Demonstran Palestina bentrok dengan polisi Israel

Serangan Israel ke Palestina: Bukan Cuma Soal Roket

Shofwan Al Banna Choiruzzad adalah dosen di Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
20 April 2022 11:42
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Israel kembali melakukan serangan udara ke Gaza pada 19 April 2022. Seperti tahun lalu, serangan ini dilaksanakan saat muslim Palestina menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Kali ini, penduduk Kristiani juga sedang merayakan paskah dan penduduk Yahudi sedang merayakan Passover. Seperti tahun lalu pula, negara zionis tersebut menyatakan bahwa serangan roket tersebut adalah balasan atas serangan roket yang diluncurkan dari wilayah yang disebut oleh Noam Chomsky, Medecins Sans Frontieres, dan bahkan mantan Perdana Menteri Inggris David Cameron sebagai “penjara dengan udara terbuka terbesar di dunia” (the world’s largest open-air prison).
Kita belum tahu apakah serangan udara kali ini akan berlanjut menjadi operasi militer yang lebih besar saat perhatian dunia tengah terpusat ke krisis di Ukraina. Akan tetapi, kita bisa menduga bahwa kalau ada korban sipil dan anak-anak lagi, Israel akan berdalih bahwa gedung yang diserang digunakan oleh HAMAS. Klaim yang sama digunakan Rusia ketika membombardir Ukraina (Rusia mengatakan bahwa militer Ukraina atau milisi Azov menggunakan rumah sakit, sekolah, dan pemukiman untuk menyerang Rusia) dan mengakibatkan korban sipil dan anak-anak.
Bedanya, klaim Rusia langsung dianggap sebagai kebohongan sementara klaim Israel diterima sebagai kebenaran oleh berbagai media besar dan pembuat kebijakan, meskipun klaim tersebut sudah terbukti bohong. Tahun lalu, Israel membom gedung yang digunakan oleh Associated Press dan Aljazeera dengan alasan bahwa gedung tersebut digunakan oleh HAMAS, namun kedua media tersebut membantah dan memberikan bukti-bukti bahwa tuduhan itu tidak berdasar. Amnesty International mencatat bahwa serangan ke gedung-gedung sipil termasuk pemukiman sudah menjadi pola yang diulang terus menerus oleh Israel dan harus diinvestigasi sebagai kejahatan perang.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanplus
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanplus
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Perang Rusia-Ukraina membuat upaya transisi energi menjadi tersendat. Padahal, tanpa perang ini pun, transisi bahan bakar fosil yang jumlahnya 80% itu bukan perkara mudah. Kolom Shofwan Al Banna, dosen Hub. Internasional UI, setiap Rabu.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten