kumparan
26 Feb 2019 12:02 WIB

Kiai Sholeh Darat dan Tafsirnya Tentang Salat

Mungkin banyak yang tidak terlalu peduli tentang sejarah Islam di Nusantara dimana banyak terdapat para ulama mumpuni dengan misi keislamannya mendorong terbukanya cakrawala berpikir keumatan waktu itu. Ditengah tekanan politik bangsa asing yang menjajah Nusantara, para ulama lahir dan menyuarakan kepeduliannya tentang agama, sosial, dan politik melalui penulisan berbagai karya yang kaya akan disiplin keilmuan agama. Fikih, Akhlak, Tasawuf, bahkan tafsir telah hadir mewarnai khazanah pemikiran Islam di Nusantara sejak awal abad 19. Jika dulu dikenal tafsir Alquran 30 juz “Tarjuman al-Mustafid” yang ditulis oleh Abd ar-Rauf al-Sinkiliyy (1615-1693), lalu lahir tafsir dengan bahasa Jawa yang ditulis ulama kenamaan KH Muhammad Sholeh Darat “Tafsir Faidlur Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malikid Dayyan” atau “Faidlur Rahman”.
ADVERTISEMENT
Kiai Sholeh Darat menulis tafsirnya ini diperkirakan dimulai sejak 1892 atas permintaan salah satu muridnya, RA Kartini. Edisi cetakan pertama kitab ini yang berisi 503 halaman yang berisi tafsir surat al-Fatihah dan al-Baqarah dan ditulis dalam bahasa Jawa dicetak oleh percetakan asal Singapura, HM Amin, pada 7 November 1893. Inilah satu-satunya kitab tafsir Alquran yang ditulis dalam bahasa Jawa, sehingga memudahkan setiap orang membaca dan memahaminya. Ditengah gelap gulitanya masyarakat oleh “kebodohan”, Kiai Sholeh membuat satu terobosan agar masyarakat mampu memahami bagaimana tata cara syariat beragama itu dijalankan.
Lalu, kenapa Kiai Sholeh mau mengikuti keinginan seorang wanita yang pada zaman itu kedudukannya jelas menjadi kelas dua dalam strata sosial? Dorongan Kiai Sholeh tentu saja adalah ketulusan niat tanpa melihat siapa yang meminta, sehingga dalam kurun waktu enam bulan, karya tafsir dalam bahasa Jawa ini selesai dituliskan. “Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami”, demikian kegelisahan Kartini terjawab setelah Kiai Sholeh genap menyelesaikan karya tulisnya yang pertama.
ADVERTISEMENT
Banyak sekali karya Kiai Sholeh Darat yang tersebar dalam beragam disiplin keilmuan, diantaranya “Majmu' Syariah al-Kafiyat lil Awam” (280 halaman); “Tarjamah Sabilul Abid ala Jauharotut Tauhid” (400 halaman); “Kitab Munjiyat, Methik Saking Ihya Ulumiddin” (196 halaman); “Matan Al-Hikam” (152 halaman); “Lathoifut Thoharoh wa Asrorus Sholat” (96 halaman), dan masih banyak yang lainnya. Guru dari ulama besar Nusantara, KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan ini hidup dengan penanya yang tajam dan ulasan-ulasannya soal kedalaman makna batin Islam yang membangkitkan selera keilmuan banyak para muridnya. Perjuangannya melawan kekuasaan politik, ia lakukan melalui ijtihad-nya sebagai ulama, memberikan dorongan semangat keagamaan agar umat mampu berpikir secara baik, bagaimana semestinya melawan kebodohan dan penjajahan.
ADVERTISEMENT
Bagi Kiai Sholeh, salat merupakan satu-satunya alasan terpenting bagi tegaknya agama Islam. Memahami praktik salat secara baik dan benar, akan berdampak pada seluruh sikap dan prilaku seseorang yang benar-benar memahami sisi batin salat, tidak hanya sekadar praktik ritualitas. Dalam dua kitabnya yang ditulis, Tafsir Faidlur Rahman dan Lathoifut Thoharoh wa Asrorus Sholat menjelaskan secara saling melengkapi, bagaimana salat dapat memenuhi dimensi etoris seseorang. Ia ketika menjelaskan makna kalimat, “wa aqiimu as-shalaata” (dan dirikanlah salat) dengan “lan podo njumenengono siro ing solat limang watu coro lakune solate wong islam”.
Melalui pemaknaan yang lebih bernuansa esoteris, Kiai Sholeh menafsirkan makna “aqiimu as-shalaata” dengan “arep andadeaken siro ing solat mi’raj sira ila al-Haq, lan arep dawam munggah sira tumeka maring maqam musyahadah”. Salat ditafsirkan sebagai maqam paling tinggi setiap muslim, sebab salat merupakan “mi’raj” (naiknya) seseorang ke level yang lebih tinggi. Salat dalam pengertian biasa hanyalah sebatas “wishal arru’yah” (memutus hubungan dengan entitas keduniaan lalu berkontak secara batin dengan Tuhannya). Maka, Kiai Sholeh menuntun agar salat menjadi ada dalam posisi tertinggi, setelah mi’raj dilanjutkan dengan musyahadah (kesaksian secara kuat dan yakin bahwa Tuhan hadir dalam dirinya dan sebagian hijab yang menutupinya diungkap).
ADVERTISEMENT
Kiai Sholeh bermain dalam wacana tasawuf ketika dirinya membedah makna salat. Sebagaimana diketahui, dalam konteks salik (seseorang yang menjalani disiplin spiritual untuk membersihkan dan memurnikan jiwanya), terdapat tiga maqam (level) yang akan dilalui para salik. Pertama, maqam muhaadlirah, dimana seseorang mampu membuka mata hatinya untuk berkomunikasi dengan Tuhannya, sekalipun belum mampu menyingkap hijab yang ada dalam dirinya. Yang kedua, lebih tinggi karena hijab yang menutupi mata batinnya mulai terkuak sebagian dan kondisi ini masuk kategori “maqam mukaasyafah”. Level tertinggi (wishal al-a’la) tentu saja apa yang dimaksud Kiai Sholeh sebagai “musyahadah” dimana seseorang sukses melewati dua maqam sebelumnya.
Orang-orang yang sukses menjalankan dimensi salatnya dalam level tertinggi “musyahadah”, Kiai Sholeh lalu memasukkan mereka dalam kategori sebagaimana disebut Alquran sebagai “khairul bariyyah” (seutama-utamanya makhluk ciptaan Allah bahkan lebih utama dari para malaikat), sebaliknya mereka yang tidak menjalankan salat termasuk kategori “syarrul bariyyah” (seburuk-buruknya makhluk ciptaan Allah). Menarik ketika dirinya menafsirkan bahwa salat tertinggi dari level seseorang masuk dalam kategori “khairul bariyyah”, sebab hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan Abu Hurairah, dimana seorang mukmin lebih mulia disisi Allah dibanding sebagian malaikat yang ada di sisi-Nya sekalipun. Maka, tepat dengan apa yang dikatakan Nabi Muhammad, bahwa salat adalah “mi’raj” nya orang-orang yang beriman.
ADVERTISEMENT
Hampir dipastikan, penafsiran para ulama Nusantara di masa lalu, sangat menyentuh dimensi esoteris dalam banyak hal. Mereka berupaya untuk membentuk realitas ibadah tidak sekadar menjalankan ritual semata, tetapi mengolah sedemikian rupa, agar ibadah lebih bernilai sehingga berdampak luas pada setiap prilaku orang-orang yang menjalankannya. Salat tidak lagi dipandang sebatas ikhtilaf, soal bagaimana mengangkat tangan saat takbir, bagaimana cara duduk yang benar, bagaimana caranya bertasyahud, atau bagaimana setelah salat selesai, berdzikirkah secara lantang atau berjabatan tangankah. Kiai Sholeh justru mencoba keluar dari dimensi ritual menuju dimensi spiritual agar salat lebih dipahami dan dihayati sesuai suasana batin, bukan menudukkan salat dalam makna lahiriyah, sebagaimana dipahami sebagai gerakan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.
ADVERTISEMENT
Jadi, luruskan niat kita ketika hendak salat. Bersihkan hati kita dari keterikatan apapun denga urusan-urusan dunia. Mulai buka mata batin kita agar hijab yang menghalangi mata batin kita terhadap Tuhan dibukakan, melalui kepasrahan dan ketundukan kepada hanya Satu Dzat Allah. Salat merupakan proses pertemuan hamba dengan Tuhannya yang hanya dapat dilalui melalui kebersihan hati, kekosongan pikiran, dan kesucian jiwa. Tanpa itu, salat hanya sebatas ritual yang tak ada bekas apapun, bahkan terhempas oleh kesibukan kita dalam hal-hal keduniaan. Lalu, kenapa salat seharusnya mampu mencegah keburukan dan kemunkaran? Jawabannya ada dalam diri kita sendiri, ketika kita mampu membedakan mana salat ritual dan mana salat spiritual.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan