Opini & Cerita27 September 2018 14:40

Sejarah Diplomasi: Kolaborasi Seniman Indonesia-Korea Selatan

Konten kiriman user
Sejarah Diplomasi: Kolaborasi Seniman Indonesia-Korea Selatan (16292)
Setelah sukses mengadakan pameran kolaborasi dari beberapa seniman Korea Selatan dan Indonesia yang bertajuk ‘A Tale of Two Cities: Narrative Archive of Memories’ pada 2017 di Korea Selatan, pameran serupa digelar kembali di Galeri Nasional Indonesia pada 13-29 September 2018.
ADVERTISEMENT
Beberapa seniman yang tergabung dalam Project 7 ½ ini adalah Forum Lenteng (Jakarta), Irwan Amett & Tita Salina (Jakarta), Jatiwangi Art Factory (JaF) + Badan Kajian Pertanahan (Jatiwangi), Mixrice (Seoul), Sulki & Min (Seoul), dan Sunah Choi (Busan, Berlin).
‘Kisah Dua Kota: Arsip Naratif dari Ingatan’ berawal dari kerja sama pameran residensial sejak tahun 2014, yang bernama Project 7 ½ dengan tema ‘art and unconsciousness’ dan ‘sense’. Kemudian, berangkat dari sejarah kedua negara yang sama-sama memperoleh kemerdekaan pada tahun 1945, pameran ini menghadirkan arsip-arsip fakta dan kisah yang terlupakan dari sejarah kedua negara pasca-kemerdekaan.
Gagasan tentang ‘ingatan’ menjadi pendekatan artistik para seniman dalam menghadirkan arsip-arsip fakta dan kisah sejarah tersebut.
ADVERTISEMENT
Selain itu, pameran ini juga menghadirkan perspektif yang luas mengenai sejarah dan budaya dalam komunitas yang ada di masing-masing negara. Terdapat kesepakatan dan kepingan subjektif dari fakta sejarah kedua negara yang berlawanan. Perbedaan yang hadir dalam realitas dan ilusi, komunitas dan individu, serta catatan objektif yang dieksplorasi dan diterjemahkan secara artistik melalui pameran ini.
Sejarah Diplomasi: Kolaborasi Seniman Indonesia-Korea Selatan (16293)
Mixrice, seniman asal Korea Selatan menghadirkan tarian tradisional ‘Gang Gang Suwol-le’, yang awalnya merupakan tarian tanda syukur komunitas masyarakat tani terhadap musim panen di Korea.
Tarian tradisional ini dikemas dalam karya video kanal tunggal berjudul ‘Gosari’ yang berkolaborasi melibatkan masyarakat Indonesia dari kelompok musik Lair dari Jatiwangi dan Rumah Tuli Jatiwangi.
Gerakan tarian tanda syukur ini mewakilkan beberapa aspek emosi seperti Hui (kegembiraan), Ro (kemarahan), Ae (kesedihan), Lak (kepuasan), Ae (cinta), Oh (kebencian), dan Yuk (keserakahan).
Sejarah Diplomasi: Kolaborasi Seniman Indonesia-Korea Selatan (16294)
Pameran Kisah Dua Kota (Foto: Syahzanan Haunan Fatharani)
Terinspirasi dari batik sebagai salah satu budaya dari Indonesia, Sunah Choi, seniman asal Korea Selatan mencoba mengeksplorasi pola-pola dalam batik, yang menggambarkan abstraksi atau geometris alam yang menjadi bagian dari elemen-elemen kehidupan dan budaya masyarakat di suatu daerah dalam karyanya, yaitu ‘Palimpest of Narratives’.
ADVERTISEMENT
Karya rupa yang menggunkan media fotogram ini menghubungkan pola batik Indonesia dengan berbagai pola-pola tradisional dari budaya-budaya lainnya.
Sejarah Diplomasi: Kolaborasi Seniman Indonesia-Korea Selatan (16295)
Sejarah Diplomasi: Kolaborasi Seniman Indonesia-Korea Selatan (16296)
Irwan Ahmett & Tita Salina, dua seniman asal Indonesia, mengeksplorasi simbol sejarah anggrek ungu yang diberikan Presiden Soekarno kepada Kim Il Sung pada tahun 1960-an, yang bertajuk ‘The Flower Diplomacy’.
Diplomasi Bunga yang dilakukan Presiden Soekarno kepada pemimpin negara Korea Utara saat itu merupakan sebuah bentuk aliansi terhadap perlawanan hegemoni ideologi barat di Asia.
Anggrek ungu yang kemudian diberi nama ‘Dendrobium Kimilsung Flower’ harus menempuh waktu sekitar dua dekade untuk dibudidayakan di Indonesia dan memperoleh nama botani resminya dari British Royal Horticultura Society oleh Guntur Soekarnoputra pada tahun 1982.
Sejarah Diplomasi: Kolaborasi Seniman Indonesia-Korea Selatan (16297)
Karya instalasi ‘Sertipikat Kebudayaan Tanah’ merupakan karya mixed media dari kolektif Badan Kajian Pertanahan Jatiwangi. Berawal dari tanah tempat tinggal warga Dusun Wates-Jatisura yang diklaim oleh Angkatan Udara sejak tahun 1950, secara kolektif beberapa seniman menghidupi kebudayaan tanah di Jatisura dengan tindakan kultural sehingga tanah di wilayah tersebut menjadi lebih bernilai dan bermartabat.
ADVERTISEMENT
Kemudian, pada 2017, Badan Kajian Pertanahan (BKP) mengadakan pembuatan Sertifikat Kebudayaan Tanah secara mandiri sebagai bentuk kepedulian terhadap tanah tempat tinggal warga tersebut, dengan sedikit tambahan kata ‘Kebudayaan’, desain sertifikat tersebut menyerupai Sertifikat Tanah milik Badan Pertanahan Nasional (BPN) RI.
Melalui proyek Sertifikat Kebudayaan Tanah tersebut, sebanyak 85 kepala keluarga telah mendaftar dan BKP tetap mengadakan kajian-kajian tentang pertanahan serta lanskap kultural yang ada di dalamnya melalui proyek artistik, residensi, dan lab mini secara kolektif.
Sejarah Diplomasi: Kolaborasi Seniman Indonesia-Korea Selatan (16298)
Forum Lenteng menghadirkan kembali karya-karya Huyung, salah satu sineas Indonesia pasca kemerdekaan yang berasal dari Korea. Sosok Huyung dan karya-karyanya dihadirkan secara menyeluruh, mulai dari alasan pribadi Huyung yang memilih untuk menjadi Warga Negara Indonesia, karena selain kecintaannya terhadap Indonesia, ia juga tak punya pilihan lain sebagai seorang tawanan perang milik Jepang dari Korea yang harus menjadi tenaga pembantu pemerintah Jepang saat menjajah Indonesia.
ADVERTISEMENT
Melalui berbagai karya-karyanya, Huyung merumuskan estetika sinema sebagai media pendidikan, perjuangan, dan propaganda dalam suatu bentuk hiburan. Huyung juga berhasil menggabungkan gagasan fakta pada dokumenter dan gagasan fantasi pada fiksi pada karya-karyanya.
Salah satu karya Huyung yang cukup fenomenal adalah ‘Frieda’. Awalnya film ini berjudul ‘Antara Bumi dan Langit’, tetapi karena adegan ‘a good night kiss’, menyebabkan film ini menjadi perdebatan seputar kebudayaan Indonesia di antara para kalangan saat itu. Kemudian berujung pada mundurnya Armijn Pane selaku penulis skenario film ini karena penyensoran terhadap adegan diperdebatkan tersebut.
Pameran ‘Kisah Kota: Arsip Naratif dari Ingatan’ menjadi sebuah jembatan budaya dalam konteks sejarah dan seni, sekaligus merupakan salah satu bentuk diplomasi kultural dari Indonesia dan Korea yang dapat diilhami oleh audiens tentang keterkaitan dalam perbedaan budaya masing-masing negara. (nan)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white