kumparan
30 Mar 2018 15:04 WIB

'Ready Player One': Surat Cinta Steven Spielberg Terhadap Budaya Pop

Ready Player One (Foto: dok: Amblin Entertaintment)
Skor: 3/5 | Shandy Gasella
Poster film 'Ready Player One' -- hak cipta milik Amblin Entertainment
ADVERTISEMENT
AKHIRNYA muncul juga pelem blockbuster dari Hollywood yang dibuat dengan semangat untuk menghibur penonton, dan juga menaruh rasa hormat terhadap mereka -- tidak asal-asalan membuat pelem "yang penting rame" tapi menomorduakan kualitas seperti layaknya 'Pacific Rim Uprising' (baca ulasannya di sini) yang baru-baru ini edar di bioskop tanah air. 'Ready Player One' adalah pelem pra musim panas arahan sutradara legendaris Steven Spielberg ('Jurassic Park', 'Close Encounters of the Third Kind') yang menawarkan segala keseruan pelem terbaik yang sedianya tayang di musim panas.
Sengaja saya menyebutnya "pelem" alih-alih "film", sebab di Amerika sendiri ada istilah bahwa "movie" dan "film" memiliki konotasi yang berbeda. Selama ini kedua diksi tersebut jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sama-sama berarti "film". Untuk memberikan gambaran betapa berbedanya makna "movie" dan "film", pada saat 'Ready Player One' tayang perdana di festival film SXSW pada awal Maret ini, Spielberg hadir dan memberikan kata sambutan sebelum pemutaran dengan menyebutkan bahwa 'Ready Player One' merupakan movie -- bukan film, popcorn flick -- bukan calon pemenang Oscar.
ADVERTISEMENT
Dalam pandangan Spielberg, yang ia maksudkan dengan film ialah di antaranya seperti 'The Post', 'Lincoln', 'Empire of the Sun', atau 'Schindler's List' bukan 'Jurassic Park', 'Jaws', atau 'Close Encounters of the Third Kind'. Maka dari itu, mulai hari ini, dalam ulasan-ulasan film yang saya tulis, saya akan menerjemahkan "movie" sebagai "pelem".
Kembali ke pelem ini. 'Ready Player One' diadaptasi dari novel laris berjudul sama karya Ernest Cline, mengambil latar di masa depan yang tak begitu jauh, tahun 2045, ketika dunia tampak suram untuk ditinggali, dan satu-satunya hal yang mengasyikan untuk dilakukan adalah live online di OASIS.
Wade Watts (Tye Sheridan, 'X-Men: Apocalypse', 'Scouts Guide to the Zombie Apocalypse'), begitu jagoan kita dinamakan demikian karena ayahnya mengira nama tersebut terdengar seperti nama superhero laiknya Peter Parker, Clark Kent, Matt Murdock, atau juga barangkali Steven Spielberg? -- tinggal di Columbus, Ohio, di sebuah trailer susun bersama bibinya dan pacar bibinya yang menjengkelkan.
Ready Player One (Foto: YouTube/Cieon Movies)
Wade saban hari keluar dari trailernya dan pergi ke persembunyiannya, sebuah mobil rongsokan di bawah tumpukan mobil rongsokan lain yang telah ia sulap menjadi tempatnya bermain game dengan perangkat headset VR, treadmill, dan baju yang disematkan sensor untuk live online di OASIS, dunia virtual mirip Matrix nyaris tanpa batas dimana para pemain dapat memanjat tebing bersama Batman, mengendarai mobil DeLorean dari pelem 'Back to the Future' yang terkenal itu, apa pun yang bisa kita impikan dapat terwujud di OASIS, tentu dengan usaha dan sejumlah koin yang bisa kita belanjakan untuk memenuhinya.
ADVERTISEMENT
Spielberg kali ini tidak tertarik untuk menciptakan visi masa depan a la 'Minority Report', dan penulis naskah Zak Penn ('The Avengers', 'The Incredible Hulk'), juga tidak tertarik untuk menciptakan narasi yang memikat dan mendalam di luar upaya Wade untuk menemukan Easter Egg sebelum korporasi jahat IOI yang dipimpin Nolan Sorrento (Ben Mendelsohn, 'Rogue One', 'Animal Kingdom') mendapatkannya lebih dahulu.
Sebaliknya, pelem ini adalah tentang pameran referensi ke nostalgia budaya pop tahun 1980-an & 90-an. Bagi beberapa penonton, hal tersebut mungkin menghibur. Bahkan menyenangkan. Bagi yang lain, itu seperti terperangkap dalam obrolan bersama Sheldon Cooper dari 'The Big Bang Theory' selama dua setengah jam, dan bila Anda tidak se-geek Sheldon, siap-siap saja untuk merasa menjadi penonton yang paling kuper (kurang pergaulan).
Ready Player One (Foto: YouTube/Warner Bros. Pictures)
Plot pelem ini disetir oleh sebuah misi (mission-driven), yakni menemukan sebuah easter egg yang tersembunyi di dalam OASIS. OASIS sendiri adalah dunia virtual karya James Halliday ('Bridge of Spies', 'The BFG') yang brilian dan eksentrik -- ironis ketika pelem ini sendiri (dan barangkali para penonton milenial) menyandingkan karakter Halliday sebagai "Steve Jobs masa depan", padahal ia lebih menyerupai sebagai karakter Willy Wonka dari 'Willy Wonka & the Chocolate Factory'.
ADVERTISEMENT
Laiknya Willy Wonka, Halliday memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk menjadi pewaris OASIS dan memiliki kontrol sepenuhnya bilamana dapat menuntaskan tiga misi permainan yang pada akhirnya dapat menuntun pemain yang berhasil untuk mendapatkan easter egg dan kekayaan triliniunan rupiah.
Wade dalam OASIS malih rupa ke dalam avatar bernama Parzival, cowok muda kulit putih dengan rambut belah tengah, yang anehnya, walaupun dilahirkan di tahun 2027, ia memilih mobil DeLorean sebagai tunggangannya di OASIS, DeLorean dari pelem 'Back to the Future' yang dirilis pada tahun 1985, 42 tahun sebelum ia lahir! Wade membuat istilah Oldskul memiliki makna melebihi apa yang kita ketahui sekarang. Semua pemain dalam OASIS berlomba-lomba menuntaskan ketiga misi tersebut. Parzival berteman dengan Aech (Lena Waithe dari serial TV 'This is Us'), avatar dalam bentuk cowok sangar nan kekar.
ADVERTISEMENT
Seiring plot berjalan, keduanya lantas menjalin pertemanan yang lebih luas lagi dengan beberapa karakter lain seperti Daito (Win Morisaki, 'Kamen Raider Daburu'), Sho (debut Philip Zhao), dan Art3mis/Samantha (Olivia Cooke, 'Me and Earl and the Dying Girl') sebagai cewek yang ditaksir jagoan kita. Lewat kerjasama tim yang baik mereka menuntaskan satu demi satu misi dengan mendapatkan perlawanan sengit dari avatar-avatar suruhan Nolan yang keji.
Tak perlu waktu lama bagi pelem ini untuk menghadirkan action yang dinanti-nantikan penontonnya. Tiga menit awal, lewat narasi voice over yang dibawakan Wade, kita tahu apa itu OASIS dan dampaknya dalam dunia kenyataan. Selepas itu adalah sajian action tiada henti yang bakal membuat kita lupa untuk menyantap pop corn atau meminum cola saking serunya pandangan kita tak teralihkan dari layar bioskop.
Ready Player One (Foto: YouTube/Warner Bros. Pictures)
Saya tak menduga bakal menjumpai Batman, mobil DeLorean, motor dari 'Akira', King Kong, The Iron Giant, Goro dari 'Mortal Kombat' di menit-menit awal pelem ini bergulir! Barangkali ada banyak referensi lain yang saya lewatkan sebab begitu penuh sesaknya karakter-karakter budaya pop mengisi bingkai demi bingkai pelem ini, dan ini yang saya sukai; pembuat pelem ini tak pernah merasa perlu untuk memberikan penjelasan bahwa karakter anu adalah karakter dari pelem anu atau dari game anu, pembuat pelem ini tahu bahwa fans bakal merasa senang ketika mereka menemukan karakter-karakter atau referensi budaya pop yang mereka sukai tampil di pelem ini begitu saja.
ADVERTISEMENT
Dalam 'Ready Player One' live action dan animasi bercampur begitu halus, nyaris tanpa ada gap berarti, teknik pembuatan pelem ini seperti sebuah upgrade dari apa yang dilakukan James Cameron lewat 'Avatar'.
Hampir semua karakter dalam pelem ini tampil menarik dan mengesankan. Parzival dan Aech ditampilkan laiknya banyak teman yang saya kenal secara online. Art3mis tak sekedar hadir sebagai pemanis belaka, tetapi ia memiliki tujuan yang membawanya lebih jauh daripada hanya menjadi sebagai pemain game yang terbaik. Daito dan Sho adalah saingan online yang sedikit berjarak. Mereka memiliki momen-momen istimewanya sendiri dalam pelem, tetapi kebanyakan momen itu hadir setelah jati diri mereka yang sesungguhnya terungkap pada sekitar 2/3 dari durasi pelem.
Ready Player One (Foto: YouTube/Warner Bros. Pictures)
Karakter Nolan Sorrento adalah penjahat hebat dan tampil penuh karisma, tak seperti kebanyakan karakter penjahat dalam pelem-pelem Hollywood medioker yang sering kita jumpai. Dia begitu penuh percaya diri, dan dalam OASIS ia menjelma menjadi seorang yang berotot nan kejam dalam setelan jas yang mengintimidasi. Dan ketika dia terpojok, tingkahnya menjadi sangat lucu. Anak buah online-nya, avatar bernama i-R0k (T.J. Miller dari serial TV 'Silicon Valley'), juga tampil sama mengesankannya, ia tipe cowok super badass yang tinggal di ruang bawah tanah ibunya yang hanya dapat Anda temukan di game online atau Twitter.
ADVERTISEMENT
Mark Rylance sebagai Halliday juga berhasil mencuri perhatian dalam setiap adegan yang menampilkannya. Ia sosok yang agak sedih, orang yang tidak pernah bisa menangani kenyataan, lantas melarikan diri ke dalam dunia rekaan yang ia ciptakan sendiri. Saya terkejut mendapati aktor/komedian Inggris terkenal Simon Pegg ('Hot Fuzz', 'Shaun of the Dead') sebagai Ogden Morrow, co-founder-nya, sungguh sebuah peran yang agak sia-sia, tetapi memang sedikit agak berbeda dari karakter-karakter yang biasa ia mainkan selama ini.
Pada mulanya saya skeptis bahwasanya Spielberg dapat kembali membuat blockbuster yang menyenangkan pasca 'The Adventures of Tintin' (2011) dan 'The BFG' (2016), dan belakangan ia lebih tertarik membuat film serius semisal 'Lincoln' dan 'The Post'. Sulit bagi seorang sutradara untuk menulis surat cinta terhadap film-film favoritnya, seorang penonton (fans) akan lebih mudah menulisnya.
ADVERTISEMENT
Tetapi, dalam menyutradarai 'Ready Player One' saya memiliki kesan seakan-seakan Spielberg menempatkan dirinya di kursi penonton, bersama kita. Pelem ini bergantung pada kecintaannya yang besar terhadap budaya pop, termasuk video game dan budaya pop dari Jepang pasca Kurosawa. Tanpa hasrat yang besar dari Spielberg, pelem ini tak akan memiliki daya ledak yang besar dan seasyik ini.
'Ready Player One' boleh jadi sebuah pelem tentang masa depan, tetapi ia sesungguhnya merupakan produk paling kekinian.
Video
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan