kumparan
3 November 2018 21:50

'Boarding Pass' Kematian

Ilustrasi pesawat (Foto: Shutter Stock)
Tragedi pesawat Lion Air yang jatuh di laut Karawang, seharusnya mampu menghentakkan kesadaran kita, bahwa kematian itu ternyata sangat dekat. Saat ini, kita yang hanya dapat menyaksikan melalui layar televisi, hampir tak pernah menyadari bahwa di tengah hiruk pikuk kehidupan ini, setiap orang sudah memiliki 'boarding pass' kematian yang telah ditentukan waktu dan tempatnya oleh Tuhan.
ADVERTISEMENT
Setiap orang telah memiliki 'karcis' yang tak mungkin tertukar, sesuai dengan nama yang tertera, jadwal, dan tempat duduk yang tak mungkin diisi oleh orang lain. Dunia ibarat bandara dengan beragam kesibukan masing-masing, ada yang jalan-jalan, ada yang belanja, ada yang berkumpul, tidur, sibuk dengan ponselnya, dan lain-lain, namun yang pasti semua tampak tertib dan juga santun.
Siapapun yang menyaksikan tragedi jatuhnya pesawat komersil ini, tentu akan sangat merasakan betapa menderitanya mereka-mereka yang merasa kehilangan sanak saudara, keluarga, teman dekat, kolega, namun kita sama sekali tak mampu berbuat apap-apa.
Mungkin sejauh ini, kita hanya mampu menatap di layar kaca setiap hari, berharap dengan pasti seluruh prosesi penyelamatan atas sisa-sisa apapun yang terdampak dari tragedi ini seluruhnya diselesaikan.
ADVERTISEMENT
Kita tentu saja mengapresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh petugas yang tanpa kenal lelah, senantiasa memberikan pelayanan kepada masyarakat, terutama kepada pihak-pihak yang terdampak langsung dari musibah sebuah pesawat dengan logo ‘singa merah’ ini.
Kadang saya membayangkan, begitu dekatnya kematian dengan kita bahkan hampir tak ada jarak yang memisahkan antara kita dengan kematian itu sendiri. Mungkin ada di antara kita yang bertemu dengan teman, mengobrol, bersenda gurau, tetapi tiba-tiba beberapa menit kemudian justru ia meninggalkan kita untuk selamanya.

Kadang saya membayangkan, begitu dekatnya kematian dengan kita bahkan hampir tak ada jarak yang memisahkan antara kita dengan kematian itu sendiri.

- -

Atau sebaliknya, ada kalanya kita terhindar dari suatu tragedi yang merenggut nyawa banyak orang tetapi kita sendiri justru terselamatkan. Hidup ini memang misteri yang tak pernah diketahui siapapun bahkan diri kita sendiri, tentang besok kita ke mana, berbuat apa, sekalipun kita sudah jauh-jauh hari merencanakannya.
ADVERTISEMENT
Jadi, apa sebenarnya yang paling dekat dengan kita? Ternyata kita tak pernah dekat dengan apapun atau siapapun, karena hal tersebut tentu bisa saja berubah dan tak pernah pasti. Lain halnya dengan kematian yang pasti adanya, tak mungkin dapat diulur waktunya barang sekejap pun.
Setiap dari kita sudah memiliki 'boarding pass' yang siap memasuki gerbang kematian (mortality gate) lalu kemudian siap tinggal landas (take off) menuju kehidupan abadi yang sesungguhnya.
Bandara kehidupan kita tak ubahnya sebuah ruang tunggu (waiting room) yang sangat besar, yang ditempati beragam manusia dengan beragam profesi dan latar belakang yang setelah gilirannya tiba, akan siap-siap tinggal landas menuju ke kehidupan yang lain.
Jadi, marilah kita berdamai dengan kematian, karena hanya kematianlah satu-satunya entitas yang paling dekat dengan diri kita sendiri. Dengan meyakini bahwa kematian itu dekat dan damai, maka tentu saja kita sudah akan mempersiapkan segala sesuatunya.
ADVERTISEMENT
Penting untuk diingat, bahwa ternyata akal dan hati selalu meyakini, bahwa kematian bukanlah akhir dari segala-galanya, karena ada kehidupan lain yang lebih abadi dari saat ini. Itulah sebabnya, seorang psikolog pernah berujar, "It is death creates religion".

Setiap dari kita sudah memiliki 'boarding pass' yang siap memasuki gerbang kematian (mortality gate) lalu kemudian siap tinggal landas (take off) menuju kehidupan abadi yang sesungguhnya.

- -

Jika keyakinan akan adanya hidup setelah kematian, kita akan diajak berpikir mengenai persiapan dan agenda masa depan, sama halnya ketika kita memanti di dunia kehidupan, tentu saja kita telah menyusun agenda dan segala persiapan untuk masa depan kehidupan kita sendiri.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan