67% Buku Taman Baca dari Donatur, Hidupkan Free Cargo Literacy

Syarif Yunus
Dosen Unindra - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) - Konsultan - Mhs S3 MP Unpak - Pendiri TBM Lentera Pustaka
Konten dari Pengguna
23 Agustus 2021 15:16 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Saat ditanya, dari mana taman bacaan Anda memperoleh buku-buku bacaan?
ADVERTISEMENT
Ternyata, pengelola taman bacaan menjawab 66,7% dari donatur, 23,5% membeli sendiri, 3,9 dari Pemerintah, dan 5,8% dari lain-lain. Itu dapat dikatakan 7 dari 10 buku di taman bacaan adalah pemberian donator. Begitu simpulan Survei Tata Kelola Taman Bacaan yang dilakukan TBM Lentera Pustaka (Juni 2019) di 33 lokasi pengelola TBM di Indonesia.
Bila jumlah koleksi buku adalah syarat bertahannya taman bacaan di era digital. Maka donasi buku dari siapapun ke taman bacaan memiliki peran penting. Karena buku adalah napas taman bacaan. Tanpa buku, sangat sulit taman bacaan di mana pun dapat eksis dan bertahan hidup. Karena itu, kampanye “donasi buku” patut menjadi atensi pengelola taman bacaan. Bahkan seluruh pihak dan komunitas yang peduli taman bacan pun perlu menyuarakan pentingnya donasi buku ke taman bacaan.
ADVERTISEMENT
Sejatinya, bila tidak mampu berbagi harta. Cukup berbagi buku atau peduli ke taman bacaan. Maka, donasikanlah buku Anda ke taman bacaan.
67% buku taman bacaan dari donatur, pemerinta patut hidupkan lagi free cargo literacy
Bila 66,7% koleksi buku taman bacaan dari donatur, sedangkan 3,9% dari Pemerintah. Maka ada sinyal kuat, bahwa perputaran dan distribusi ke taman bacaan pastinya menggunakan jasa pengiriman. Dalam konteks inilah, peran pemerintah harus komitmen untuk “menghidupkan kembali” program Free Cargo Litercy (FCL). Suatu program pemerintah yang mempermudah para donatur untuk menyumbangkan buku ke taman bacaan di seluruh Indonesia. Agar anak-anak dan masyarakat Indonesia memiliki akses buku bacaan yang lebih massal. Pemerintah tidak perlu menyediakan buku bacaan. Tapi cukup menggratiskan biaya pengiriman buku ke taman bacaan setiap tanggal 17 pada setiap bulan. Seperti yang pernah berjalan di tahun 2017 namun “berhenti” di tahun 2020.
ADVERTISEMENT
FCL sangat penting untuk taman bacaan. Agar para donatur buku bacaan lebih tergerak untuk mendonasikan buku-buku yang dimilikinya. Tanpa perlu terbebani dengan biaya pengiriman. Maka, FCL selayaknya “dihidupkan kembali” di Indonesia.
Lalu, bagaimana cara mendonasikan buku ke taman bacaan?
Teruntuk orang-orang baik dan para donatur buku ke taman bacaan, setidaknya patut memperhatikan 4 cara donasi buku ke taman bacaan, yaitu sebagai berikut:
1. Pastikan buku yang akan didonasikan adalah buku bacaan, bukan buku pelajaran sekolah. Seperti buku-buku ensiklopedia, cerita rakyat, pengetahuan, sains dan teknologi, agama dan sejarah, dan sebagainya.
2. Kumpulkan buku bacaan yang akan didonasikan. Baik secara pribadi maupun bersama komunitas Anda.
3. Cari informasi taman bacaan yang layak mendapat donasi bukua Anda. Pilihlah taman bacaan yang aktivitas-nya rutin dan kegiatan membacanya semarak, jumlah anak-anaknya banyak. Agar buku-buku yang didonasikan terbaca dengan optimal.
ADVERTISEMENT
4. Kirimkan donasi buku bacaan melalui jasa pengiriman ke alamat taman bacaan yang dituju. Bila ada biaya-nya, anggap saja sedekah.
Donasi buku memang sederhana tapi bermakna. Karena buku adalah napas taman bacaan. Donasi buku adalah praktik baik yangharus terus dipertahankan dalam gerakan literasi di Indonesia. Berbagi buku adalah cara termudah untuk menjadikan masyarakat Indonesia lebih literat. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #DonasiBuku