Salahkah Menjadi Strict Parents?

SKATA adalah sebuah inisiatif digital yang mendukung pemerintah Indonesia dalam membangun keluarga melalui perencanaan yang lebih baik. SKATA lahir tahun 2015 melalui kerjasama antara Johns Hopkins CCP dan BKKBN.
Konten dari Pengguna
15 Agustus 2022 9:00
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Skata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Salahkah Menjadi Strict Parents? (11832)
zoom-in-whitePerbesar
ADVERTISEMENT
“Nasib banget punya ortu strict parents. Pergi malem gak boleh, jam 6 udah harus ada di rumah. Tiap hari WAJIB belajar minimal 1 jam, walo lagi liburan sekolah! Gimana ada yang berani ajak nge-date kalo gini caranya?”
ADVERTISEMENT
Kalau membaca status remaja di atas, kita mungkin berpikir bahwa “aku dulu juga gitu kok”. Tapi, jujur saja, pada saat kita remaja tentu kita memandang orang tua kita enggak kalah “strict” daripada ortu ABG tadi. Meski orang tua seperti ini memang sudah ada sejak zaman dahulu kala, namun istilah strict parents memang cukup populer di kalangan anak remaja belakangan ini. Agar tak menjadi salah satunya, yuk kita simak penjelasan dari Titis Kusmawati, M.Psi, Psikolog dari Insight Psikologi.
Sebenarnya, apa itu strict parents?
Strict parents didefinisikan sebagai orang tua yang menempatkan standar dan tuntutan yang tinggi pada anak-anaknya. Strict parents dapat bersifat otoritatif (demokratis) dan otoriter.
Menurut Diana Baumrind, orang tua yang otoritatif sebenarnya hangat dan responsif walaupun punya standar yang tinggi. Mereka cukup terbuka untuk diskusi dengan anak dan memberikan bimbingan ketika mereka kesulitan. Sayangnya, karena sifatnya otoriter jadi cenderung dingin dan tidak suportif.
ADVERTISEMENT
Apa bedanya otoritatif dan otoriter?
Gaya pengasuhan otoritatif itu metode di mana orang tua punya kepercayaan lebih tinggi pada anak, sementara pola asuh otoriter punya tujuan membesarkan anak yang patuh dengan kendali eksternal alias memaksa anak berperilaku sesuai kemauan orang tua.
Seperti apa sih, sifat otoriter strict parents?
  1. Punya banyak aturan dan suka menuntut
  2. Suka memberi hukuman yang berat ketika anak melanggar aturan
  3. Bersikap dingin dan tidak responsif dengan kebutuhan anak
  4. Menggunakan kata-kata yang kasar dan mempermalukan anak
  5. Tidak mengizinkan anak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan
  6. Tidak meluangkan waktu untuk anak
Apakah orang tua yang tegas dan disiplin bisa dibilang strict parents juga?
Orang tua yang tegas dengan didikan yang disiplin biasanya termasuk dalam kategori strict parents yang bersifat otoritatif.
ADVERTISEMENT
Strict parents ini cenderung ke arah yang positif atau negatif, ya?
Strict parents yang bersifat otoritatif cenderung ke arah yang positif. Namun sayangnya kebanyakan strict parents tidak bersifat otoritatif melainkan otoriter. Nah, strict parents yang bersifat otoriter ini cenderung ke arah yang negatif. Dampak buruk yang dapat terjadi pada anak yaitu:
  • menjadi tidak bahagia dan depresi,
  • memiliki gangguan perilaku,
  • tidak percaya diri,
  • membuat anak suka berbohong, dan
  • memiliki motivasi yang rendah.
“Sepertinya saya strict parent yang otoriter deh... Harus bagaimana ya?
Menyadari bahwa diri adalah strict parents yang otoriter sudah merupakan langkah awal yang baik. Secara bertahap, hal tersebut dapat diubah.
Orang tua dapat memulainya dengan meminta maaf terlebih dahulu kepada anak. Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Dengan meminta maaf pada anak diharapkan dapat memperbaiki situasi dan lebih meningkatkan ikatan emosional antara anak dan orang tua.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya, orang tua juga dapat memulai dari hal yang mudah, misalnya dengan tidak menggunakan kata-kata kasar dan hukuman berat, atau mulai meluangkan waktu untuk anak. Apresiasi hal positif yang ditampilkan anak seperti penampilan, kepribadian, pencapaian, atau bahkan upaya yang dilakukan oleh anak. Namun, jika hal-hal tersebut sudah diupayakan dan anak terlihat mengalami hambatan psikologis dalam kesehariannya, jangan ragu untuk menghubungi bantuan profesional seperti psikolog, ya.
Atau, ikuti kelas online Berdamai dengan Diri bersama psikolog Alzena Masykouri, M.Psi, Psikolog agar kita bisa mengelola emosi saat mengasuh anak dan melepaskan diri dari luka pengasuhan.
Bagaimana membangun kualitas anak yang baik tanpa harus otoriter?
Untuk membangun kualitas anak yang baik, orang tua perlu membangun hubungan yang positif dan hangat terlebih dahulu dengan anak. Perbanyak apresiasi dan luangkan waktu untuk melakukan hal yang menyenangkan bersama anak. Adanya hubungan yang baik diharapkan membuat anak lebih mudah untuk diajak bekerja sama. Tetap dibutuhkan adanya aturan tegas yang harus diikuti anak disertai penjelasan dibalik aturan tersebut. Orang tua bisa tetap bersikap tegas dalam menerapkan aturan dan memberikan konsekuensi, namun dengan tetap mempertimbangkan pendapat dan perasaan anak.
ADVERTISEMENT
Photo created by drobotdean - www.freepik.com
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020