Batu Pusat Kampung, Simbol Tegaknya Adat di Desa Boleng

Mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Semarang
Konten dari Pengguna
16 Mei 2022 18:04
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Susanto Jumaidi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Batu Pusat Kampung Ds. Boleng (Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Batu Pusat Kampung Ds. Boleng (Dokumen Pribadi)
ADVERTISEMENT
Boleng merupakan sebuah desa yang ada di pulau Adonara, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Secara geografis Desa Boleng merupakan desa pesisir yang bersentuhan secara langsung dengan laut. Mayoritas laki-laki di desa ini bekerja sebagai nelayan dan perempuan sebagai pengrajin tenun ikat. Desa Boleng satu-satunya desa yang ada di Kecamatan Ile Boleng yang masyarakatnya 100% beragama Islam, dan didalamnya termuat suku-suku yang memiliki tupoksi tugas berbeda-beda di lingkup desa.
ADVERTISEMENT
Sejarah singkat tentang Desa Boleng menurut tradisi lisan masyarakat yang bersangkutan, mulanya nenek moyang masyarakat di desa ini merupakan kakak adik yang hidup di lereng gunung Ile Boleng yang bernama Laba dan Geo. Suatu ketika Laba sebagai kakaknya Geo turun dari gunung dan mendapati tanah kosong di pesisir (Boleng) kemudian ingin mendiami tanah tersebut. Tetapi ketika Laba ingin buang air besar (BAB) di laut, ia kaget dan takut ketika dinginnya air laut menyentuh badannya. setelah itu ia memutuskan untuk kembali ke kampungnya Nelelamadike di gunung Ile Boleng dan menceritakan kepada adiknya Geo.
Setelah mendengarkan cerita Laba, Geo sebagai adiknya Laba turun gunung menuju tanah kosong yang diceritakan kakaknya itu. Berbeda dengan Laba, Geo tidak merasa takut atau kaget dengan dinginnya air laut sehingga ia mendiami tanah kosong tersebut.
ADVERTISEMENT
Laba yang mendengar kabar bahwa adiknya mendiami tanah tersebut akhirnya memutuskan kembali turun ke tanah kosong di pesisir itu (boleng). Setelah Laba dan Geo bertemu dan berunding, akhirnya mereka berdua sepakat tanah kosong itu dibagi dua. Meskipun tanah sudah dibagi dua, berdasarkan kesepakatan yang dibuat keduanya, tuan kampung tetap dipegang oleh Geo hingga anak turunnya.
Melihat perkampungan sudah ramai, tuan tanah yaitu Geo mengajak orang-orang yang mendiami kampung tersebut berkumpul dan didapati bahwa di kampung ini sudah terisi 7 suku. Berdasarkan tradisi di pulau Adonara bahwa jika ingin mendirikan kampung secara resmi, maka sebuah kampung harus memiliki 7 suku di dalamnya. Setelah suku-suku sudah terkumpul, tuan tanah merumuskan tugas-tugas wajib setiap suku beserta tatanan adat di kampung yang dinamai Boleng hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Batu Pusat Kampung Sebagai Simbol Tegaknya Adat
Batu Pusat Kampung, begitulah masyarakat Desa Boleng menyebutnya. Batu Pusat Kampung menurut masyarakat desa ini adalah simbol tegaknya adat di Desa Boleng. Sisi historis dari simbol ini Idris (sekdes Ds. Boleng) menceritakan bahwa konon ketika awal mula diresmikannya kampung atau desa Boleng, elemen wajib ketika akan membuka kampung adalah harus adanya 7 suku dalam kampung tersebut. Ketika elemen wajib sudah terpenuhi langkah selanjutnya adalah menentukan tupoksi tugas setiap suku yang mendiami kampung.
Kala itu seluruh suku dikumpulkan untuk membagi tugas masing-masing per suku dan segala tatanan adat beserta hukum-hukum adat yang harus ditaati secara bersama. Ketika semua sudah sepakat mengenai tugas-tugas dan tatanan adat beserta hukumnya, sebagai simbol kesepakatan atas tatanan adat tersebut, mereka meletakkan sebuah batu besar sebagai tanda bahwa semua sepakat akan mentaati tatanan adat secara bersama-sama.
ADVERTISEMENT
Salah satu hukum adat yang termuat dalam hasil musyawarah tatanan adat ketujuh suku di kampung Boleng, bahwa kepala kampung hanya boleh diduduki oleh seseorang yang berasal dari keturunan suku Lamanele Geo. Selain suku tersebut tidak boleh menduduki posisi sebagai kepala kampung Boleng.
Batu Pusat Kampung yang menjadi simbol sepakat atas tatanan adat ini dalam pandangan mayoritas masyarakat Desa Boleng dianggap sebagai batu keramat yang diagungkan. Masyarakat Desa Boleng sangat menghormati batu tersebut sehingga tidak ada yang berani memindahkan posisi batu pusat kampung tersebut. Idris (sekdes Ds. Boleng) menambahkan bahwa Batu tersebut akan diangkat jika ada perubahan dalam tatanan adat Desa Boleng. Namun dalam sejarahnya tidak pernah terjadi pengangkatan batu tersebut dengan tujuan merubah tatanan adat di Desa Boleng.
ADVERTISEMENT
Dapat diartikan bahwa tatanan adat lama Boleng tetap dijalankan tanpa ada perubahan tidak terkecuali terkait dengan siapa yang boleh menjadi kepala kampung atau kepala desa Boleng itu sendiri, yang masih mengikuti tatanan adat lama yaitu dari keturunan suku Lamanele Geo.
Antara Demokrasi dan Monarki
Desa Boleng dalam hal pemilihan kepala desa secara tidak langsung masih menjalankan warisan adat terdahulu yaitu sistem monarki dari keturunan suku Lamanele Geo. Namun yang menarik dari pesta pemilihan kepala di desa ini, meskipun sistem monarki yang menjadi hukum adat tetap berlaku, mereka juga tidak melanggar hak konstitusi demokrasi yaitu setiap orang memiliki hak memilih dan dipilih yang ditulis dalam perundang-undangan Republik Indonesia. Sisi monarkinya akan terlihat pada implementasi masyarakat dalam memilih kepala desa.
ADVERTISEMENT
Meskipun demokrasi juga ditegakkan dalam pesta pemilihan kepala desa, dalam implementasi pemilihannya masyarakat pemilih di Desa Boleng masih memegang teguh hukum adat bahwa yang boleh menjadi pemimpin desa adalah dari suku Lamanele Geo. Terlepas dari siapa saja calon kepala desa baik dari suku lainnya, mereka tetap akan memilih calon yang berasal dari suku tersebut sekalipun seseorang dari suku mereka sendiri ada yang mencalonkan diri sebagai kepala desa.
Hal ini juga mengindikasikan bahwa secara konstitusional pemerintahan di Desa Boleng menjalankan sistem demokrasi, hanya saja pada masyarakat yang sebagai pemilihnya masih memegang adat istiadat yang sudah tegak sejak sebelum lahirnya bangsa Indonesia.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020