Aksi tanggapi korban di Bucha, di Praha Republik Ceko

Bukan Benturan Peradaban

Shofwan Al Banna Choiruzzad adalah dosen di Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
13 April 2022 11:33
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Secara naluriah, peristiwa-peristiwa besar mendorong pertanyaan tentang tempat kita di dunia. Sering kali pencarian tersebut berujung pada penegasan identitas yang keras, yang menjadikan dunia terlihat hitam-putih. Saat pandangan hitam-putih itu diyakini oleh pembuat kebijakan yang berkuasa, konsekuensinya bisa jadi menjadi lebih buruk dari peristiwa yang menjadi pemicunya.
Tidak ada yang membantah bahwa peristiwa 11 September adalah sesuatu yang mengerikan dan bertentangan dengan kemanusiaan. Akan tetapi, penting untuk mengingat bahwa reaksi Amerika Serikat yang dicekam insting survival menghadirkan berbagai perang dengan dampak yang tidak kalah mencabik kemanusiaan, baik yang melibatkan langsung AS maupun tidak.
“Setiap negara, di semua kawasan, kini punya sebuah keputusan untuk diambil,” tegas Presiden George W. Bush dalam Joint Session of Congress and the American People pada tanggal 20 September 2001, “Bersama kami atau bersama teroris.” Narasi hitam-putih ini menghadirkan berbagai tindakan yang mengabaikan kesepakatan internasional dan, dilaporkan berbagai lembaga kemanusiaan independen, telah menghadirkan dampak kemanusiaan yang berat. Bahkan rival AS yang sekarang mulai dianggap sebagai ancaman pun dahulu dengan senang hati menggunakan Perang Global Melawan Terorisme untuk agenda mereka sendiri, seperti Rusia di Chechnya atau Tiongkok di Xinjiang.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanplus
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanplus
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Perang Rusia-Ukraina membuat upaya transisi energi menjadi tersendat. Padahal, tanpa perang ini pun, transisi bahan bakar fosil yang jumlahnya 80% itu bukan perkara mudah. Kolom Shofwan Al Banna, dosen Hub. Internasional UI, setiap Rabu.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten