kumparan
Bola & Sports3 April 2020 15:31

Tertua di Liga Champions: Marco Ballotta Unjuk Gigi di Usia 43 Tahun 253 Hari

Konten kiriman user
Marco Ballotta PTR
Marco Ballotta. Foto: Getty Images
Bayangkan situasi ini. Usiamu sudah memasuki kepala empat dan kamu tahu dini hari nanti ada laga Liga Champions. Apa yang kamu lakukan? Besar kemungkinan, kamu akan bangun lebih awal untuk menyaksikan laga itu via layar kaca.
ADVERTISEMENT
Iya, itu adalah salah satu opsi yang ada jika kamu bukan seorang Marco Ballotta pada tahun 2007. Ketika orang-orang seusianya boleh jadi menerapkan skenario di atas, tetapi Ballotta tidak. Dia masih turun laga di lapangan.
Sepanjang September-Desember 2007, pria kelahiran Casalecchio di Reno itu menjadi pengawal gawang Lazio di fase grup Liga Champions. Ballotta mesti melindungi gawangnya dari gempuran pasukan Real Madrid, Werder Bremen, dan Olympiacos.
Yah, walaupun tidak pernah berhasil mencatatkan nirbobol dan malah 11 kali kebobolan dari enam laga yang dilakoni Lazio, tetapi kegigihannya layak dipuji, bukan?
Ayolah, Delio Rossi pasti punya pertimbangan sendiri kenapa lebih memilih Ballotta sebagai pengawal mistar utama Lazio di musim 2007/08, ketimbang Fernando Muslera dan Tommasso Berni yang lebih muda.
ADVERTISEMENT
Apa pun alasannya, kebijakan Rossi itu mampu membuat Ballotta mencatatkan rekor tersendiri di level Eropa. Itu terjadi pada 11 Desember 2007, ketika Lazio menjalani laga terakhir Grup C, kontra Real Madrid.
Pada usia 43 tahun 253 hari, Ballotta berdiri gagah di lapangan Santiago Bernabeu. Ya, di stadion kebanggaan Los Blancos itulah, Ballotta memainkan laga Liga Champions terakhirnya.
Singkat cerita, Ballotta mesti tiga kali memungut bola dari gawangnya. Julio Baptista, Raul Gonzalez, dan Robinho membuat Pak Tua itu mesti melakukannya.
Lazio kalah 3-1, gol hiburan tim asal Ibu Kota Italia dicetak oleh penyerang Makedonia bernama Goran Pandev, mereka tersingkir. Meski begitu, Ballotta telah mengukir sejarah.
Marco Ballotta COV
Marco Ballotta. Foto: Getty Images
Apa pun hasilnya, mau tak mau, pencapaian Ballotta ini mungkin kembali mengingatkan kita dengan kutipan Ernest Hemingway dalam buku The Old Man and the Sea:
ADVERTISEMENT

"But man is not made for defeat. A man can be destroyed but not defeated."

-Ernest Hemingway

Skor akhir laga memang jadi penanda hasil kalah, seri, atau menang. Namun bagi Ballotta, mungkin arti kalah, seri, atau menang lebih dari sekadar angka yang tertulis di papan skor.
Gol demi gol mungkin menghujam gawang Lazio, tetapi Ballotta selalu bangkit dan mengangkat kepalanya kembali setiap usai kebobolan. Itulah kemenangan bagi pria yang hari ini, 3 April 2020, berulang tahun yang ke-56, tersebut.
---
Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi uang tunai Rp50.000.000. Buruan daftar di sini.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan