kumparan
17 Mar 2019 19:51 WIB

5 Aksi Teror Paling Mematikan Yang Pernah Terjadi di Dunia

SINYALMAGZ.com – Apapun dalih yang diajukan oleh para pelaku aksi teror, tidak ada justifikasi apapun untuk tindakan terorisme. Bagaimanapun, segala bentuk aksi teror tidak bisa dibenarkan.
ADVERTISEMENT
Para pelaku teror (teroris), mereka adalah musuh bersama. Maka, segala bentuk kegiatan mereka tidak mempunyai tempat di dunia, layaknya koruptor.
Namun sayangnya, selama manusia ada di bumi, teror pun akan selalu ada membayangi.
Terbaru, aksi penembakan brutal yang terjadi di masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru, yang terjadi pada hari Jumat kemarin, 15 Maret 2019.
Aksi penembakan di masjid tersebut telah merenggut nyawa 49 orang, sementara 48 orang lainnya terluka dan dirawat di sejumlah rumah sakit.
Brenton Tarrant, salah seorang pelaku penembakan masjid di Kota Christchurch tersebut telah ditangkap oleh pihak kepolisian setempat. Ia diidentifikasi sebagai warga negara Selandia Baru kelahiran Australia, seorang ekstremis sayap kanan yang tidak termasuk dalam daftar teroris yang dimiliki oleh pemerintah.
ADVERTISEMENT
Dilansir dari Wearethemighty.com, Minggu (17/3/2019) setidaknya ada lima aksi teror yang membuat dunia terasa mencekam.
Berikut lima aksi teror paling berbahaya, yang pernah terjadi di dunia:
1. Pembajakan Luthfansa Flight 181
Pada tanggal 13 Oktober 1977, empat anggota Popular Front for the Liberation of Palestine, yang menyebut diri mereka sebagai Commando Martyr Halima membajak pesawat Luthfansa Flight 181.Tujuan pembajakan adalah mengamankan pembebasan Red Army Faction Leaders.
Pembajakan pesawat Luthfansa Flight 181.
Pesawat didaratkan di Mogadishu, Somalia, yang mendukung secara tidak langsung gerakan teroris tersebut.
Pada 18 Oktober 1977, pemerintah Jerman Barat yang bertanggung jawab atas keselamatan 90 orang, baik awak maupun penumpang pesawat, pun akhirnya melakukan tindakan tegas.
Pasukan anti teror GSG-9 melancarkan Operasi Feuerzauber yang bertujuan membebaskan sandera, dan mereka berhasil.
ADVERTISEMENT
2. Bom Bali 2002
12 Oktober 2002, dua ledakan menguncang Paddy’s Pub dan Sari Club di Legian, Kuta, Bali.
Kemudian disusul ledakan ketiga, yang terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat.
Bom Bali 2002
Atas peristiwa tersebut, tercatat 202 orang meninggal dunia dan 209 orang luka-luka atau cedera. Kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi tempat ledakan terjadi.
Peristiwa “Bom Bali” ini dianggap sebagai teror paling parah dalam sejarah Indonesia.
3. Pembajakan Kereta Du Pont
Terjegalnya Belanda dari Indonesia memicu pemberontakan bernama Republik Maluku Selatan (RMS) pada 25 April 1950. Namun, militer Indonesia berhasil memadamkan gerakan separatis ini, yang kemudian diikuti eksodus simpatisan RMS ke Belanda.
ADVERTISEMENT
Namun sial bagi para simpatisan RMS di Belanda, hidup mereka tidak ubahnya rakyat kelas dua yang membuat mereka dibedakan dengan penduduk asli.
Rasa iri ini kemudian dilampiaskan saat 9 orang simpatisan RMS eks Warga Negera Indonesia (WNI) membajak kereta api ekspress 747 Du Pont, pada tanggal 23 Mei 1977.
Pembajakan Kereta Du Pont.
Di saat bersaman, 4 orang RMS menyerbu sebuah sekolah dasar di Bovensmilde, mereka mengambil 105 anak-anak dan 5 orang guru sebagai sandera.
Tuntutan para pembajak adalah, menagih janji pemerintah Belanda agar memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia. Jika tidak, maka sandera bersama kereta akan diledakkan.
Tiga minggu kereta Du Pont dibajak, PM Uyl lantas pada 10 Juni 1997 mengambil tindakan keras dengan 2 ribu tentara Belanda mengepung kereta dan sekolah yang disandera RMS.
ADVERTISEMENT
Akhirnya kereta dan sekolah berhasil dibebaskan oleh aparat keamanan Belanda dari para teroris RMS.
4. Pembajakan Air France 139
Pada 27 Juni 1976, pesawat Air France yang membawa 248 penumpang dan 12 awak pesawat relasi Tel Aviv – Paris dibajak oleh dua orang Palestina dari Popular Front for the Liberation of Palestine.
Sempat didaratkan di Benghazi, Libya, pesawat kemudian menuju bandara Entebbe di Uganda, di mana pemimpin negara itu, Idi Amin Dada, mendukung upaya penyanderaan.
Penumpang yang kebanyakan warga Israel itu pun membuat negeri Zionis bertanggung jawab akan penyanderaan.
Operasi Entebbe pun dilancarkan pasukan komando Israel, yang berhasil membebaskan sandera dan membunuh 45 tentara Uganda di negara mereka sendiri.
 
ADVERTISEMENT
Halaman selanjutnya:
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan