Shofwan Al Banna Choiruzzad - kumplus

Joe Biden Harus Lebih Serius di Asia Tenggara

Shofwan Al Banna Choiruzzad adalah dosen di Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
2 Juni 2022 15:24
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Paruh awal tahun 2022 ini menghadirkan berbagai momentum penting dalam hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara di Asia, termasuk Asia Tenggara. Pada Februari, Presiden Joe Biden meluncurkan Strategi Indo Pasifik, bahkan sebelum Strategi Keamanan Nasional yang utuh diluncurkan karena dokumen yang ada saat ini baru berupa “Interim National Security Strategic Guidance.”
Pada 11-13 Mei, untuk pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir, Presiden AS menyambut para pemimpin negara-negara ASEAN di kantor pusat pemerintahan AS di Gedung Putih dalam rangka US-ASEAN Special Summit. Meskipun ada berbagai gosip kekecewaan di antara sebagian diplomat ASEAN karena Presiden Biden hanya hadir dalam dua sesi pertemuan dan tidak mengoptimalkan rangkaian acara untuk membangun hubungan personal yang lebih akrab dengan para pemimpin ASEAN, secara umum forum tersebut berhasil menyampaikan pesan bahwa AS ingin meningkatkan kehadirannya di Asia Tenggara sebagai bagian penting dari Indo-Pasifik.
Penyelenggaraan US-ASEAN Special Summit itu kemudian diikuti dengan pertemuan di antara pemimpin negara-negara Quad, yang terdiri dari AS, Jepang, Australia, dan India. Pada saat yang hampir bersamaan, AS juga mulai menggencarkan tawaran keterlibatan dalam Indo Pacific Economic Framework (IPEF) yang dibangunnya.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanplus
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanplus
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Perang Rusia-Ukraina membuat upaya transisi energi menjadi tersendat. Padahal, tanpa perang ini pun, transisi bahan bakar fosil yang jumlahnya 80% itu bukan perkara mudah. Kolom Shofwan Al Banna, dosen Hub. Internasional UI, setiap Rabu.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten