Aset properti milik PM Sri Lanka Mahinda Rajapaksa hancur

Indonesia Perlu Belajar dari Krisis Sri Lanka

Shofwan Al Banna Choiruzzad adalah dosen di Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
25 Mei 2022 12:27
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Kata Tolstoy, “Semua keluarga bahagia sama, tapi keluarga yang tidak bahagia mengalami ketidakbahagiaannya dengan caranya masing-masing.” Demikian pula, semua negara terdampak pandemi COVID-19 dan krisis geopolitik di Ukraina, tapi tidak semua mengalami dampak dengan cara dan derajat yang sama. Salah satu yang mengalaminya dengan paling spektakuler adalah Sri Lanka, negeri yang terletak di jalur strategis Samudera Hindia dengan sejarah kuno yang panjang.
Setelah berakhirnya Perang Saudara dengan kelompok separatis Macan Tamil pada 2009 melalui tangan besi Mahinda Rajapaksa, perekonomian Sri Lanka tumbuh dengan pesat. Pertumbuhan tersebut didorong oleh industri pariwisata yang menarik wisatawan asing dari seluruh dunia, yang juga menumbuhkan sektor jasa di negara tersebut.
Sayangnya, cerita indah tersebut tiba-tiba harus berakhir seiring dengan meledaknya pandemi COVID-19. Tersumbatnya mobilitas global memukul industri pariwisata dan perekonomian Sri Lanka, menghadirkan krisis ekonomi yang semakin tak tertahankan. Saat ada sedikit harapan untuk pulih, konflik di Ukraina memperparah situasi. Kelangkaan energi membuat pemerintah harus memadamkan listrik hingga 13 jam dalam sehari, memperparah kondisi ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat. Antre untuk membeli BBM di pom sampai mengakibatkan korban meninggal karena harus berdesak-desakan dalam waktu yang lama di bawah matahari yang terik. Krisis pangan pun menerjang karena bahan pangan menjadi langka. Tidak hanya itu, banyak yang harus kembali memasak dengan kayu karena mereka kesulitan mendapatkan gas. Ujian sekolah pun harus dibatalkan karena ketiadaan kertas.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanplus
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanplus
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Perang Rusia-Ukraina membuat upaya transisi energi menjadi tersendat. Padahal, tanpa perang ini pun, transisi bahan bakar fosil yang jumlahnya 80% itu bukan perkara mudah. Kolom Shofwan Al Banna, dosen Hub. Internasional UI, setiap Rabu.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten