Pencarian populer

3 Anak Yatim Piatu Pengidap HIV Terancam Diusir dari Samosir

HIV AIDS (Ilustrasi) (Foto: Shutter Stock)
MEDAN, SumutNews.com | Tiga anak yatim piatu pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV), terancam diusir dari Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Pasalnya, warga menolak keberadaan mereka, dengan alasan takut terjadinya penularan.
ADVERTISEMENT
Ketiga anak berinisial S (7), H (11), dan SA (10) juga dilarang untuk bersekolah di sana, karena adanya penolakan dari warga. H dan SA terdaftar di SD Negeri 2 Nainggolan, sedangkan S terdaftar di PAUD Welipa.
"Masyarakat berharap anak-anak tidak di situ, karena mereka takut akan menular ke anak-anak mereka," kata Sekretaris Eksekutif Komite AIDS HKBP, Diak Berlina Sibagariang, Senin (22/108).
Warga juga beralasan bahwa anak-anak itu bukanlah penduduk asli Samosir. Mereka merupakan bocah yatim piatu yang kini tinggal di rumah singgah milik Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), di dalam kompleks RSU HKBP Nainggolan.
"Kita ingin adik-adik kita memperoleh haknya. Mereka anak-anak yang punya hak untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan," ujar Diak.
ADVERTISEMENT
Warga juga memberikan ultimatum agar anak-anak itu meninggalkan Kabupaten Samosir paling lambat 25 Oktober 2018.
Komite AIDS HKBP telah melakukan mediasi dengan pemerintah dan masyarakat agar hal itu tidak terjadi. Dalam mediasi itu, ketiga anak itu disarankan untuk dipindahkan dari sekolah dan menjalani home schooling.
Namun, Komite AIDS HKBP menolak saran itu, karena home schooling dinilai akan membuat ketiganya semakin merasa terisolasi.
"Anak-anak butuh sosialisasi dengan teman-temannya. Mereka bisa berkembang saat bermain sama teman-teman sebaya. Namun, ketika dibuat di home schooling mereka nanti semakin merasa terisolasi. Jadi kami berharap mereka diterima di sekolah," ucapnya.
Bahkan, Wakil Bupati Samosir, Juang Sinaga, menyebut agar ketiganya pindah dari Desa Nainggolan dan membuka hutan untuk anak-anak terpapar HIV serta tinggal di sana.
ADVERTISEMENT
"Wakil bupati pada audensi mengatakan supaya anak-anak kita pindah dari Nainggolan dan membuka hutan untuk anak-anak kita tinggal di sana. Itu membuat kami sangat sedih, seorang pemimpin daerah berkata seperti itu," katanya.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.85