Mengulas Sisi Malas Sergio Aguero Muda

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.

Torehan 254 gol dari 368 laga lintas ajang membela Manchester City harusnya sudah cukup menjadi bukti betapa berbahayanya Sergio Aguero di depan gawang lawan. Khusus di Premier League, total golnya sudah mencapai 180 gol; melampaui raihan Robbie Fowler, Thierry Henry, hingga Frank Lampard.
Penyerang asal Argentina tersebut juga sudah membukukan 12 hattrick di Premier League. Dalam artian, tidak ada pemain lain yang bisa mencetak tiga gol dalam satu laga sesering dirinya di kompetisi elite Inggris itu.
Jadi, apakah Aguero layak disebut sebagai salah satu penyerang terbaik dunia? Sah-sah saja berpendapat begitu.
Namun kalian harus tahu satu hal: Dulu, Sergio Aguero itu malas.
Sebentar... Sebentar... Konteks malas di sini bukan maksudnya hobi rebahan atau jarang mandi. Jangan samakan Aguero dengan diri kalian, ah. Ups.
Konteksnya, Aguero itu malas bertahan. Malas merebut bola. Malas menekan bek atau pemain lawannya dalam usaha ball recovery.
Ya, itulah Aguero saat masa-masa awalnya di Atletico Madrid. Orang yang cerita tentang hal itu adalah Javier Aguirre, sosok pelatih yang membesut El Atleti selama 2006-2009.
Gara-gara itu, Aguirre --entah kenapa nama mereka mirip-- kesal dengan Aguero. Aduh... Aduh...
Hal lain yang membikin Aguirre gregetan adalah harga beli Aguero yang dinilainya terlalu mahal. Terlebih, saat diboyong dari Independiente pada 2006, usianya masih belasan dan tubuhnya terlalu kecil.
"Itu 14 tahun yang lalu. Dia adalah pemuda kecil berusia 17 tahun, hidup sendirian di kota besar. Di Eropa, segalanya berbeda baginya," ujar pelatih asal Meksiko itu kepada BBC Radio 5 Live, dilansir Goal International.
"Dia sangat cerdas di lapangan, tetapi dia pendek dan klub membayar 20 juta euro untuknya. Saya bilang ke klub, 'Kalian membayar sangat mahal untuk orang ini karena dia tidak tahu di mana dia sekarang, dia tidak tahu apa-apa soal La Liga, Madrid, atau apa pun. Dia harus mulai dari nol," lanjutnya.
Lalu, Aguirre saat itu sempat kepikiran untuk menaruhnya tim B. Alasannya, karena dia berpikir kebugaran Aguero kurang bagus dan banyak pemain seusianya di tim B Atletico.
Namun, ya, idenya itu dihalangi pihak klub. Habisnya, malu-maluin, dong. Masa, iya? Pemain seharga 20 juta euro ditaruh di tim B.
Aguirre lalu mengalah, membiarkannya berlatih dan bertanding bareng tim utama. Kemudian, matanya menangkap kelemahan dan kelebihan Aguero muda.
"Ketika memegang bola, Sergio adalah yang terbaik di tim. Namun saat tanpa bola, dia seperti penggemar yang menonton pertandingan," kata sosok yang kini melatih Leganes itu.
"Kami bilang dia harus membantu tim, meski sedang tanpa bola. Ketika tim lain menguasai bola, dia mesti berlari dan merebutnya. Kami menyuruhnya bergerak dan menemukan ruang, bukan menunggu bola, karena bola harus mengalir ke kakinya. Lalu, dia melakukan segalanya dengan berbeda," terangnya.
"Kami tidak harus mengajari dia cara bermain, itu bukan kata yang tepat. Namun, kami banyak melatih Sergio [untuk pergerakan] tanpa bola," jelasnya.
Jadi, Aguirre mengeklaim sebagai orang yang 'memecut' dan mengajarkan Aguero bahwa penyerang itu tidak boleh malas gerak, meski sedang tak memegang bola. Bukan cuma urusan mencari ruang, penyerang juga mesti bertindak sebagai perebut atau pemantul bola.
Sekadar catatan, torehan gol Aguero di Atletico Madrid, per Transfermarkt, adalah 100 gol dari 230 laga lintas ajang. Tak heran, jika dia menjadi buruan klub-klub besar Eropa lainnya.
Selama membela The Citizens, Aguero sudah dilatih oleh lebih dari satu pelatih: Roberto Mancini, Manuel Pellegrini, hingga Pep Guardiola. Namun, 'guru' pertamanya di Eropa adalah Javier Aguirre.
Editor: Katondio Bayumitra Wedya
---
Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi uang tunai Rp50.000.000. Buruan daftar di sini.

