusak. Tentunya ini bukan kegagalan smong, tapi merupakan kegagalan kita menjaga “wadah” ekologis yang membuat smong relevan.

Jika Jepang berhasil membangun ulang hutan lindung di wilayah Tōhoku setelah tsunami, hal itu terjadi karena mereka memahami prinsip sederhana: pengetahuan bencana hanya bisa hidup jika wadah ekologisnya utuh.

Di Selandia Baru, komunitas Māori bekerja bersama pemerintah untuk memulihkan sungai dan rawa—bukan sebagai proyek estetika, melainkan sebagai bagian dari sistem keselamatan. Dalam pandangan mereka, sungai bukan hanya infrastruktur alam, melainkan juga penjaga memori. Kualitas air, keadaan hulu, vegetasi tepi sungai—semuanya berfungsi sebagai indikator dini bagi bencana yang mungkin datang.

Ilustrasi Sungai. Foto: Shutter Stock

Keberhasilan kedua negara itu menunjukkan hal yang seharusnya juga menjadi prioritas kita: menjaga wadah ekologis berarti menjaga kemampuan masyarakat untuk membaca tanda-tanda alam. Tidak ada smong yang bisa bekerja jika bukit-bukitnya gundul dan sungai-sungainya dangkal.

Tidak ada kearifan lokal yang bisa bertahan jika panggung ekologis (tempat kearifan lokal tersebut tumbuh) ikut hancur. Di titik inilah proyek-proyek yang mengabaikan daya dukung bumi tidak hanya berisiko merusak alam, tetapi juga merusak memori kolektif yang selama ini membuat kita selamat.

Masa Depan Resiliensi Kita

Mungkin kita perlu belajar lagi mengeja kata “maju”. Maju bukan tentang seberapa banyak beton kita tuang, melainkan seberapa banyak kehidupan yang bisa kita selamatkan tanpa menunggu proyek dilelang. Buoy bisa rusak, sirine bisa diam, sistem digital bisa tumbang ketika listrik padam. Namun, ingatan—selama kita merawatnya bersama—akan selalu kembali ketika bumi berguncang.

Namun, ingatan tidak bisa berjalan sendirian. Ingatan itu butuh hutan yang masih berdiri, sungai yang masih waras, bukit yang masih mampu menahan hujan, dan negara yang tidak terseret inersia proyek. Karena pada akhirnya, ketika sirine miliaran itu kembali mati—dan sejarah kita menunjukkan sirine itu sering mati—kita hanya akan punya dua hal: ingatan yang bekerja dan alam yang masih mampu melindungi. Kalau keduanya rusak, tidak ada proyek apa pun yang bisa menyelamatkan kita.