Yang Luput oleh Wartawan: Pujian Itu Melemahkan

Konten dari Pengguna
12 November 2018 15:12
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Selli Nisrina Faradila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Yang Luput oleh Wartawan: Pujian Itu Melemahkan (73517)
zoom-in-whitePerbesar
ADVERTISEMENT
"Saya enggak suka memuji murid-murid saya. Praise makes you weak," begitu kata mentorku, sekitar lima tahun lalu. Kalimat itu terucap saat beliau tengah me-review esai yang kutulis untuk sebuah kompetisi jurnalistik kampus.
ADVERTISEMENT
Beliau yang tinggal di luar negeri untuk lanjut kuliah memberikan bimbingannya itu via e-mail. Baru saja di tahun ini, beliau mendapatkan gelar PhD untuk Second Language Acquistion and Teaching. Sejak mengenalnya saat aku masih SMA, hingga sekarang, bisa dibilang dia adalah mentor menulis pertamaku dan salah satu yang paling aku hormati.
Lantas kenapa lima tahun lalu, dia sempat melontarkan betapa tak sukanya ia memuji murid-muridnya? Memang, dengan beliau, segala macam kritik sudah pernah aku alami: "Kalimat kamu nih amburadul banget!"; "Judul tulisan kamu enggak men-trigger saya buat baca. Ganti!"; "Tulisan kamu enggak menggerakkan emosi saya"; "Hahahaha kamu nulis apaan sih."
Nah, yang terakhir itu yang paling sakit. Tulisanku diketawain. Habis-habisan. Sepertinya masih mending tulisan dibilang jelek. Kalau sampai tahap diketawain, seolah-olah yang kita tulis tidak layak lagi disebut tulisan. Bukan sebuah karya. Hanya sekumpulan huruf berderet yang ada tanpa didahului proses berpikir dari penulisnya.
ADVERTISEMENT
Perlakuannya itu sempat membuat aku down dan minder. Tapi aku bertekad. Tak ada orang dekatku yang bisa menulis dan mengajar sehebat beliau. Kalau belajar bukan darinya, siapa lagi? Rasa down ini tidak ada apa-apanya dibanding ilmu yang bisa aku ambil.
Hingga satu waktu, mentorku itu berujar, "Saya sebagai mentor, lebih suka memberi tantangan ke murid-murid saya. Kalau ke mahasiswa, ya saya ceplosin aja, 'Kamu hebat kalau tahun depan bisa keterima S2 di luar negeri. Nanti datang ke saya bawa Letter of Acceptance (LoA), ya.'"
Baginya, seseorang akan maju dengan sering dikritik dan ditantang melakukan sesuatu yang baginya sulit. Manis puja dan puji justru tidak akan membawanya ke manapun.

Baginya, seseorang akan maju dengan sering dikritik dan ditantang melakukan sesuatu yang baginya sulit. Manis puja dan puji justru tidak akan membawanya ke manapun.

- -

ADVERTISEMENT
Begitulah cara beliau menghadapi banyak muridnya yang punya banyak mimpi. Termasuk mimpiku menulis buku.
Maka sejak kuliah, aku rajin mengirim tulisan ke koran-koran. Beberapa dimuat, dan lebih banyak yang ditolak. Tapi jalan itu yang kupilih untuk berlatih kemampuan menulis. Membuat diriku terbiasa menulis. Sampai rasanya aneh kalau tidak menulis sehari saja.
Empat tahun berselang. Kesibukan mentorku membuatku sungkan, hingga aku berlatih sendiri tanpa arahannya. Sampai tahun lalu, aku resmi bekerja di kumparan, tepatnya di bulan November 2017, ditempatkan sebagai Collaboration Officer. Dengan jobdesc moderasi konten user dan publisher (media daerah).
Ilustrasi jurnalisme. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi jurnalisme. (Foto: Pixabay)
Meski sehari-hari bertugas sebagai editor konten, beberapa kali aku sempat menulis di akun kumparan milikku. Sesekali pula aku membagikannya di laman media sosial.
ADVERTISEMENT
Salah satunya, mendapat reply dari mentorku. Lama tak berkabar, beliau menuliskan: "You've got a lot of progress, Sel. Proud of you."
Perasaanku jelas membuncah. Selama bertahun-tahun belajar dengan beliau, mungkin baru sekali itu pujian datang dari mulutnya. Rasanya, seperti api ketemu bensin. Semangat menulisku semakin menyala-nyala.
Beliau yang tak sembarangan memuji, tentu pujiannya sangat berarti.
Sosok seperti beliau, lantas aku temukan lagi pada diri Redakturku sekarang. Kritikannya selalu tanpa basa-basi. Aku ingat betul, saat itu sedang heboh cacing pita di ikan makarel kalengan. Salah satu media daerah yang dipegang Divisi Kolaborasi melaporkan hasil sidak BPOM di pasar-pasar tradisional.
Aku yang mengedit tulisan itu, dengan judul kira-kira: "BPOM Sidak Makarel Kalengan di Pasar ABCD". Tak lama setelah tulisan itu naik ke timeline, Redakturku muncul di grup tim kami dengan sebaris pesan untukku: "Judul kamu jelek banget sih. Memangnya kamu humas BPOM?????"
ADVERTISEMENT
Sambil menertawakan diri sendiri, aku balas pesannya: "Iya, Mas, maaf aku lalai."
"Ditemukan ikan kalengan yang ada cacing pitanya, enggak?"
"Enggak ada, Mas."
"Nah, itu kan bisa ditaruh di judul. Coba mainin insting kamu."
Tentu, sepanjang satu tahun perjalananku belajar dari beliau, teguran darinya tak hanya itu.
"Logika kalimat kamu benerin dulu! Kamu tuh seperti enggak belajar."
"Coba kamu baca judul yang kamu buat. Datar banget."
"Hadeeeh, bikin judul kok kayak humas."
"Baca ending tulisan kamu, berasa baca tulisan buzzer-nya Jokowi."
Rasanya seperti mengulang masa lalu. Caranya mendidik kurang lebih sama dengan mentorku terdahulu. Dan jurusku dalam menghadapinya selalu sama: Kalau tidak belajar dengan beliau, dengan siapa lagi? Pasti ada ilmu di setiap omelannya.
ADVERTISEMENT
Kesamaan dua mentorku itu melahirkan satu kesimpulan untukku: keduanya bukan tak rela memuji, tapi lebih baik pujian itu dihindari. Hukumnya makruh.
Aku teringat seorang temanku dari media lain, yang mungkin belum paham itu. Saban ketemu, yang ada cuma keluhan soal Redakturnya. Terlebih judul-judul tulisannya yang selalu berujung diganti sang Redaktur. Baginya, semua yang dia tulis sudah dipikirkan matang-matang, mengapa tak dihargai?
"Kamu terlalu main perasaan," balasku waktu itu.
Bagiku, sang Redaktur punya cara sendiri sebagai mentor. Justru dengan mengganti judul temanku, dengan kapasitasnya sebagai jurnalis senior yang lebih berpengalaman, itu pun bentuk sebuah penghargaan. Ia tak mau tulisan sang murid dilempar ke publik dalam keadaan yang buruk.
Justru sang murid yang perlu berbenah. Apa tujuannya memilih profesi wartawan? Untuk belajar atau sekedar gengsi? Bagiku yang juga memilih profesi ini, tujuanku tentulah untuk mengasah keterampilan sebagai pewarta--termasuk menulis, bukan memupuk ego.
ADVERTISEMENT

Apa tujuannya memilih profesi wartawan? Untuk belajar atau sekedar gengsi? Bagiku yang juga memilih profesi ini, tujuanku tentulah untuk mengasah keterampilan sebagai pewarta--termasuk menulis, bukan memupuk ego.

- -

Ketika sudah memilih jalan ini, dan dalam perjalanannya kita sesekali mengacau, apa yang diharapkan? Dipuji dan dielu-elukan? Ya, kalau begitu pulang ke rumah saja, tempat kita bisa di-ninabobok-an.
Padahal, manusia justru banyak belajar dalam kondisi yang serba tidak nyaman. Ketidaknyamanan itulah yang aku yakin mewarnai keseharian kawan-kawan sejawatku di kumparan. Profesi wartawan di manapun memang tak mudah. Terlebih dengan jam kerja yang tak menentu.
Tapi ketidaknyamanan itu justru menghasilkan sesuatu. Salah satunya, seluruh dari kami yang berhasil mendapatkan sertifikasi kompetensi wartawan dari Dewan Pers. Tentu ini bentuk pujian. Dan pujian itu tak selalu seperti yang dikatakan mentorku, melemahkan.
ADVERTISEMENT
Ia juga menguatkan, jika diletakkan pada tempatnya.
Tentu sejauh ini, sertifikasi ini adalah bentuk apresiasi tertinggi. Namun, aku harap tak membuat kita lama-lama berpuas diri. Terakhir kuucapkan, selamat, kawan-kawanku!
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020