Konten dari Pengguna
Ketika Sungai Mengirim Pesan: Membaca Banjir Aceh Singkil 2025
3 Desember 2025 18:30 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Ketika Sungai Mengirim Pesan: Membaca Banjir Aceh Singkil 2025
Banjir Aceh Singkil 2025 bukan sekadar peristiwa alam biasa. Ia adalah puncak dari rentetan perubahan lingkungan yang tak terawat. Curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu, tetapi bukan sepenuhnya.Suhardin Djalal
Tulisan dari Suhardin Djalal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Setiap daerah memiliki cara sendiri untuk berbicara kepada manusia. Aceh Singkil memilih sungai Simpang Kanan (Lae Cinendang) dan sungai Simpang Kiri (Lae Sukhaya). Dua aliran besar ini bukan hanya tubuh air yang mengalir dari hulu Leuser dan pegunungan Sumatra Utara, keduanya adalah urat nadi yang sejak lama menafkahi perjalanan hidup masyarakat Singkil. Di sepanjang tepian keduanya tumbuh kampung-kampung tua, pasar tradisional, jalur hubungan ekonomi, bahkan batas-batas imajinatif tentang identitas orang Singkil.
ADVERTISEMENT
Bagi masyarakat pesisir selatan Aceh, sungai bukan sekadar unsur geografis. Ia adalah sumber air minum zaman dahulu, tempat mandi masa kecil, jalur transportasi nenek moyang, dan latar setiap kisah ketika para petani menunggu musim, nelayan pulang membawa hasil tangkapan, atau ibu-ibu bertegur sapa di bantaran. Sungai adalah ruang sosial, ruang budaya, ruang ekonomi. Di situlah denyut kehidupan dimulai dan kembali berulang.
Itulah sebabnya, ketika sungai tiba-tiba berubah menjadi ancaman pada tahun 2025 membawa banjir besar yang merendam kampung-kampung, merusak perumahan, hingga menutup akses antarwilayah kita seakan sadar bahwa ada pesan yang sudah lama dikirimkan alam, tetapi terus-menerus kita lewatkan.
Sungai, Lingkungan, dan Kebudayaan yang Berubah
Hubungan manusia dengan sungai tidak pernah statis. Masyarakat Aceh Singkil yang dahulu hidup harmonis dengan aliran air, kini berada dalam lanskap yang berubah cepat. Lahan-lahan di hulu baik di wilayah Alas-Gayo maupun Sumatra Utara tidak lagi sama seperti dua dekade lalu. Hutan yang semestinya menjadi spons alam, menyerap curah hujan tinggi, kini mulai menipis.
ADVERTISEMENT
Perubahan tutupan lahan berjalan perlahan, tetapi pasti; mulai dari pembukaan kebun baru, perluasan perkebunan sawit dari pihak swasta, hingga perubahan praktik pertanian tradisional menjadi skala besar. Selain hal itu, pembukaan dan aktivitas tambang juga sangat berpengaruh besar.
Di hilir, tepian sungai yang dulunya rimbun kini lebih terbuka. Ada rumah-rumah yang dibangun terlalu dekat, ada bantaran yang tergerus, ada rawa yang dikeringkan. Sungai yang mestinya diberi ruang gerak sebagai makhluk alam yang dinamis justru dipersempit. Kita lupa bahwa sungai tidak suka dicekokkan ke dalam jalur kaku. Ia butuh ruang untuk menampung, meander, dan bernapas.
Sementara itu, budaya menjaga hutan, budaya memahami tinggi-rendah air berdasarkan gerak arus semua perlahan memudar. Kita sibuk membangun, tetapi lupa mengenal kembali alam yang menjadi rumah kita sendiri.
ADVERTISEMENT
Ketika Bencana Terjadi: Banjir 2025 sebagai Akumulasi Luka
Banjir Aceh Singkil tahun 2025 bukan sekadar peristiwa alam biasa. Ia adalah puncak dari rentetan perubahan lingkungan yang tak terawat. Curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Air kiriman dari hulu Sumatra Utara dan Alas-Gayo datang dalam volume yang tak lagi bisa ditahan. Hutan yang hilang, drainase alami yang menyempit, dan lahan yang berubah fungsi membuat perjalanan air menjadi liar.
Air bah yang turun minggu itu bukan sekadar banjir. Ia membawa pesan bahwa alam sudah memberi batas, dan manusia melewatinya. Kampung-kampung terendam, jalan-jalan terputus, sawah-sawah rusak, dan ribuan warga terpaksa mengungsi. Banyak keluarga kehilangan harta benda. Banyak pula yang harus berjauhan dari keluarga, menunggu kabar yang tak kunjung datang karena jaringan komunikasi terputus.
ADVERTISEMENT
Ketika air mulai surut, justru di situlah penderitaan sesungguhnya dimulai. Air bersih menjadi langka. Obat-obatan dibutuhkan segera. Makanan pokok harus didistribusikan cepat, tepat, dan merata. Keresahan muncul: apakah bantuan cukup? Apakah semua kampung tersentuh? Apakah ada yang tertinggal?
Banjir memperlihatkan betapa rentannya masyarakat ketika alam berubah arah.
Mitigasi: Belajar Membangun Masa Depan yang Tidak Lagi Rawan
Bencana harus menjadi guru. Aceh Singkil tidak boleh hanya menunggu hujan datang, lalu berharap sungai bersikap baik. Kita perlu bekerja hingga ke hulu secara harfiah maupun maknawi.
Mitigasi dimulai dari menjaga ruang hidup sungai. Bantaran harus dipulihkan, dirimbunkan kembali. Rawa-rawa, daerah resapan, dan jalur air alami perlu dibebaskan dari bangunan yang menghambat aliran. Di hulu, koordinasi lintas daerah harus diperkuat. Sumatra Utara dan dan Aceh tidak sedang menghadapi masalah terpisah; mereka terhubung oleh satu aliran besar yang menghidupi sekaligus mengancam.
ADVERTISEMENT
Mitigasi juga berarti membangun kesadaran kolektif. Edukasi lingkungan perlu diperluas: bagaimana masyarakat menjaga drainase, memetakan kawasan rawan longsor, menata permukiman, hingga menanam kembali area gundul. Pemerintah harus memimpin, tetapi masyarakat harus ikut berjalan bersama.
Dan yang tak kalah penting, kita butuh sistem peringatan dini yang lebih kuat. Sungai selalu memberi tanda air yang keruh, arus yang cepat. Teknologi dapat membantu kita membacanya dengan lebih presisi.
Peran Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah punya tugas besar: memperbaiki tata ruang, memperkuat pengawasan lingkungan, menyiapkan anggaran mitigasi, menambah infrastruktur pengendali banjir, serta mempercepat respons darurat saat bencana terjadi. Namun pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.
Masyarakat, dengan pengetahuan lokalnya, adalah penjaga pertama sungai. Mereka tahu kapan air naik, kapan hutan berubah, kapan kampung terasa tidak aman. Mereka adalah mata dan telinga yang paling dekat dengan bencana. Ketika keduanya bekerja bersama pemerintah sebagai pengarah kebijakan dan masyarakat sebagai penggerak lapangan maka bencana bukan lagi momok, tetapi bagian dari siklus alam yang bisa dikelola.
ADVERTISEMENT
Harapan: Membangun Hubungan Baru dengan Sungai
Banjir 2025 seharusnya menjadi titik balik. Kita tidak bisa mengulang cara hidup lama yang memperlakukan sungai sebagai halaman belakang yang bisa dibiarkan atau dipersempit seenaknya. Sungai adalah tetangga tua yang hatinya mudah tersinggung ketika dilupakan. Ia akan marah, tetapi ia juga bisa menjadi sahabat terbaik jika kita merawatnya.
Harapan masa depan Aceh Singkil terletak pada kemampuan kita membaca pesan alam, bukan hanya setelah bencana, tetapi sebelum ia terjadi. Kita perlu belajar kembali dari leluhur, dari budaya yang akrab dengan sungai, dari adat yang menempatkan alam sebagai ruang hidup yang harus dihormati. Kita perlu mengembalikan sungai ke posisi aslinya: sumber kehidupan, bukan sekadar saluran pembuangan.
ADVERTISEMENT
Pada akhirnya, banjir 2025 mengajari kita bahwa alam tidak pernah diam. Ia berbicara, mengingatkan, dan sesekali meninggikan suara ketika nasihatnya tidak didengar. Kini tinggal satu pertanyaan besar bagi kita semua:

