News
·
12 Januari 2021 12:25

Percakapan Terakhir Ayah dengan Anaknya yang Jadi Korban Sriwijaya Air SJ-182

Konten ini diproduksi oleh Selasar Riau
Percakapan Terakhir Ayah dengan Anaknya yang Jadi Korban Sriwijaya Air SJ-182 (134026)
EFFENDI (66) ayah Putri Wahyuni Effendi, penumpang Sriwijaya Air yang jatuh di Perairan Kepulauan Seribu bersama sanak saudara di Pekanbaru.
SELASAR RIAU, PEKANBARU - Suasana duka menyelimuti kediaman orang tua penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ-182 asal Pekanbaru, Putri Wahyuni Effendi.
ADVERTISEMENT
Warga Jalan Sembilang, Rumbai, Pekanbaru ini, menjadi korban dalam jatuhnya pesawat Sriwijaya Air.
Bersama suaminya, Ihsan Adhlan Hakim, Putri hendak menuju Pontianak. Keduanya berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Sabtu sore (9/1/2021).
Pesawat mereka tumpangi terbang dari Bandara Soetta menuju Pontianak pukul 14.36. Sedianya, pesawat tersebut mendarat di Pontianak pukul 15.44 WIB.
Namun pukul pukul 14.47, pesawat malah hilang kontak di Pulau Laki, Kepualaun Seribu.
Pantauan Selasar Riau, Selasa (12/1/2021), sejumlah kendaraan terparkir di halaman rumah. Para kerabat dan tetangga masih berdatangan sejak hari pertama akhir pekan lalu.
Mereka berdoa bersama atas keselamatan semua penumpang pesawat yang jatuh.
Ayah Putri, Arizal Effendi (66), mengatakan, anak bungsunya berangkat ke Pontianak untuk persiapan kenduri atau ngunduh mantu. Ia menyebut, putrinya menikah Maret 2020.
ADVERTISEMENT
"Jadi mereka mau persiapan kenduri di Pontianak," ungkap Arizal.
Ia mengenang percakapan terakhir dengan putri bungsunya itu. Ceritanya, mereka sempat mengobrol lewat sambungan telepon.
"Sempat menelepon sebelum berangkat. Pamitan. Percakapan terakhir, saya sampaikan hati-hati, Nak," cerita Effendi lirih.
Laki-laki beberapa orang cucu ini mengaku tahu kabar jatuhnya pesawat dari media sosial. Sempat panik, keluarga mencoba menelepon langsung ke nomor Putri dan juga suaminya. Namun, tidak ada jawaban dari nomor dituju.
"Coba hubungi mertua anak, tapi belum juga ada kabar. Kami menelepon berkali-kali," katanya.
Pihak keluarga juga mendapat kabar dari sanak saudara di Jakarta. Mereka infokan situasi di bandara sedang ramai. Akhirnya mereka sarankan untuk menanti kabar dari televisi.
ADVERTISEMENT
Saat ini, kata Arizal, keluarga besar masih menanti kabar baik. Mereka menanti kabar dari maskapai. Ada rencana anak pertama Arizal akan berangkat ke Jakarta.
"Anak pertama yang akan menyusul ke Jakarta. Kabarnya pihak maskapai menyediakan fasilitas di bandara bagi keluarga yang datang ke sana. Kalau saya tidak bisa, sebab stamina sudah berkurang," imbuhnya.
Arizal menyebut, Sabtu malam RS Bhayangkara Polda Riau datang ke rumahnya. Mereka datang guna mengambil sampel DNA untuk mengumpulkan data ante mortem dan post mortem.
Laporan: LARAS OLIVIA