Pencarian populer

Di Riau, Petugas KPPS Mulai dari Pingsan, Stroke hingga Meninggal

PETUGAS KPPS mengarahkan pemilih untuk memasukkan surat suara sesuai dengan kotaknya.

SELASAR RIAU, PEKANBARU - Azan Salat Subuh bersahut-sahutan terdengar dari masjid-masjid. Bersamaan dengan itu, suara kokok ayam juga tak mau kalah. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB, masih terdengar suara dari sound system digunakan menyebut perolehan suara nama partai, dan caleg.

Sudah 24 jam lebih, sejak Rabu, 17 April 2019, petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) 43, Kelurahan Pematang Kapau, Tenayan Raya, Pekanbaru, bekerja mulai dari pagi, pukul 06.00 WIB.

Itu belum selesai, mereka harus merapikannya dan membawanya ke kantor Lurah untuk penyerahan kotak suara berisikan surat suara. Berkumpul bersama ratusan kotak suara lainnya di Kelurahan Pematang Kapau.

Itu baru satu TPS, bagaimana dengan ribuan TPS di Riau, bahkan 800 ribu lebih di seluruh Indonesia. Bagaimana petugas KPPS harus bekerja, jika ternyata ada kekurangan surat suara, menunggu penambahan surat suara, barulah bisa dimulai tahapan penghitungan suara.

"Sepengetahuan saya, teman-teman petugas KPPS sudah maksimal bekerja demi tegaknya demokrasi. Saya juga mendengar, dan kawan-kawan KPU daerah juga sudah menjenguk ada Ketua KPPS yang meninggal dunia dan terserang stroke," kata Komisioner KPU Riau, Nugroho Noto Susanto kepada SELASAR RIAU, Sabtu, 20 April 2019.

Ketua KPPS yang meninggal dimaksud Nugroho adalah Ketua KPPS 02 Desa Bantan Tua, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, Suratinizar. Ia tewas saat pulang kerja mengelakkan truk pick up pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) sawit.

Malangnya, motor ia kendarai malah menabrak pohon kelapa sawit dewasa dan truk pengangkut itu juga menabraknya hingga tubuhnya terjepit ke batang sawit, Kamis, 18 April 2019.

Di hari yang sama, Kamis dinihari, di Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau, Ketua KPPS 51, Kelurahan Sialang Munggu, Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Edirson, diserang stroke.

Edirson kena stroke pukul 04.00 WIB. Awalnya, ia pingsan saat perhitungan suara di subuh hari itu. Akibatnya, proses penghitungan suara sempat terhenti selama 1 jam 30 menit.

Ia kemudian langsung dilarikan ke Rumah Sakit Sansani dan ia dirawat di kamar 303 lantai 3. Akibatnya, penghitungan suara TPS 51 baru selesai pukul 10.00 WIB, dan diantarkan ke kantor lurah sejam kemudian.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Riau, Adlin meminta kepada KPU maupun Bawaslu Riau agar lebih selektif lagi dalam menggunakan tenaga orang lain.

"Seharusnya kalau kondisi seperti ini, perlu ada tes kesehatan, tidak hanya kemampuan dalam penyelenggaraan saja. Apa lagi dipilih karena berpengalaman," kata Adlin, Sabtu, 20 April 2019.

Lulusan ilmu politik Universitas Indonesia ini menjelaskan, penyelenggara tidak cermat dalam mempergunakan tenaganya. Seperti lalai menghitung waktu jika kondisi terjadi hingga berulang-ulang.

"Dari sisi waktu, mungkin tidak pernah dipikirkan. Artinya perencanaannya tak matang. Tidak siap dengan Pilpres dan Pileg serentak seperti ini," jelasnya.

Tidak semata memilih tenaga dari lamanya jam terbang sebagai penyelenggara atau bahkan dipilih hanya karena dituakan oleh masyarakat.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Minggu,19/05/2019
Imsak04:25
Subuh04:35
Magrib17:47
Isya18:59
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.20