Anak Memergoki Orang Tua Berhubungan Seks? Ini yang Harus Anda Jelaskan

SKATA adalah sebuah inisiatif digital yang mendukung pemerintah Indonesia dalam membangun keluarga melalui perencanaan yang lebih baik. SKATA lahir tahun 2015 melalui kerjasama antara Johns Hopkins Center for Communication Program dan BKKBN.
Konten dari Pengguna
12 Maret 2021 9:17
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Skata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Anak Memergoki Orang Tua Berhubungan Seks? Ini yang Harus Anda Jelaskan (76567)
searchPerbesar
Orang tua mana yang tak panik mendapati sang anak memergokinya sedang berhubungan seks? Sebagai orang tua, kejadian ini tentu menjadi hal yang paling ditakutkan dan dihindari. Sayangnya, ada kalanya orang tua lengah sehingga hal tersebut tak terhindarkan. Jika Anda mengalami hal ini, apa yang harus dilakukan?
ADVERTISEMENT
Menurut Anastasia Hanifah, M.Psi., Psikolog dari Kejora Indonesia, pahami terlebih dahulu bahwa anak perlu mendapat pendidikan seks sejak dini. Pada usia 2-3 tahun, anak sudah memiliki perasaan ingin tahu akan perbedaan tubuhnya dengan lawan jenis, juga sudah tahu konsep perempuan dan laki-laki. Jadi, mengenalkan alat kelamin tanpa mengganti namanya sangatlah penting. Pada usia 4-5 tahun, anak mulai menanyakan dari mana adik bayi berasal.
"Tanyakan pada anak apa saja yang sudah mereka ketahui dan apa yang sebenarnya ingin anak ketahui. Jadi, Anda tahu seberapa jauh harus memberi penjelasan," jelas Anastasia. Anda bisa menjelaskan lebih detil mengenai hubungan seksual ketika anak berada di usia 6-8 tahun. Pahamkan bahwa ini hanya dilakukan oleh orang dewasa yang sudah menikah.
ADVERTISEMENT
Bagaimana sebaiknya respon awal ketika terpergok melakukan hubungan seks di depan anak?
Pertama, tetap tenang. Walaupun tak bisa dipungkiri, berada di situasi tersebut membuat orang tua merasa panik dan malu. Namun, bersikap reaktif justru akan menimbulkan perasaan tidak nyaman pada anak, menimbulkan pertanyaan yang mengarah pada gangguan kepercayaan karena anak merasakan bahwa apa yang dilakukan orang tua salah. Beri waktu sejenak, terutama pada anak yang sudah berusia di atas 4 tahun. Setelah Anda dan anak bersikap tenang, komunikasikan penjelasan peristiwa tersebut secara tegas dan jelas.
Apa yang harus dijelaskan pada anak ketika mereka melihat orang tuanya berhubungan seks?
Meminta maaf adalah hal utama yang Anda harus lakukan. Jika ini terjadi pada anak usia 3-4 tahun, Anda bisa menjelaskan bahwa Ibu dan Ayah berpelukan dan berciuman karena saling mencintai. Tak perlu menjelaskan secara detil karena mereka belum memiliki konsep yang jelas.
ADVERTISEMENT
Berbeda dengan mereka yang berusia di atas 5 tahun. Alih-alih bertanya kepada anak apa yang mereka tahu dan lihat, baiknya jelaskan saja secara detil penjelasan “bagaimana bayi dibuat”. Utamanya, bicarakan secara faktual apa adanya sehingga anak akan paham bahwa ini adalah normal. Akan ada perasaan tidak nyaman, tapi tidak akan membuat anak merasa bingung dan cemas.
Bagaimana dengan ibu yang masih menyusui agar hubungan seks tetap “aman” walau berdampingan dengan bayi?
Hubungan seks dapat dilakukan ketika sang bayi tidur, namun perlu diperhatikan juga apakah anak akan merasa terganggu dengan gerakan yang terjadi. Berhubungan juga dapat dilakukan di area sekeliling bayi (tidak harus selalu di ranjang yang sama) di mana Anda tetap dapat melihat bayi. Rasa tenang karena masih bayi berada dalam pengawasan dapat meningkatkan excitement saat berhubungan, eksplorasi pun dapat dilakukan tanpa rasa was-was.
ADVERTISEMENT
Apa saja hal yang perlu diantisipasi agar hubungan seks tidak terpergok anak?
1. Pilih waktu yang tepat
Pemilihan waktu sangat penting saat berhubungan seks. Pastikan melakukan hubungan tidak di saat jam anak bermain atau melakukan aktivitas. Baiknya, di jam tidur mereka. Rencanakan waktu untuk orang tua melakukan hubungan seks, misal ketika anak sedang menginap di rumah teman atau sudah terlelap di malam hari.
2. Minimalisir hal yang membuat anak terganggu
Anda perlu pahami apa saja hal yang bisa menggangu anak ketika sedang tidur. Apalagi, jika Anda masih tidur bersama dengan anak. Ada anak yang sensitif terhadap suara, ada yang terganggu dengan gerakan, dan lain sebagainya. Perhatikan hal tersebut agar hubungan seks tidak sampai membangunkan anak.
ADVERTISEMENT
3. Ajari anak tentang privasi orang tua
Ajarkan anak mengenai waktu privasi Ayah dan Ibu, salah satunya dengan cara mengetuk pintu kamar Anda dan menunggu hingga Anda mengizinkan untuk masuk.
4. Perhatikan untuk mengunci kamar ketika melakukan hubungan seks.
Jika anak belum terbiasa mengetuk pintu kamar, namun sudah tidur terpisah dengan orang tuanya, memastikan kamar terkunci bisa menjadi solusi teraman untuk hubungan seks tanpa gangguan.
“Anak saya masih tidur bersama saya dan pasangan. Harus bagaimana, ya?”
Tidur satu ranjang dengan anak tak ada masalah, terutama untuk mereka di usia newborn hingga 18 bulan. Jika Anda ingin perlahan memisahkan tempat tidur dengan anak, lakukan secara bertahap. Temani anak, lalu pindahkan ketika ia tertidur. Pertahankan kedekatan ranjang dengan anak sehingga anak tetap merasakan kehadiran orang tua, tanpa harus menempel keduanya.
ADVERTISEMENT
Lazimnya, anak usia 5 ahun ke atas sudah bisa tidur di kamar sendiri. Komunikasikan sedini mungkin agar anak bisa belajar mandiri untuk terbiasa tidur sendiri.
Adakah trauma yang mungkin timbul pada anak dan bagaimana mengantisipasinya?
Ya, jika anak tidak mendapatkan penjelasan secara benar. Ini akan memberikan dampak pada pemahaman anak tentang hubungan seksual dan menyebabkan ketakutan. Di sinilah pentingnya pendidikan seks sesuai dengan tahapan usia anak. Sehingga, Anda bisa mengetahui sejauh mana pemahaman yang dimiliki oleh anak dan bisa menjelaskan pada anak saat kondisi “lengah” terjadi. Pentingnya anak memahami edukasi seks dari Anda ketimbang media atau orang lain, yang justru akan menimbulkan pandangan yang berbeda.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020