Entertainment17 September 2020 19:27

The Devil All The Time: Kekerasan dalam Lingkaran Setan

Konten kiriman user
★★★★☆ | Shandy Gasella
The Devil All The Time: Kekerasan dalam Lingkaran Setan (1462471)
Bill Skarsgard (kiri) sebagai Willard Russell dalam foto still adegan 'The Devil All The Time' | Netflix
Film arahan Antonio Campos berdasarkan novel karangan Donald Ray Pollock berjudul sama ini baru saja dirilis pada layanan streaming Netflix sejak kemarin (16/9/2020), dan ramai dibicarakan setidaknya selama sebulan terakhir ini lantaran film ini dipenuhi banyak bintang besar seperti Robert Pattinson, Tom Holland, Sebastian Stan, Mia Wasikowska, Bill Skarsgard, dan Jason Clarke — menjadikannya salah satu film yang paling ditunggu tahun ini.
ADVERTISEMENT
Nama Antonio Campos barangkali masih terdengar asing, karena memang film ini merupakan proyek terbesar yang pernah ia tangani selain lebih sering sibuk di dunia TV seperti memproduseri ‘The Sinner’ (2017-2018), dan menyutradarai satu episode ‘The Punisher’ yang juga diproduksi Netflix di tahun 2017. Tetapi, apa yang ia suguhkan lewat ‘The Devil All the Time’, menempatkan namanya seketika sederet di jajaran sutradara film yang menjanjikan.
Disyut menggunakan kamera film seluloid 35 mm, film dengan latar waktu 1940 hingga 1960-an ini memiliki look yang klasik, dengan lansekap pedesaan Ohio dengan hutan, danau dan perbukitan, rasanya bila disaksikan di layar lebar bioskop, belum lagi cerita dan penampilan para pemain yang luar biasa, ‘The Devil All the Time’ bisa jadi kandidat terkuat film terbaik yang saya saksikan sepanjang tahun ini.
The Devil All The Time: Kekerasan dalam Lingkaran Setan (1462472)
Robert Pattinson menjadi seorang pastor bejat dalam 'The Devil All The Time' | Netflix
1940-an
ADVERTISEMENT
Syahdan, Willard Russell (Bill Skarsgard, ‘IT’, ‘Atomic Blonde’), seorang tentara Amerika pulang ke kampungnya di selatan Ohio, setelah selesai bertempur melawan pasukan Jepang semasa akhir perang dunia kedua. Dia menyaksikan kekejian perang yang brutal, dia menyaksikan di antaranya seorang rekannya yang dikuliti hidup-hidup lantas digantung di atas salib. Willard mesti menembak mati sang rekan yang dikuliti hidup-hidup tersebut demi mengakhiri penderitaannya. Kenangan itu membekas dan traumatis baginya. Setiap melihat salib ia teringat pada kekejaman perang.
Willard pulang ke rumah ibunya, seorang Kristen yang amat taat dalam beragama. Dan ia tak pernah melewatkan ibadah Minggu sekali pun. Begitu Willard pulang, dalam rangka bersyukur kepada Tuhan atas kepulangan puteranya dengan selamat, ibunya mengajak ia ke gereja sekaligus berniat menjodohkannya dengan Helen (Mia Wasikowska, ‘Alice in Wonderland’, ‘Stoker’), sesama jemaat gereja. Tetapi, Willard sudah kadung jatuh cinta kepada Charlotte (Haley Bennett, ‘The Magnificent Seven’, ‘Music and Lyrics’), seorang pelayan sebuah kedai, yang ditemuinya semasa dalam perjalanan pulang.
ADVERTISEMENT
Pada periode ini, hiduplah seorang pastor yang gila dan sadistik bernama Roy Laferty (diperankan Harry Melling sang pemeran Dudley Dursley dalam serial film Harry Potter), yang kemudian menikahi Helen, si gadis yang tadinya coba dijodohkan dengan Willard.
1950-an
Satu dasawarsa berlalu. Willard menikah dengan Charlotte, dan dikaruniai seorang anak lelaki manis bernama Arvin (Arvin dewasa kemudian diperankan Tom Holland). Willard masihlah orang yang tak beriman, hingga pada akhirnya sang istri divonis kanker. Setiap hari, sepanjang hari ,ia tak henti-hentinya berdoa di hadapan salib agar istrinya dapat pulih sehat seperti sedia kala. Willard seketika putus asa, menjadi beringas, dan kemudian melakukan suatu tindakan yang amat membekas dan menghantui Arvin sepanjang hidupnya.
ADVERTISEMENT
Di periode ini pula, Roy sang pendeta, melewati batas kegilaannya dengan berdelusi mendengar firman Tuhan untuk membunuh seseorang lantas akan ia bangkitkan kembali dari kematian dengan kuasa Tuhan yang ia yakini kebenarannya. Pada satu titik perjalanan hidupnya, sang pastor gila ini pada akhirnya akan bertemu dan menemui ajalnya ketika bersinggungan dengan sepasang suami isteri gila pembunuh berantai yang memfoto para korbannya sebelum mereka dibunuh dengan keji.
1960-an
Di periode ini Arvin telah tumbuh dewasa, kini ia hidup bersama sang nenek dan pamannya yang juga mengasuh Lenora (Eliza Scanlen, ‘Little Women’, ‘Babyteeth’), anak dari Helen dan Roy sang pastor. Lenora dicintai dan dilindungi oleh Arvin laiknya seperti adik kandung sendiri. Hingga kemudian Lenora di-bully teman-temannnya di sekolah, lalu ia juga dimanipulasi seorang pastor bejat bernama Preston Teargardin (diperankan Robert Pattionson, ‘Twilight’, ‘Tenet’). Dalam semesta ‘The Devil All the Time’ ada hukum karma yang berjalan, dan kekerasan menghasilkan kekerasan lain yang tak berkesudahan, seperti roda kehidupan.
The Devil All The Time: Kekerasan dalam Lingkaran Setan (1462473)
Tom Holland sebagai Arvin Russell, pemuda gamang dengan masa lalu yang gelap dalam 'The Devil All The Time' | Netflix
‘The Devil All the Time’ adalah kisah Arvin Russell, bagaimana si anak manis ini pada akhirnya berakhir seperti sang ayah, hidup dengan jalan kekerasan — atau justru ia sedang berusaha memutus lingkaran setan yang terjadi selama lebih dari dua dasawarsa dan memakan banyak korban? Tetapi, itu tergantung sudut pandang kita dalam melihatnya. Pembuat film ini membuka ruang yang lebar untuk pembacaan atau pemaknaan filmnya sendiri.
ADVERTISEMENT
Durasi 2 jam 18 menit tak terasa panjang atau melelahkan lantaran demikian banyaknya karakter dengan permasalahannya masing-masing, dan bagaimana pembuat film mengemas film ini dengan sinematografi yang indah dan editing yang berhasil merajut sedemikian banyak cabang cerita menjadi satu kesatuan yang menarik perhatian kita. Belum lagi semua aktor bermain gemilang, terutama Tom Holland yang sudah kadung kita kenali sebagai Peter Parker sang Spider-Man. Di film ini image Peter Parker sama sekali hilang. Di sini ia mempertunjukkan kebolehannya sebagai aktor yang bukan main. Ia menjelma menjadi sosok yang kompleks yang padanya kita berharap, namun juga kita prihatin atas nasib yang menimpanya.
Banyak orang jahat di luar sana. Begitu film ini berpesan. Yang semestinya menjadi teladan, justru terkadang menjadi setan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white