Ferdinand Marcos Jr.

Marcos Jr. Menang: Apa Dampaknya pada Laut China Selatan?

Shofwan Al Banna Choiruzzad adalah dosen di Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
11 Mei 2022 12:46
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Pemilihan umum di Filipina telah terlaksana pada 9 Mei 2022 yang lalu. Sebagai sebuah negara yang terletak di jalur maritim strategis, sekaligus sebagai satu-satunya sekutu AS yang berbatasan dengan Tiongkok di Laut Cina Selatan, pergantian pembuat kebijakan tertinggi di negara tersebut tentu memiliki konsekuensi luas. Siapa yang terpilih dan kebijakan luar negeri seperti apa yang dibangun akan berdampak pada hubungan internasional di kawasan. Tidak heran, Washington maupun Beijing memantau perkembangan pemilihan umum tersebut dengan cermat. Jakarta (atau Nusantara) juga tidak boleh sampai terlewat.
Seperti yang diperkirakan, Ferdinand Marcos Jr., putra dari mantan presiden Marcos yang digulingkan oleh People’s Power pada 1986, memimpin perolehan suara untuk kandidat presiden dengan cukup meyakinkan. Sementara itu, di posisi wakil presiden, Sara Duterte, putri dari Presiden Rodrigo Duterte juga memimpin jauh perolehan suara untuk wakil presiden. Meskipun dipilih secara terpisah, tidak dalam paket seperti di Indonesia, kubu “Bongbong” Marcos (BBM) dan Sara Duterte memang membangun koalisi untuk saling mendukung dengan membentuk “Uniteam.” Kombinasi basis BBM di wilayah utara Filipina dan basis Duterte di selatan menjadi kunci bagi kemenangan telak para kandidat kontroversial ini.
Tentu saja, kontroversi bukan hal yang baru bagi Filipina. Ayah Sara, Rodrigo Duterte, mewarnai kepemimpinannya dengan penuh kontroversi, termasuk menggelar Perang Melawan Narkoba yang brutal dan melanggar HAM. Namun, gaya bicaranya yang blak-blakan dan cenderung kasar serta konfrontasinya dengan tokoh-tokoh elite Filipina malah terbukti membuatnya tetap populer hingga akhir masa jabatan. Bahkan Leni Robredo, yang menjadi rival Marcos Jr., sampai detik-detik akhir masih mencoba mendapatkan endorsement dari Duterte untuk membuka peluang kemenangan. Sayangnya, Duterte memilih tidak memberikan dukungan formal kepada calon presiden. Partainya, PDP-Laban, memberikan dukungan pada Marcos Jr. sebagai Presiden dan Sara Duterte sebagai wakil Presiden. BBM dianggap sebagai kandidat yang lebih selaras dengan arah kebijakan Duterte. Marcos Jr. adalah pilihan untuk “Lanjutkan!” sementara Leni Robredo adalah kandidat bagi mereka yang menghendaki perubahan.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanplus
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanplus
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Perang Rusia-Ukraina membuat upaya transisi energi menjadi tersendat. Padahal, tanpa perang ini pun, transisi bahan bakar fosil yang jumlahnya 80% itu bukan perkara mudah. Kolom Shofwan Al Banna, dosen Hub. Internasional UI, setiap Rabu.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten