News
·
16 Oktober 2020 17:06

Belajarlah dari Sejarah

Konten ini diproduksi oleh Shamsi Ali
Belajarlah dari Sejarah (555212)
Ilustrasi. Foto: Unsplash
Sebuah opini atau pendapat yang disampaikan, baik secara lisan atau tulisan, tidak selalu harus dimaknai sebagai serangan kepada orang-orang tertentu. Apalagi jika tafsiran itu terbangun di atas asumsi-asumsi politis.
ADVERTISEMENT
Yang pasti, Al-Quran penuh dengan cerita masa lalu alias sejarah. Sejarah itu penting. Karena dengan sejarah manusia belajar untuk berubah dan menjadi lebih baik di masa kini dan mendatang.
Salah satu sejarah yang sering terulang dalam Al-Quran adalah sejarah kekuasaan di masa lalu. Ada kekuasaan yang berkarakter “ketakwaan”. Yaitu kekuasaan yang terbangun di atas nilai-nilai kebenaran (Al-Haq), kejujuran (al-amanah), dan keadilan (al-adl).
Tapi tidak sedikit pula kekuasaan yang terbangun di atas karakter “fujuur” (penyelewengan dan dosa). Kekuasaan ini penuh dengan ketidak jujuran dan kebohongan, ketidakadilan (kezaliman), bahkan kekejaman dan kebiadaban.
Dalam sejarah, Allah Yang Maha Rahman selalu menghadirkan dari kalangan hamba-hambaNya sendiri untuk mengoreksi kekuasaan fujuur (Korup) itu. Musa AS diutus kepada Firaun, Ibrahim AS kepada Namrud, dan seterusnya.
ADVERTISEMENT
Dalam usaha mengoreksi kekuasaan itu lah tidak jarang terjadi resistensi keras dari kekuasaan korup itu. Bahkan sering terjadi pembungkaman dan bahkan eliminir. Tidak jarang pula resistensi itu berwujud kekerasan dan kezaliman.
Tapi ada satu fakta sejarah yang perlu diingat. Bahwa opresi atau kezaliman dan kekejaman penguasa kepada rakyatnya bukan karena mereka kuat dan hebat. Sebaliknya, justru kezaliman dan kekejaman kekuasaan itu adalah indikasi kepanikan, ketakutan, kelemahan, bahkan awal dari kejatuhan.
Kapan dan kenapa Firaun tenggelam di Laut Merah?
Kapan dan kenapa Namrud terbunuh oleh seekor nyamuk?
Kapan dan kenapa Tsamud binasa?
Kapan, kenapa dan bagaimana para penguasa zalim dalam sejarah hidup manusia mengalami kehancurannya?
Al-Quran memberikan jawaban yang pasti. Bahwa kebinasaan dan kehancuran kekuasaan zalim dan keji itu terjadi di saat rintihan dan suara rakyat kecil tidak lagi terhiraukan. Di saat mereka yang lemah dan terzalimi mengadukan nasib mereka ke Penguasa langit dan bumi.
ADVERTISEMENT
Di saat-saat seperti itulah tabir samawi akan terbuka. Lalu antara doa-doa dan rintihan mereka dan Allah tiada lagi yang membatasi. Allah akan membuka pintu-pintu “nushrohsamawi yang wujudnya kadang di luar jangkauan logika manusia.
Seringkali juga Allah tidak secara langsung menghabisi mereka. Justru diberi kesempatan demi kesempatan untuk sadar. Firaun diingatkan berkali-kali dengan berbagai peringatan (azab). Tapi peringatan itu tidak dihiraukan. Hingga pada akhirnya ditenggelamkan oleh Allah di laut merah.
Ini sekaligus indikasi bahwa harapan untuk penguasa zalim berubah sangat kecil. Kita tidak nafikan kemungkinan intervensi Ilahi. Tapi kezaliman penguasa terhadap rakyat kecil adalah penghalang besar antara manusia dan hidayahNya. Karena rakyat adalah “ra’iyah” yang seharusnya dijaga, digembala, diurus, diperhatikan. Bukan disakiti demi kelanggengan kekuasaan itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Realitanya, kekuasaan yang sedang mengalami kepanikan akan berbuat apa saja, bahkan terkadang di luar nalar atau logika sehat manusia, untuk mempertahankan kekuasaannya. Terkadang rasa malu itu menjadi semakin kecil. Kebohongan, sandiwara, tipuan, dan tidak jarang urusan rakyat banyak dijadikan “mainan” demi kepentingan semata.
Sebaliknya upaya koreksi kekuasaan oleh rakyat dibalik menjadi kejahatan, usaha penggulingan, dan lain-lain. Ini adalah realita Qurani: “dan jika dikatakan kepada mereka jangan merusak, mereka berkata kami ini orang-orang yang melakukan kebaikan” (Al-Baqarah:11).
Perilaku irrasionalitas kekuasaan itu tergambarkan misalnya ketika Namrud terjepit oleh logika Ibrahim AS. Dengan arogansi dan perasaan menguasai segalanya dia menjerit bak kesurupan setanuqtuluuhu wanshuruu alihatakum” (bunuh Ibrahim dan tolonglah tuhan-tuhan kalian).
ADVERTISEMENT
Karenanya teruslah berjuang dengan ikhlas dan benar (bahasa formalnya secara Konstitusional), konstruktif (tidak merusak), seraya menengadahkan kedua tangan ke langit. Insya Allah ketukan langit itu akan terdengar. Dan pada masanya janji itu akan tiba”.
Innallaha laa yukhliful miiaad” (Allah takkan pernah ingkar janji). Percayalah!
---
Soekarno-Hatta, 16 Okt 2020
Syamsi Ali (Imam di kota New York USA)