Tekno & Sains
·
15 Oktober 2020 11:17

Apa Kabar Vaksin Merah Putih?

Konten ini diproduksi oleh Sri Surati
Apa Kabar Vaksin Merah Putih? (23536)
Ilustrasi vaksin dan imunisasi Foto: Shutterstock
Indonesia memiliki urgensi untuk melakukan percepatan pengembangan vaksin COVID-19. Urgensi tersebut didukung oleh jumlah populasi yang besar di Indonesia, vaksin pun dinilai sebagai komoditi yang strategis karena kapasitas produksi yang masih terbatas dan yang terpenting melalui vaksinasi dapat meningkatkan produktivitas masyarakat sehingga ekonomi Indonesia dapat pulih dengan cepat.
ADVERTISEMENT
Untuk kasus pandemi global seperti ini, tidak bisa hanya mengandalkan kekebalan komunitas atau herd immunity yang hanya mengandalkan imunitas dari manusia yang telah terinfeksi yang berarti harus menunggu ratusan juta penduduk terinfeksi terlebih dahulu dan semua dapat pulih kembali.
Satu-satunya harapan untuk mendapatkan kekebalan komunitas ini adalah dengan melakukan vaksinasi. Indonesia yang juga tergabung dalam aliansi COVAX berkomitmen untuk mengembangkan, memproduksi serta memasarkan vaksin COVID-19.
Selain vaksin impor, beberapa lembaga penelitian pemerintah dan Universitas di Indonesia berlomba-lomba mengembangkan vaksin dengan platform atau antigen yang berbeda-beda. Vaksin yang kemudian dikenal dengan sebutan vaksin merah putih ini memiliki kelebihan dibandingkan vaksin impor, di antaranya menggunakan varian virus yang memang berasal dari Indonesia dan produksinya tentu diusahakan dapat memenuhi unsur kehalalan.
ADVERTISEMENT
Pengembangan Vaksin Merah Putih
Beberapa lembaga penelitian pemerintah dan Universitas yang diketahui sedang mengembangkan vaksin COVID-19, antara lain Lembaga Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Udayana (Unud).
Lembaga penelitian Biologi Molekular Eijkman dan LIPI melakukan pengembangan vaksin menggunakan subunit protein, seperti yang banyak dikembangkan di beberapa negara. Professor Amin Soebandrio selaku Kepala Lembaga Eijkman mengatakan bahwa kemajuan pengembangan vaksin berbasis protein rekombinan ini telah mencapai 55%.
Dalam mengembangkan vaksin ini, lembaga Eijkman mengambil gen pengkode protein kapsul dari sekuen RNA virus SARS Cov-2 yang kemudian disisipkan dalam plasmid yang akan dimasukkan ke dalam sel inang. Karena pembelahannya yang cepat, sel inang akan mampu memproduksi protein dalam jumlah yang banyak.
ADVERTISEMENT
Sedikitnya dua gen digunakan dalam pengembangan vaksin ini yaitu gen pengkode protein spike dan gen pengkode nukleokapsid. Protein spike merupakan protein khas dari SARS Cov-2 yang digunakan oleh virus untuk menginfeksi manusia sedangkan nukleokapsid adalah protein yang menyelubungi RNA virus.
Sejalan dengan Eijkman, LIPI pun menggunakan gen pengkode protein spike utuh termasuk dengan bagian-bagiannya. Menariknya, vaksin yang dikembangkan oleh LIPI akan dibuat dalam bentuk spray yang langsung menyasar bagian mukosa pada hidung.
Sedikit lebih terlambat dari Eijkman yang dijadwalkan akan mulai uji pre klinis apda awal tahun 2021, LIPI baru akan memulai uji pre klinis pada pertengahan 2021. Setali tiga uang dengan Eijkman, vaksinasi rencananya akan diberikan dalam dua dosis untuk meningkatkan kemanjuran vaksin.
ADVERTISEMENT
Berbeda dengan Eijkman dan LIPI, Unair dan ITB menggunakan virus lain yaitu Adenovirus sebagai vector atau pembawa gen pengkode protein spike SARS Cov-2. Adenovirus merupakan virus yang tidak berbahaya dan ketika Adenovirus dimasukkan ke dalam tubuh maka tubuh akan memproduksi antigen yang diharapkan dapat memicu respons imun.
Vaksin ini mirip dengan Cansino yang akan diimpor dan yang dikembangkan oleh peneliti di Oxford. Professor Nyoman mengatakan bahwa uji pre klinis mungkin akan dilakukan pada akhir tahun ini atau awal tahun depan.
Pendekatan berbeda dilakukan oleh para peneliti di UI dan Unud. Sementara peneliti di UI mengembangkan vaksin berbasis DNA, peneliti di Unud mengembangkan vaksin berbasis mRNA. Bagaimana memasukkan DNA ke dalam inti sel menjadi tantangan terbesar pengembangan vaksin yang dilakukan di UI.
ADVERTISEMENT
Unud mengembangkan vaksin berbasis mRNA karena dinilai sangat cepat, tidak membutuhkan fasilitas canggih dan prosesnya hanya dalam tabung reaksi. Pendekatan ini dirasa cocok dikembangkan dalam masa pandemi.
mRNA yang mengkode protein spike, nukleokapsid dan dua gen lain pemicu gangguan pernafasan berat, dibungkus dalam liposom. Ketika mRNA masuk ke dalam sel dalam tubuh maka tubuh akan memproduksi protein tersebut dan diharapkan memicu respon imun dalam tubuh.
Tantangan Vaksin Merah Putih
Dalam mengembangkan vaksin merah putih, belum tentu tanpa kendala. Beberapa masalah seperti waktu tunggu reagen, kepastian sumber dana penelitian, pendanaan untuk keberlanjutan uji pre klinis dan uji klinis, produksi skala lanjutan dan riset eksplorasi imunologis menjadi tantangan terbesar.
Menristek BRIN, Prof. Bambang Brodjonegoro, Ph.D menyatakan bahwa ketika uji pre klinis selesai maka bibit vaksin dapat diberikan kepada Biofarma untuk uji klinis fase I-III. Peran BPOM sangat diharapkan dalam proses pemberian izin edar dan penerapan GMP (Good Manufacturing Process) dalam produksi vaksin. Beberapa pihak swasta juga menyatakan ingin membantu pengembangan vaksin merah putih ini.
ADVERTISEMENT
Dari sisi produksi dan distribusi, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain pencarian bahan baku yang tidak berasal dari hewan namun dapat diperoleh secara komersial untuk menjamin kehalalan, fasilitas untuk menerapkan GMP, keamanan dan efektivitas vaksin, kemampuan memicu respons yang cepat sebelum pandemi berakhir, cara distribusi yang baik dan nilai ekonomi vaksin.
Biaya yang besar dibutuhkan dalam pengembangan vaksin sehingga peran industri juga sangat diharapkan untuk berinvestasi dalam pengembangan vaksin merah putih yang umumnya dilakukan sejak uji pre klinis.
Selain itu, untuk menjamin keamanannya, ada tidaknya fenomena ADE (Antibody-Dependent Enhancement) dipastikan menjadi parameter yang harus diuji ketika melakukan uji pre klinis.
3M untuk Tetap Sehat
Apakah vaksinasi mampu menghilangkan COVID-19? Fakta membuktikan bahwa butuh 200 tahun untuk membuat dunia bebas dari cacar. Oleh sebab itu, masyarakat yang telah diberikan vaksinasi harus tetap melaksanakan protokol kesehatan dengan disiplin.
ADVERTISEMENT
Agar upaya meminimalisir penyebaran COVID-19 ini berhasil, masyarakat tetap harus menerapkan 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak) baik selama menunggu vaksin dan setelah ada vaksin, karena vaksin tidak akan menggantikan 3M.