kumparan
6 Januari 2019 8:40

Iwan Hadiantoro, CFO United Tractors: Menciptakan Keseimbangan Controllership dan Business Partnering

Sejak memulai kariernya, Iwan Hadiantoro sudah berkecimpung di bidang keuangan di berbagai perusahaan hingga akhirnya pada 2015 sampai sekarang berlabuh sebagai Direktur Keuangan atau Chief Financial Officer (CFO) PT United Tractors Tbk. (UT), anak perusahaan PT Astra International Tbk. di bidang alat berat dan pertambangan.
ADVERTISEMENT
Menurut Iwan, sebagai seorang CFO, tantangan utama yang ia hadapi di UT saat ini ada tiga. Tantangan pertama, ketergantungan yang tinggi pada bisnis batu bara thermal. Seperti kita ketahui, harga komoditas batu bara sangat volatile dan ini secara langsung dan tidak langsung berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
Tantangan kedua, kebutuhan dana yang besar untuk menunjang aktivitas working capital dan belanja modal kerja (capex), terutama untuk pembelian alat berat di bisnis mining contracting. "Rata-rata kebutuhan working capital dan belanja modal kami setiap tahun Rp 20 triliun-30 triliun," ujar mantan Chief Group Treasury and Investor Relations PT Astra International Tbk. ini.
Tantangan ketiga, menyangkut produktivitas karyawan. Pihaknya berusaha meningkatkan efisiensi biaya dengan melakukan perbaikan dan operational excellence di berbagai kegiatan usaha di UT. "Hasil yang didapat sangat menggembirakan karena UT dapat mempertahankan tingkat produktivitas dengan sangat baik," ucapnya. Saat ini, nilai kapitalisasi pasar UT sekitar Rp 123 triliun (September 2018) dengan total karyawan lebih dari 32 ribu orang yang tersebar di seluruh Indonesia.
ADVERTISEMENT
Iwan menempatkan posisinya sebagai seorang strategic CFO. Ia memiliki keyakinan bahwa CFO yang baik harus dapat menciptakan keseimbangan antara aspek controllership dan business partnering. "Ibarat seorang sopir, CFO harus tahu kapan dia harus menginjak rem (controllership) dan kapan harus menekan gas (business partnering) agar kendaraan yang dikemudikannya dapat melaju dengan kencang dan aman," kata mantan Direktur Keuangan PT Astra Sedaya Finance ini.
Dalam sisi controllership, ada tiga strategi utama yang dijalankan Iwan. Strategi pertama, memastikan UT memiliki kondisi balance sheet yang kuat untuk mendukung kegiatan operasional dan pertumbuhan bisnis. "Saat ini, kami memiliki posisi kas yang baik dengan gearing ratio yang rendah. Selain itu, UT juga berhasil mendapatkan International Credit Rating Baa2 dari Moodys, yang setara dengan investment grade yang dimiliki oleh Republik Indonesia," katanya.
ADVERTISEMENT
Strategi kedua, meningkatkan kinerja working capital, melalui berbagai penyempurnaan dalam kegiatan operasional perusahaan, memperkuat risk management, serta bekerjasama dengan beberapa bank dan lembaga keuangan untuk menciptakan inovasi pembiayaan yang optimum.
Strategi ketiga, menjalankan program "extraordinary cost efficiency", untuk memastikan bahwa bisnis UT tetap dapat bertahan dalam kondisi sesulit apa pun.
"Kami melakukan proses reorganisasi untuk membuat bisnis menjadi lebih lean dan agile, menciptakan berbagai inovasi teknologi untuk meningkatkan umur ekonomis alat berat yang digunakan di bisnis kontraktor penambangan, serta terus berusaha menjadi the lowest cost producer di bisnis pertambangan yang kami kelola," kata mantan CFO PT GE Finance Indonesia ini.
Sebagai CFO, Iwan pun bertanggung jawab mendukung perkembangan bisnis perusahaan ke depan. Sejak tiga tahun lalu, UT menjalankan berbagai strategi diversifikasi usaha guna menciptakan portofolio bisnis yang berimbang antara coal dan non-coal related, sehingga UT dapat mempertahankan keberlangsungan pertumbuhan usaha dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT
Saat ini sekitar 80% bisnis UT berkaitan dengan batu bara. Pihaknya berharap dalam lima tahun ke depan kontribusi dari sektor non-batu bara meningkat dan menjadi penyeimbang yang baik. Maka, UT aktif melakukan berbagai aksi korporasi, di antaranya mengakuisisi beberapa tambang seperti coking coal dan emas, membangun proyek infrastuktur, serta mengembangkan bisnis pembangkit tenaga listrik.
Dengan semua strategi dan kegiatan yang dijalankan sebagai CFO di UT, Iwan mengaku sangat gembira karena UT dalam beberapa tahun terakhir, terutama di 2018, dapat membukukan kinerja usaha yang sangat baik. "Semoga semua upaya yang kami lakukan ini dapat terus memberikan hasil yang positif bagi seluruh stakeholder UT," kata pehobi lari ini.
Apa saja terobosan Iwan di UT? "Saya berusaha terus meningkatkan aspek compliance terhadap kegiatan bisnis perusahaan," katanya. Lalu, meningkatkan risk management-nya, membantu meningkatkan produktivitas, banyak menggunakan fasilitas perbankan untuk mendukung pertumbuhan working capital. Pihaknya juga memiliki investment committee yang bertugas meneliti bisnis-bisnis baru yang akan dijalankan. (*)
ADVERTISEMENT
Dede Suryadi dan Chandra Maulana
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan