Pencarian populer

Membangkitkan Dedeng Langkat di Ekskavasi Swarnabumi #1

MEDAN, SumutNews.com | Siang hingga sore Rabu kemarin (6/3/2019) di bawah cemara laut, di pinggiran paluh disaksikan monyet-monyet bergelantungan yang kehilangan rimbanya, Dedeng Langkat digali. Anak-anak yang beranjak remaja di seputaran area Situs Kotta Cinna belajar teater tiap akhir pekan di Sanggar Teater Rumah Mata.

Sanggar sederhana yang berada di belakang Museum Situs Kota Cinna di Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan ini adalah rumah kedua bagi mereka. Beberapa minggu ini mereka mendapatkan menu kreatif tambahan untuk memperkaya bobot potensi mereka.

Agus Susilo, pendiri Teater Rumah Mata mengatakan, Dedeng Langkat, konon semakin langka didengar anak-anak millenia. Senandung khas tanah Melayu ini makin terbenam di tengah arus robotisasi. Generasi muda bangsa ini semakin jauh dari nilai-nilai kearifan lokal para leluhurnya.

Di usianya yang senja, MH. Yunus Tampubolon, salah satu seniman legendaris dari Binjai yang multitalenta ini dengan sabar membimbing anak-anak Situs Kotta Cinna berdedeng.

“Bila boleh, ingin aku tiap sore duduk di sanggar ini menikmati desau angin sambil mengajari anak-anak di sini berdedeng,” ujarnya penuh semangat.

Binjai-Museum Situs Kotta Cinna ditempuhnya dengan mengendarai sepeda motor. Tanpa ada raut lelah di wajahnya. “Aku tidak ingin Dedeng Langkat ini punah dan cucu-cucuku asing mendengarnya,” katanya. Motivasi ini yang membuat Binjai – Medan Marelan tak berjarak lagi baginya. Teater Rumah Mata mendapat asupan nutrisi dari sang tokoh.

Agus menjelaskan, Dedeng Langkat ini menjadi salah satu menu Acara Pembukaan EKSKAVASI SWARNABUMI #1 pada 22 Maret 2019 yang akan dibawakan oleh anak-anak Situs Kotta Cinna yang selama ini berproses kreatif di Teater Rumah Mata.

Belajar berdedeng menjadi salah satu program Teater Rumah Mata di 2019. “Kami membuka gerbang selebar-lebarnya bagi semua yang ingin bersama kami untuk berdedeng di Hari Minggu. Silakan berlabuh ke Museum Situs Kotta Cinna,” katanya.

Yunus mengatakan, dedeng sama dengan syair. Di Malaysia disebut syair, di Tanjung Balai disebut senandung Asahan, di Labuhan Bilik disebut Senandong Bilah, di Langkat disebut Dedeng. Bahkan hampir semua suku di tanah air mempunyai seni bersyair atau bersenandung juga ada di Kalimantan, Aceh, Sumatera Barat, seluruh pulau Jawa.

Menurutnya, pada zaman dahulu dedeng merupakan salah satu tangkai seni yang membudaya di kalangan masyarakat untuk memuja yang ada di darat maupun di laut. Dedeng, nembang atau senandung berawal dari syair yang dinyanyikan dengan penuh peresapan/penjiwaan (bersifat ungkapan perasaan sedih atau kecewa, suka maupun duka).

Dedeng sendiri adalah nama seorang yang terdampar di sebuah pulau bernama pulau Tapak Kuda. Dia selalu menyanyikan syair/senandung. Setelah dia meninggal, sebagian orang menyebut nama lagunya itu lagu si dedeng. Namun sejak tahun 1960-an sampai sekarang lagu si dedeng tersebut sudah tidak terdengar lagi.

Yunus mencontohkan, dedeng untuk mengambil madu lebah disebut Dedeng Lebah. Untuk mengambil Nira dipohon aren disebut Dedeng Nira, ada Dedeng jamu laut. Ada dedeng untuk menina bobok/mengayunkan anak dan lain sebagainya, yang sudah pasti budaya tradisional Dedeng Langkat ternyata sudah sangat langka.

“Ada lagi Dedeng yang juga sudah hilang yaitu Dedeng Ahooi yang dulu di budayakan yaitu bila musim panen padi dikenal musim pesta mengirik padi saat ini sudah tidak terdengar lagi,” katanya.

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63