News
·
3 Agustus 2021 11:50
·
waktu baca 2 menit

Kisah Murni, Perempuan Penambang Pasir di Polewali Mandar, Sulbar

Konten ini diproduksi oleh SULBAR KINI
Kisah Murni, Perempuan Penambang Pasir di Polewali Mandar, Sulbar (160419)
searchPerbesar
Murni, bekerja sebagai penambang pasir di sungai demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Foto: Dok. Istimewa
Beberapa perempuan di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, memilih pekerjaan tak biasa untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Salah satunya dengan menjadi penambang pasir.
ADVERTISEMENT
Murni (31), warga Kelurahan Darma, Kecamatan Polewali, mengatakan dirinya sudah menjadi penambang pasir sejak kecil untuk kebutuhan ekonomi.
"Mulai dari kecil (jadi penambang pasir) karena kita tidak ada biaya untuk sekolah. Dari kecil ikut sama nenek, sembarang kita kerja supaya ada kita makan," kata perempuan lima anak ini, Selasa (3/8/2021).
Berbekal alat seadanya, Murni bersama beberapa ibu rumah tangga lainnya menambang pasir mulai dari pagi hingga sore hari. Kadang juga aktivitas menambang pasir itu dilakukan di bawah guyuran hujan.
Setiap harinya, Murni menyusuri sungai dengan menggunakan ban bekas untuk mencari gundukan pasir. Pasir-pasir di dasar sungai itu lalu diangkut dengan menggunakan ban bekas untuk kemudian dijual. Meski kadang dihinggapi rasa takut terbawa arus, namun tidak ada pilihan lain bagi Murni.
ADVERTISEMENT
"Takut, tapi mau apalagi demi kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara kami tidak punya pekerjaan lain selain jadi penambang pasir," ujar dia.
Pasir yang telah ditambang itu kemudian dipindahkan ke tempat penampungan khusus yang berada di tepi sungai. Dalam sehari, Murni bersama ibu-ibu penambang pasir lainnya bisa mengumpulkan satu hingga dua kubik pasir.
"Tergantung, kalau kita mampu ambil Rp 100 ribu setengah mobil dua kubik. Tapi kadang juga kalau begini palingan Rp 60 ribu, begitu di bawah dua kubik, kadang satu kubik," katanya.
Bekerja sebagai penambang pasir sudah menjadi kegiatan sehari-hari Murni bersama lima perempuan lainnya di daerah itu. Meski kadang harus bertaruh nyawa melawan derasnya arus sungai.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020