Apakah Tujuan Adanya Tradisi Dugderan? Ini Ritualnya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi dugderan adalah suatu ritual yang ada di Semarang, Jawa Tengah dan masih dilestarikan hingga kini. Lantas, apakah tujuan adanya tradisi dugderan? Jadi, tujuan tradisi dugderan adalah untuk menyambut bulan Ramadan.
Rigitta dan Auliya dalam Tradisi Dugderan sebagai Strategi Promosi Pemasaran Wisata di Kota Semarang menyebutkan bahwa tradisi dugderan adalah salah satu ritual yang masih lestari di Kota Semarang dan dimanfaatkan sebagai pemasaran wisatanya.
Untuk mengetahui informasi tentang apakah tujuan adanya tradisi dugderan, simak penjelasannya di artikel berikut.
Apa itu Tradisi Dugderan?
Sebelum mengetahui lebih lanjut tentang tujuan tradisi dugderan, sebaiknya pahami dulu pengertiannya. Jadi, tradisi dugderan adalah suatu bentuk pesta rakyat yang dilakukan pada awal bulan Ramadan. Umumnya, pelaksanaan tradisi dilakukan seminggu sebelum bulan puasa di Semarang.
Istilah dugderan termasuk sebagai onomatope dari letusan mercon serta bunyi suara bedug, yakni "dug" dan "der". Awal mula dari tradisi dugderan adalah ide Bupati Kyai Raden Mas Tumenggung Purbaningrat tahun 1881 ketika masih dalam masa penjajahan Belanda.
Apakah Tujuan Adanya Tradisi Dugderan?
Lantas, apakah tujuan adanya tradisi dugderan? Pada awalnya, tujuan tradisi dugderan adalah untuk menyatukan perbedaan antar warga Semarang pada masa penjajahan. Pasalnya, saat itu terjadi perbedaan kelompok masyarakat yang dilakukan oleh Belanda.
Beberapa kelompok tersebut adalah Pakojan (etnis Arab), Pecinan (etnis Tionghoa), Kampung Melayu (masyarakat perantauan dari luar Jawa), serta masyarakat asli Jawa. Dalam perkembangannya, tradisi dugderan bertujuan untuk memperingati sekaligus menyambut bulan Ramadan.
Pasalnya, akibat perbedaan kelompok masyarakat tersebut, akhirnya terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Ramadan. Oleh sebab itu, pelaksanaan tradisi dugderan dilakukan selama seminggu sebelum bulan puasa sebagai tanda jika Ramadan hendak tiba.
Rangkaian Tradisi Dugderan
Pelaksanaan tradisi dugderan berbentuk festival yang banyak pedagang menjajakan dagangannya, mulai dari makanan, minuman, hingga mainan tradisional. Pada pelaksanaannya, akan ditabuh bedug di Masjid Agung Kauman serta meriam di halaman kabupaten.
Bedug dan meriam tersebut akan dibunyikan sebanyak tiga kali. Setelah itu, akan dilanjutkan dengan pengumuman awal puasa di Masjid Agung Kauman.
Demikian informasi mengenai apakah tujuan adanya tradisi dugderan dan rangkaiannya. [ENF]
