Pencarian populer
PUBLISHER STORY
23 April 2019 18:55 WIB
0
0

Ketika Tanah Retak 'Mengusir' Satu demi Satu Warga Sukabumi

Warga mulai memindahkan barang-barang mereka untuk mengungsi usai makin meluasnya bencana tanah retak di Desa Kertaangsana Nyalindung, Sukabumi. | Sumber Foto: Istimewa.

SUKABUMIUPDATE.com - Setelah sempat bertahan, kini satu demi satu warga terdampak bencana tanah retak di Kampung Gunung Batu, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai berubah pikiran dan memilih untuk mengungsikan harta bendanya ke lokasi yang lebih aman.

Mereka mengungsi ke rumah keluarga atau kerabatnya. Keputusan itu diambil setelah retakan tanah semakin parah merusak permukiman, lahan pertanian, hingga jalan dan fasilitas umum. Hujan deras yang mengguyur Sukabumi, termasuk Nyalindung, membuat tanah di kawasan itu terus bergerak, meretak, dan mengancam permukiman warga.

“Ya, hari ini warga sudah mulai memindahkan barang-barang ke rumah kerabat,” kata Nur (30), warga yang tinggal di kawasan bencana tanah retak, kepada sukabumiupdate.com, Rabu (24/04).

Dia mengatakan sejumlah petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Polsek, Koramil, serta aparat kecamatan dan desa berada di Kampung Gunung Batu.

“Pemerintah meminta kami mulai berkemas dan mengungsi karena kondisi makin rawan,” ujar Nur.

Menurut dia, sudah ada lima keluarga yang memutuskan meninggalkan rumahnya untuk mengungsi. Rumah mereka rusak cukup parah akibat bencana ini. Sementara, Nur menyebut terdapat setidaknya 70 kepala keluarga yang terdampak dan sebagian besar masih memilih bertahan, namun mereka bersiap untuk mengungsi juga.

“Jadi kalau hujan besar seperti kemarin, kampung ini sudah dikosongkan. Warga mengungsi ke rumah tetangga atau kerabat yang aman,” jelas Nur.

Kerusakan ringan hingga berat sudah terjadi pada 25 rumah di RT 02 dan 03 Kampung Gunung Batu akibat bencana tanah retak. Tak hanya itu, akses jalan provinsi yang menghubungkan Kota Sukabumi dengan sejumlah kecamatan di Kabupaten Sukabumi juga mulai retak dan bergelombang.

“Warga berharap untuk penanganan darurat dibangunkan tempat pengungsian dan membangun pipa air agar saluran irigasi tidak melintasi pemukiman yang sudah retak-retak,” pungkas Nur.

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Senin,20/05/2019
Imsak04:25
Subuh04:35
Magrib17:47
Isya18:59
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.20