• 21

USER STORY

Belajar dari Boaz Solossa

Belajar dari Boaz Solossa


Saya bukan pecandu sepak bola. Tapi beberapa pekan terakhir sungguh dibuat haru biru menikmati suguhan para pahlawan kita: Tim Nasional Indonesia berlaga di babak final AFF Suzuki Cup 2016.
Boaz Solossa dan skuat yang dikapteninya berpeluh memeras tenaga menjadi tumpuan harapan dan kebanggaan ratusan juta rakyat Indonesia. Mereka bahu membahu; satunya menjadi ujung tombak untuk menjebol pertahanan lawan, satu lagi mati-matian menjaga garis pertahanan terakhir Republik Indonesia. Dua pertandingan terakhir memang dramatis, mengaduk-aduk emosi tidak saja pemain, para officials, dan penonton di stadion; tetapi juga emosi seluruh bangsa.
Semalam kita dikalahkan 2-0 di kandang lawan, setelah Boaz dan 21 rekan satu squatnya habis-habisan berlaga. Semua menjadi saksi betapa hebatnya perjuangan seluruh pemain Indonesia: terus bertempur, begerak cepat, menerjang, menghalau bola ke gawang lawan, bertahan dari gempuran bertubi-tubi. Saya tidak kecewa dengan kekalahan dalam angka, sebaliknya kita patut bangga dengan daya juang mereka.
Emosi dan ghirah kita sebagai bangsa, sangat wajar tesulut dan teraduk-aduk. Sama halnya ketika menyaksikan pebulutangkis Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir berlaga melawan Malaysia di final Olimpiade Rio, Brasil, Agustus lalu. Sekurang-kurangnya ada dua alasan yang membuat suasana batin kita sedemikian rupa.
Pertama, sudah lama memang kita mengalami paceklik prestasi di dunia olahraga. Kedua, kompetisi olahraga memang kompetisi terbuka yang mengadu daya saing hakiki kita: kemampuan teknik, kemampuan berstrategi, stamina fisik, daya juang, dan mental. Keunggulan dalam kompetisi olahraga adalah kebanggan dan harga diri suatu bangsa, sesuatu yang tidak dapat ditukar, dan tak bisa diperjualbelikan.

Sudirman Said belajar dari Boaz Solossa.

Sudirman Said belajar dari Boaz Solossa. (Foto: WEF)
Prestasi dan kebanggaan hakiki hanya tumbuh dalam alam yang menyuburkan kompetisi hakiki pula. Di sinilah perlunya dibangun dengan kuat budaya dan kebiasaan menerapkan asas-asas meritokrasi. Keunggulan ditentukan oleh kemampuan. Yang berkemampuan akan mendapat kesempatan. Untuk mendapatkan kemampuan dan keunggulan tak ada jalan lain kecuali belajar, berlatih, mempersiapkan diri. Kenyataannya, lebih luas dari sepak bola dan olahraga, prinsip-prinsip meritokrasi dalam banyak lapangan kehidupan memang sedang dalam ujian berat.
Sikap dan perilaku elite yang tampak di publik, berseberangan dengan elan kompetisi yang memacu keunggulan sejati. Sebagai contoh, kompetisi dalam memilih pemimpin organisasi bukan didasarkan siapa yang paling kuat visi dan kepemimpinannya, melainkan sering berakhir dengan adu kuat dalam hal-hal yang primitif: kuat politik, kuat logistik, keberanian melanggar norma.
Lebih mengenaskan lagi, ada kecenderungan, siapa yang paling mampu dan “tega” merusak tatanan dan kepatutan dia akan tampil sebagai pemenang. Usaha-usaha mulia untuk memenangi kompetisi sejati dengan cara berlatih, belajar, memperkuat substansi, sering kali kalah pamor dibanding dengan perilaku merobos tatanan dan kepatutan.

Tidaklah fair hanya menitipkan harapan kepada olahragawan untuk berprestasi mengharumkan Indonesia, sementara cara kita mengurus kehidupan terus saja melemahkan daya saing.

- Sudirman Said

Menyuap, kooptasi, membeli pengaruh, memperdagangkan hak suara, sampai-sampai menyogok wasit dianggap sebagai sikap berani. Orang-orang tertentu yang berani menjungkirbalikkan tatanan dan kepatutan dalam meraih tujuannya, ditempatkan dalam panggung besar penuh penghormatan, meskipun bahasa tubuhnya tak sedikitpun memancarkan aura kehormatan.
***
Boaz Solossa, Kurnia Meiga, dan 21 anggota squat lainnya, semalam telah memberikan yang terbaik yang mereka punya. Hidup pribadi mereka—23 putra-putri terbaik bangsa—pasti jauh lebih sederhana dari sebagian elite yang digdaya. Sudah bertahun-tahun lamanya, mereka hidup, berlatih, dan berlaga dalam lingkungan yang belum sepenuhnya menjunjung tinggi kompetisi sejati. Kita kagum, dalam situasi yang demikian pun mereka masih mampu menorehkan rasa bangga.
Tidaklah fair hanya menitipkan harapan kepada olahragawan untuk berprestasi mengharumkan Indonesia, sementara cara kita mengurus kehidupan terus saja melemahkan daya saing, dan menghancurkan kebanggaan bangsa. Kepada Boaz Solossa kita patut belajar.
Jakarta, 18 Desember 2016
Sudirman Said

InspirasiSepak BolaPiala AFF 2016Timnas Indonesia

500

Baca Lainnya