News
·
19 Oktober 2020 18:29

Dampak Pandemi COVID-19, Pendakian Gunung Sibayak Menurun Drastis

Konten ini diproduksi oleh SUMUT NEWS
Dampak Pandemi COVID-19, Pendakian Gunung Sibayak Menurun Drastis (37915)
Seorang penjaga Pos Pemungutan Retribusi Gunung Sibayak. Foto: SumutNews
MEDAN | Suasana di Pos Pemungutan Retribusi Gunung Sibayak, Desa Semangat Gunung, Kabupaten Karo, Sumut, pada Senin (19/10/2020) tampak lengang.
ADVERTISEMENT
Hanya ada seorang penjaga pos bernama Hiskia Surbakti melihat dengan dahi mengkerut saat tiba beberapa orang. Pria muda dengan sepatu boot itu kemudian menyapa dengan ramah.
Sepinya suasana tidak pernah terjadi sebelumnya. Pandemi COVID-19 telah mengubah banyak hal, terutama jumlah pengunjung yang akan mendaki Gunung Sibayak.
Tidak hanya pendaki dalam negeri, bahkan pendaki dari luar negeri pun dulu jumlahnya hingga ratusan orang pada setiap akhir pekan.
"Sekarang ini, kalau tiap hari, bisa 10 orang atau tidak ada sama sekali," katanya.
Sebelum wabah virus corona terjadi, katanya, biasanya antara 600- 1.000 orang pada akhir pekan. Namun sekarang hanya tinggal 100 orang. Meski demikian, pendaki asal luar negeri (bule) saat ini sudah tidak ada satu pun yang terlihat.
ADVERTISEMENT
"Kalau dulu, Sabtu-Minggu, hari libur gitu sampai 600-an. Sampai bule-bule dari luar negeri, sini kayak Asia lah. Kayak apa lah, Eropa. 200 orang gitu. Terus ini kan, tak juga yang naik," ujarnya.
Tetap Terapkan Protokol Kesehatan
Untuk mendaki Gunung Sibayak, para pendaki tetap disarankan untuk menerapkan protokol keamanan seperti mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker.
"Di sini protokol kesehatan masih dilaksanakan. Cuci tangan, pake masker. Orang bawa masker memang, tapi kalo mendaki gini kan sesak," ujarnya.
Selama ini tidak ada pembatasan jumlah yang mendaki. Apalagi Gunung Sibayak itu luas. Namun sejak pandemi COVID-19, jangankan dibatasi. Menurutnya, justru pendakinya yang tidak adal.
"Tak ada tapi pengunjung yang kemari, sudah kurang memang. Kurang sekali sejak pandemi," katanya.
ADVERTISEMENT
Kemunculan Harimau Sumatera
Tak hanya pandemi COVID-19 yang membuat penurunan jumlah pendaki. Sementara ini, pengelola Taman Hutan Raya Bukit Barisan (Tahura BB) menuntup jalur pendakian Gunung Sibayak karena kemunculan harimau sumatera (Sumatera tigris sumatrae) pada 29 Agustus, 30 Agustus dan 30 September 2020.
Kepala UPT Pengelolaan Tahura Bukit Barisan, Ramlan Barus mengatakan, penutupan jalur ke Gunung Sibayak dimulai tanggal 16 Oktober 2020. Penutupan ini disebabkan karena penampakan harimau sumatera di wilayah kawasan Tahura Bukit Barisan.
Penampakan pertama 29 Agustus 2020, tepatnya di sekitar simpang pendakian atau simpang tiga pos pendakian Gunung Sibayak.
Penampakan kedua 30 Agustus 2020, dilihat langsung oleh seorang warga, Pak Sembiring, yang kebetulan mencari tanaman obat ke kawasan Tahura Bukit Barisan.
ADVERTISEMENT
"Saat itu, antara Pak Sembiring dengan harimau berjarak 25 meter, sehingga terlihat jelas keberadaan harimau sumatera tersebut," katanya.
Penampakan ketiga pada 30 September 2020 oleh pengunjung yang ke pemandian air panas Desa Semangat Gunung. Mereka melintas dari kawasan Tahura Bukit Barisan menuju ke Desa Semangat Gunung.
"Pengunjung yang melihat harimau merasa ketakutan. Begitu sampai di Desa Semangat Gunung, langsung menceritakannya kepada warga setempat," katanya.
Sementara itu, terkait penutupan jalur, Ramlan menyebut, diawali melalui surat menyurat. Telah disurati ke Kepala Desa, Masyarakat, dan Komunitas Pecinta Alam.
Kemudian kepada warga-warga yang berbatasan langsung dengan kawasan Tahura Bukit Barisan, seperti di Desa Semangat Gunung, Desa Jaranguda, Desa Doulu, dan Dusun Sebekan II, Desa Suka Makmur.
ADVERTISEMENT
"Dalam rangka penutupan ini juga, kita telah menyiapkan spanduk berupa larangan atau imbauan. Akan dipasang di beberapa titik, salah satunya di simpang Lau Sidebuk-debuk, Desa Doulu, Desa Jaranguda, dan di Pos Penjagaan Pendakian Gunung Sibayak," jelasnya.
Disampaikan Ramlan, untuk di Pos Penjagaan tetap ada petugas yang standby, dibantu masyarakat Desa Semangat Gunung. Sehingga pendakian ke Gunung Sibayak tidak ada lagi untuk sementara waktu.
Langkah-langkah yang telah dilaksanakan, pada 12 Oktober 2020 tim dari WCS dan BBKSDA Sumut, dan Tahura sendiri, telah memasang camera trap sebanyak 3 buah di lokasi yang nampak satwa liar dimaksud.
"Untuk hasilnya, menurut tim WCS, untuk melihat memori card-nya nanti setelah ada penampakan atau sebulan kemudian, karena penampakan ini range-nya sebulan sekali," pungkasnya. | SUMUTNEWS
ADVERTISEMENT