Tak Kuat Imbas Rupiah Melemah, Ducati Katrol Harga Suku Cadang
ยทwaktu baca 2 menit

Dampak pelemahan nilai rupiah terhadap aktivitas bisnis di dalam negeri ternyata tak luput menghampiri Ducati. Merek sepeda motor premium asal Italia itu baru saja mengeluarkan pengumuman soal penyesuaian harga suku cadangnya.
Lewat akun resmi media sosial Ducati Indonesia, harga baru yang segera berlaku itu meningkat hingga puluhan persen. Situasi global akhir-akhir menjadi salah satu penyebab kuat keputusan tersebut diambil.
"Kami ingin menginformasikan bahwa mulai tanggal 8 Juni 2026, suku cadang baru di luar stok yang saat ini tersedia di Ducati Indonesia akan mengalami penyesuaian harga sebesar 20 persen," bunyi pernyataan resmi manajemen Ducati Indonesia melalui akun media sosialnya.
Manajemen menambahkan, gangguan rantai pasok global dan fluktuasi mata uang asing menjadi faktor paling krusial, di balik melambungnya struktur biaya pengadaan komponen dari luar negeri belakangan ini.
Director of Aftersales Ducati Indonesia, Dito Mulyawadi menjelaskan bahwa penyesuaian tersebut tidak bisa dihindari, karena dinamika ekonomi global yang berdampak langsung pada biaya operasional impor komponen orisinil dari negara asalnya.
"Jadi pada dasarnya semua CAS (Customer After Sales) Ducati itu terpengaruh semuanya, ya. Itu meliputi spareparts, aksesori, dan apparel. Karena memang semua barang kami itu kan asalnya dari Italia, apalagi yang berkaitan dengan CAS tadi," ucap Dito kepada kumparanOTO, (9/6/2026).
Dirinya mengaku, penyesuaian harga tersebut dinilai sudah tepat. Sebab, sejak awal nilai mata uang rupiah merosot beberapa bulan terakhir, pihaknya berupaya agar harga suku cadang Ducati tidak naik sama sekali.
"Istilahnya ada fuel surchargers, kenapa namanya fuel surcharges? Karena salah satu alat logistik kita itu menggunakan pesawat, biaya pengiriman dari Italia ke Indonesia. Nah itu biaya avturnya, itu membuat logistik menjadi naik semua," imbuh Dito.
Dito menegaskan bahwa harga baru suku cadang tersebut hanya berlaku untuk komponen yang baru datang setelah tanggal 8 Juni 2026. Sementara unit berstatus ready stock atau masih tersedia menggunakan harga lama.
"Jadi begini, harga barangnya tetap sama, cuma kami tambahkan fuel surcharges tadi yang 8,5 persen sampai 10 persen. Tetapi ini untuk barang-barang yang baru datang setelah 8 Juni kemarin ya," paparnya.
"Seiring berjalannya waktu ternyata dolar (AS) terus menguat (terhadap rupiah), nih. Ya kami tidak kuat untuk menahan (harga tetap) untuk itu karena margin diler tetap perlu dilihat, makanya harus kami naikkan," tandas Dito.
Kondisi pelik ini sekaligus membuktikan bahwa dampak dari melemahnya fundamental ekonomi makro tidak hanya memusingkan para agen pemegang merek mobil di Tanah Air. Tetapi juga roda dua segmen premium.
