kumparan
19 Des 2018 8:36 WIB

Kisah Pilu Difabel Terlantar di Palabuhanratu, Ahoy: Kangen Mamah

Ahoy, bocah laki-laki penyandang difabel yang sempat terlantar di Palabuhanratu. (Foto: Demmy Pratama)
ADVERTISEMENT
SUKABUMIUPDATE.com - Terlihat gontai dan berat langkah bocah lelaki berusia 11 tahun dengan kaki dan tangan yang tak biasa itu. Tatapan matanya kosong, seakan tengah menghitung jumlah kendaraan yang lewat di depannya.
Sesekali, ia menghampiri temannya dan bencengkerama. Tak lama kemudian, ia kembali bersandar di tembok sebuah minimarket di Jalan Citepus, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Ironisnya, lokasi itu tak jauh dari komplek Pusat Pemerintahan Kabupaten Sukabumi.
"Ahoy!" terdengar seorang anak lainnya memanggil bocah lelaki itu. Ya, Ahoy adalah panggilan akrab bagi anak difabel yang memiliki nama asli Rasya tersebut.
"Mamah kerja ke Taiwan," jawab singkat Ahoy saat sukabumiupdate.com mengajaknya berbincang, Selasa (18/12/2018).
Ahoy kemudian bercerita tentang kisah hidupnya. Ia mengaku sudah tiga bulan ditinggal pergi sang ibunda yang sempat meminta izin kepadanya untuk bekerja di luar negeri.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Ahoy tidak bercerita banyak tentang ayahnya. Ia mengaku tidak pernah bertemu, setelah ibu dan ayahnya berpisah.
"Ahoy cuma kangen mamah," kata Ahoy dengan suara yang kurang begitu jelas.
Saat ini, Ahoy dirawat oleh keluarga Asep Dadun Kohar (44). Asep adalah pemilik rumah kontrakan yang pernah dihuni Ahoy bersama ibunya selama beberapa tahun.
Sekitar dua bulan terakhir, Ahoy tinggal di rumah Asep yang memiliki seorang istri dan empat anak.
"Ibu Ahoy sempat mengontrak di tempat saya. Tiga bulan lalu keluar dari kontrakan, namun meninggalkan Ahoy dan malah menitipkan Ahoy ke tetangga yang lain," kata Asep.
Sebelum tinggal di rumah Asep, Ahoy sempat terlantar. Tak jarang, karena kondisinya yang difabel, Ahoy dimanfaatkan anak-anak lain yang lebih tua darinya untuk meminta-minta di depan minimarket.
ADVERTISEMENT
"Saya prihatin setelah saya sering menemukan dia terjerumus ke pergaulan bebas. Bahkan, sempat jam tiga malam, ia masih berkeliaran bersama anak yang (lebih) dewasa," sambungnya.
Asep mengaku sudah mencoba mengarahkan Ahoy dan mendidiknya. Namun, ia kesulitan dan menillai Ahoy perlu mendapatkan pendidikan khusus.
Saat ini, Ahoy tercatat sebagai siswa kelas III di SDN Citepus. Namun, sekarang ia sering bolos sekolah.
Di sisi lain, Asep mengaku sudah kehilangan kontak dengan ibunda Ahoy. Asep tak tahu di mana keberadaannya.
"Saya berharap pihak pemerintah memberikan perhatian pada Ahoy untuk pendidikan dan tumbuh kembangnya," pungkas Asep.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan