Sejarah Jalan Salib, Umat Katolik Wajib Tahu

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi umat Katolik di seluruh dunia, Jalan Salib atau Via Crucis merupakan salah satu devosi yang paling mendalam, terutama selama masa Prapaskah. Lantas, bagaimana sejarah Jalan Salib dan asal mula devosi yang begitu penting ini?
Devosi ini mengajak umat untuk merenungkan kembali perjalanan sengsara Yesus Kristus, mulai dari saat Ia dijatuhi hukuman mati hingga wafat di kayu salib dan dimakamkan.
Sejarah Jalan Salib
Akar Jalan Salib dapat ditelusuri kembali ke Yerusalem pada abad-abad awal kekristenan. Mengutip laman museumofthebible.org dan catholicvirtual.com, berikut adalah sejarah Jalan Salib selengkapnya.
Tahap Awal
Tradisi Jalan Salib bermula sekitar abad kelima. Saat itu, gereja-gereja mulai membuat replika tempat-tempat suci di Yerusalem agar umat yang tidak bisa berziarah langsung ke Via Dolorosa tetap bisa merenungkan kisah sengsara Yesus.
Para peziarah yang mengunjungi Tanah Suci, khususnya tempat-tempat yang terkait dengan Kisah Sengsara Yesus, mulai menelusuri jejak langkah-Nya.
Mereka berjalan dari Gereja Makam Kudus menuju Bukit Kalvari, mengenang setiap peristiwa yang terjadi di sepanjang jalan. Praktik ini kemudian berkembang dan menyebar ke Eropa seiring dengan kembalinya para Tentara Salib.
Tahap Perkembangan Pada Abad Pertengahan
Pada Abad Pertengahan, khususnya pada abad ke-14 dan ke-15, Ordo Fransiskan memainkan peran krusial dalam mempopulerkan Jalan Salib.
Mereka adalah penjaga utama situs-situs suci di Yerusalem dan sangat menganjurkan umat untuk meneladani Yesus dalam penderitaan-Nya.
Karena tidak semua orang dapat berziarah ke Tanah Suci, mereka mulai mendirikan "replika" Jalan Salib di gereja-gereja dan biara-biara di Eropa, memungkinkan umat untuk melakukan devosi ini tanpa harus bepergian jauh.
Penetapan 14 Perhentian
Jumlah perhentian atau stasi dalam Jalan Salib tidak selalu seragam. Awalnya, jumlahnya bervariasi antara 7 hingga 30 perhentian. Namun, pada abad ke-17 dan ke-18, Paus Klemens XII secara resmi menetapkan 14 perhentian standar yang dikenal sekarang.
Ke-14 perhentian ini mencakup peristiwa-peristiwa kunci dari penjatuhan hukuman hingga penempatan jenazah Yesus di makam.
Hingga hari ini, Jalan Salib tetap menjadi sarana yang ampuh untuk mendekatkan diri kepada Kristus dan merenungkan pengorbanan-Nya yang tak terhingga.
Melalui setiap perhentian, umat diajak untuk merasakan penderitaan-Nya, menyadari dosa-dosa diri, dan pada akhirnya, menumbuhkan iman serta pengharapan akan kebangkitan.
Demikian sejarah Jalan Salib. Dengan mengenal sejarahnya membuat umat semakin menghargai kekayaan tradisi Gereja Katolik.
Baca Juga: Sejarah Kalender Masehi, Mulai dari Kalender Julian ke Masa Kini
