Kumplus- Opini Seno Gumira Ajidarma 3

Sindrom Keaslian

Seno Gumira Ajidarma lahir tahun 1958. Bekerja sebagai wartawan sejak tahun 1977. Menulis fiksi maupun nonfiksi, dalam media massa maupun jurnal ilmiah, mendapat sejumlah penghargaan sastra, dan mengajar di berbagai perguruan tinggi.
2 Januari 2022 10:23
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Politik identitas selalu menjuruskan dirinya kepada pernyataan hak atas kebenaran (claim) terhadap suatu representasi identitas tertentu. Adapun tujuannya, tiada lebih dan tiada kurang, untuk menyatakan dirinya ada. Diri ini bisa diri pribadi (“aku adalah apa yang kukerjakan”), pribadi sebagai bagian dari kelompok atau komunitas (“kaum pengopi sejati”), bagian dari kelompok etnik (“orang apa ya?”), bagian dari suatu bangsa (“kalau menyanyikan ‘Indonesia Raya’ di luar negeri rasanya beda”), bagian dari pemeluk agama tertentu (“sesama pemeluk adalah saudara”—émangnyé amé pemeluk laèn musti kagak, pedahil sodaré kendiri?), bagian dari spesies manusia (“baik-baiklah terhadap Bumi dan seisinya, demi udara yang kita hirup setiap saat”).
Begitu penting politik identitas ini sehingga—disadari maupun tidak—terwujudkan dalam berbagai macam pilihan dan tindakan, dari bangun pagi sampai tidur lagi. Harus selalu gudeg sarapannya? Tidak sudi bekerja yang wajib berseragam? Malu kalau kepergok dengerin dangdut padahal badan goyang-goyang? Dengan busana seperti ini sudah jelas aku ini orang yang harus dihormati—meskipun makényé gerah banget. Standar mobilku juga harus jelas, bukan yang ècèk-ècèk kayak kaleng kerupuk. Walau dengan celana jean, kaos oblong, dan sepatu sneakers ini jelas pula aku bukan orang konservatif.
Andaikanlah semua atau sebagian dari percontohan ini bermukim dalam diri satu orang, dan itu memang selalu terjadi, tidakkah terlalu jelas betapa terhadap ketunggalan identitas sebenarnya tiada dapat dilakukan isolasi? Kalau ada anak milenial bahasa Indonesianya amburadul, tapi ngomong Inggrisnya sampurno, apakah bisa menjadi ukuran atas nasionalismenya? Politik identitas adalah konsep yang akan selalu dijalankan, tetapi sekaligus juga akan selalu terbentur persoalan konseptual, sebagaimana dapat dipahami dari pengertian kebudayaan itu sendiri.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanplus
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanplus
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparanplus
Dalam teori warung kopi saya, setidaknya ada tiga penyebab kurangnya pengetahuan: (1) malnutrisi atau kurang gizi; (2) kurang membaca; (3) terjebak kuasa wacana. Kolom Seno Gumira Ajidarma di kumparanplus. Rutin tiap Minggu.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten