Pencarian populer

Deadpool 2: Mengawinkan Kekerasan dengan Kehangatan Hati ala Disney

★★★☆☆ | Shandy Gasella

Poster film 'Deadpool 2' - hak cipta milik Twentieth Century Fox

‘Deadpool 2’ disutradarai oleh David Leitch, salah seorang dari dua sutradara ‘John Wick’ (2014) yang kemudian bersolo karir dengan membuat ‘Atomic Blonde’ (2017), film action medioker yang dibintangi Charlize Theron itu lho -- yang lebih banyak gaya ketimbang substansi cerita.

Sedangkan rekannya ketika sama-sama menyutradarai ‘John Wick’, Chad Stahelski kemudian juga bersolo karir menyutradarai ‘John Wick Chapter 2’ yang luar biasa menjadikannya film yang jauh lebih keren dari film pertamanya. Dengan melihat catatan tersebut, mari kita telaah bersama, siapa di antara mereka yang paling memiliki talenta?

Menurut saya, yang membuat ‘John Wick’ jadi salah satu film action terbaik dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir adalah berkat tangan dingin Chad Stahelski. Jangan-jangan David Leitch sebagai co-sutradara cuma ngerecokin aja.

Sialnya, alih-alih mendapatkan Chad Stahelski, bintang film sekaligus produser Ryan Reynolds malah lebih memilih David Leitch. Mengherankan ia tidak kembali mempekerjakan Tim Miller -- sosok paling berjasa di balik kemunculan Deadpool versi layar lebar, dan menjadikannya film ‘X-Men’ paling laku sepanjang sejarah, R-rated pula bukan PG-13.

Padahal saya pengagum berat si sutradara ‘Deadpool’ pertama itu dan berharap ia kembali menyutradarai sekuelnya ini. Disebut-sebut lantaran memiliki perbedaan pandangan kreatif dengan Ryan Reynolds membuatnya tersingkir dari kursi sutradara.

Tapi, kita tahulah alasan itu tak lebih dari sekedar omong kosong. Di jagat industri film Hollywood, “perbedaan pandangan kreatif” adalah eufemisme dari UUD -- ujung-ujungnya duit. Desas-desusnya Tim minta naik gaji, dan itu hal yang wajar lah.

‘Deadpool 2’ masih ditulis oleh tim yang sama, Rhett Reese (‘Deadpool’, ‘Zombieland’) dan Paul Wernick (‘Deadpool’, ‘Zombieland’), ditambah Ryan Reynolds juga ikutan menulis selain tentu saja kita tahu bahwa dialah si Wade/Deadpool sang jagoan kita.

Sederet pemain lain di antaranya Josh Brolin (‘Avengers: Infinity War’, ‘The Goonies’) sebagai Cable, Zazie Beetz (‘Atlanta’, ‘Finding Her’) sebagai Domino, Morena Baccarin (‘Serenity’, ‘Deadpool’) masih sebagai Vanessa sang kekasih, dan Julian Dennison (si bocah nakal dari film ‘Hunt for the Wilderpeople’ besutan Taika Waititi) sebagai Russell alias Firefist alias si tokoh kunci di film ini.

Deadpool 2. (Foto: Dok. Movie Poster)

Kali ini si jagoan sableng bermulut kotor Wade Wilson alias Deadpool, menyatukan beberapa mutan ke dalam sebuah tim untuk melindungi Russell, seorang bocah laki-laki dari incaran seorang mutan bengis nan brutal yang datang dari masa depan bernama Cable. Premisnya mirip ‘Terminator’, dan memang tanpa malu-malu diakui sendiri oleh Deadpool lewat dialog yang jenaka dalam film.

Bicara soal menyatukan tim, MCU punya Avengers, DCEU punya Justice League. Dalam Deadpool Universe, ada tim superhero khusus yang diberinya nama ‘X-Force’. Tetapi memang dasar kurang ajar, para penulis skenario seolah mengejek pakem tim superhero yang biasa kita temui di film-film lain selama ini, membuat penyatuan tim superhero tersebut tak seperti yang kita kira.

Kita dikerjain! Tentu ini bukan spoiler dong, sebab saya tak menjelaskan secara rinci soal apa yang tak diduga-duga itu. Bila Anda masih ingat trailer film ini yang berisi cuplikan adegan Deadpool mengaudisi para mutan untuk masuk ke tim X-Force-nya, di antaranya ada Zeitgeist (Bill Skarsgard, 'It'), Shatterstar (Lewis Tan, 'Into the Badlands'), Bedlam (Terry Crews, 'The Expendables'), Peter (Rob Delaney, 'Burning Love'), Domino, dan The Vanisher (cari tahu sendiri siapa aktor yang memerankannya).

Lewat trailer kita mengira bahwa Deadpool kali ini kewalahan mengalahkan musuhnya hingga perlu mendapatkan bantuan sejumlah mutan lain, padahal ketika tim tersebut terbentuk, aksi mereka sekejap saja tuntas, tampil tak lebih dari 10 menit. Semua tewas kecuali Domino. Oops, spoiler!

Tenang saja, itu spoiler minor kok. Kisah sesungguhnya yang ditawarkan film ini sama sekali tak tergambarkan lewat trailernya. Film ‘Deadpool’ pertama dianggap sebagai produk budaya pop yang fenomenal - film superhero pertama dengan rating dewasa yang menghasilkan hampir 800 juta dolar Amerika, disukai penonton dan kritikus. Ekspektasi kita menjadi begitu tinggi untuk ‘Deadpool 2’ - bisakah ia setidak-tidaknya menyamai kualitas film yang pertama, atau malah bisa melampauinya?

Adegan di film Deadpool 2 (Foto: 20th Century Fox)

‘Deadpool’ pertama dirilis tepat di Hari Valentine pada tahun 2016, dan seakan disengaja cerita filmya sendiri memiliki nuansa romantis. Kini ‘Deadpool 2’ dirilis pas musim panas (musim panas di Amerika lho ya, di sini sih musim gak jelas sekarang panas besok ujug-ujug ujan lebat), nah, musim panas adalah musim liburan, musim para keluarga di Amerika datang ramai-ramai ke bioskop meyaksikan film-film Blockbuster ber-rating 13 tahun ke atas atau semua umur.

Tentu saja, ‘Deadpool’ dan ‘Deadpool 2’ adalah film yang subversif (memberontak) atas film-film yang medioker. ‘Deadpool’ menjadi subversif ketika ia mendefinisikan ulang genre komedi romantis, mengejek sekaligus memperlakukan genre tersebut dengan cara yang belum pernah dirangkul oleh film apa pun sebelumnya.

‘Deadpool 2’ dalam semangat yang sama dengan film pendahulunya tersebut, mencoba mendefinisikan kembali apa itu film keluarga, merobohkan strukturnya yang sudah begitu klise, tentu dengan cara mengejeknya pula, namun juga ia menempatkan kehangatan hati ala Disney di pusat cerita. Coba, mana ada film lain yang seperti ini?

‘Deadpool 2’ masih dikemas dalam balutan referensi budaya pop yang tak ada habisnya, beberapa di antaranya terasa terlalu dipaksakan untuk memenuhi keharusan gaya storytelling filmnya sendiri, tapi tak sedikit juga yang memang kehadirannya begitu pas.

Film dibuka dengan sebuah referensi yang begitu brutal terhadap film ’Logan’, bagi Anda fans berat Wolverine yang belum bisa move on dari kepedihan ending ‘Logan’, siap-siap saja untuk kembali diingatkan bahwa betapa ngenesnya takdir yang diterima Logan di akhir kisah kepahlawanannya.

Jagoan dari DCEU, MCU, Star Wars, bahkan hampir semua film kontemporer tak ada yang selamat dari cibiran si Deadpool, semuanya kena cemoohan. Referensi yang paling saya sukai dari Deadpool kali ini adalah tentang lagu ‘Do You Want to Build a Snowman’ dari film ‘Frozen’ yang diulang-ulang, namun setiap kali pengulangannya disertai konteks yang berbeda.

Referensi terakhir dari lagu ‘Do You Want to Build a Snowman’ yang disampaikan Deadpool terasa begitu super lucu sampai saya menganggapnya sebagai masterpiece tersendiri yang dicapai oleh trio penulis skenario film ini.

Deadpool (Foto: Youtube/20th Century Fox)

Keseruan yang coba dijual lewat trailer film ini pada dasarnya semuanya habis ditampilkan dalam 20 menit pertama, semua sekuen yang keren itu dimasukkan dalam montase-montase ketika Deadpool menceritakan bagaimana ia menghabiskan enam minggu terakhirnya.

Salah satu hal yang paling mengesankan dari film ‘Deadpool’ pertama adalah opening title-nya yang begitu nyeleneh nan cerdas, opening title ‘Deadpool 2’ dibuat sama nyelenehnya; nama-nama cast dan kru diganti dengan misalnya “Si Brengsek yang Membuat Film Anu”, “CGI Mahal”, “What the F**k”, dan kali ini opening title-nya memberi homage terhadap film-film James Bond, lengkap dengan soundtrack asli yang dibawakan Celine Dion. Gila-gilaan!

Seperti film pertamanya, narasi ‘Deadpool 2’ terjadi pada skala yang jauh lebih kecil ketimbang dengan sejumlah kisah pada film superhero lainnya. Melanjutkan romansa yang dibina sejak film pertama bersama sang kekasih, Wade sekarang ingin membina mahligai rumah tangga. Baik Wade dan Cable, keduanya ingin membina dan melindungi keluarganya masing-masing. Paralel (kesamaan) di antara jagoan kita dan musuhnya ini adalah sentuhan yang cerdik, ditulis dengan begitu telaten, menarik, dan koheren.

‘Deadpool 2’ juga memiliki paralel dengan film ‘John Wick’, tidak hanya lantaran diarahkan oleh salah satu sutradara ‘John Wick’, narasi ‘Deadpool 2’ sama-sama berbicara seputar kemarahan, rasa bersalah, dan balas dendam yang dirasakan setelah kehilangan sesuatu/seseorang yang penting.

Yang tidak paralel adalah, sekuen-sekuen kelahi di film ini tidak tampil sekeren dan seinventif sekuen-sekuen kelahi dalam ‘John Wick’, barangkali karena sutradaranya David Leitch, bukan Chad Stahelski. Tak ada sekuen kelahi yang memorable kali ini, semua tampak generik seperti kebanyakan film superhero lain.

Namun demikian, ‘Deadpool 2’ tetap memasukkan banyak aksi yang seru, brutal, penuh kekerasan dan menghibur. Fans ‘Deadpool’ pertama masih tak akan kecewa, tetapi mungkin bagi yang akrab dengan dua karya David Leitch sebelumnya sudah bisa menduga sedari awal. ‘Deadpool 2’ menjadi sekuel yang memuaskan.

Kekuatan film ini berasal dari ketiga penulis skenarionya yang datang dengan tawaran cerita baru nan segar, hingga menjadikan sekuel ini bukan sebagai jiplakan dari film pertamanya. Dan, ‘Deadpool 2’ belum kehabisan joke untuk mencela Green Lantern, serta mencela Deadpool versi ‘X-Men Origins: Wolverine’. Deadpool yang ini lho.

Foto materi promo X-Men Origins: Wolverine - hak cipta milik Twentieth Century Fox

yang matanya bisa mengeluarkan sinar laser seperti ini:

Still adegan X-Men Origins: Wolverine - hak cipta milik Twentieth Century Fox

Dua kali dicibir lewat dua film 'Deadpool' berturut-turut, Gavin Hood si sutradara 'X-Men Origins: Wolverine' beserta para produsernya, andaikan mereka orang Jepang, tak ada jalan lain untuk memulihkan reputasi mereka selain dengan cara harakiri.

Secara meta, lewat sebuah adegan, Deadpool sendiri berani membunuh Ryan Reynolds demi menghalanginya untuk tampil dalam film 'Green Lantern'. Oops, spoiler lagi.

Bodo!

Belum sirna kesan kita akan penampilan Josh Brolin sebagai Thanos dalam ‘Avengers: Infinity War’, dalam ‘Deadpool 2’ penampilannya juga masih jauh dari kesan mengecewakan. Ia memang masih kurang all out di sini, tetapi siapa yang dapat menafikan karismanya?

Ryan Reynolds… ia memang ditakdirkan untuk berperan sebagai Deadpool, sulit membayangkan aktor lain bisa menghidupkan watak Wade/Deadpool seperti yang ia perlihatkan lewat dua jilid film Deadpool, sesulit membayangkan aktor selain Hugh Jackman untuk menghidupkan karakter Wolverine.

Masih sama lucu, seseru film pertama, walau sedikit main aman, 'Deadpool 2' layak ditonton rame-rame buat seru-seruan, sambil ngabuburit tak ada salahnya juga kan? Di pengujung film, Insyaallah, Anda akan menemukan pelajaran hidup yang baik, yakni tentang pentingnya menjalin tali silaturahmi.

Apa saya bilang... seperti film Disney kan?

***

Untuk membaca review lainnya dari Shandy Gasella, klik di sini.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Senin,20/05/2019
Imsak04:25
Subuh04:35
Magrib17:47
Isya18:59
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.20