Pencarian populer
USER STORY
18 Desember 2018 23:40 WIB
3
2

75 Kilometer dari Jakarta, Masih Ada yang Buta Aksara

Ilustrasi buku (Foto: Pixabay)

"Pak, saya mau belajar baca. Karena tiap hari abis Magrib, kalo anak saya ada PR sekolah, saya harus keliling ke tetangga minta bantuan. Tapi kan saya gak mungkin begitu terus. Di sini gak ada yang mau ngajarin," ujar seorang ibu buta huruf.

Agak mengenaskan. Tepatnya di Kampung Warung Loa Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, yang jaraknya mungkin hanya 75 kilometer dari ibu kota negara, Jakarta. Ternyata masih ada ibu-ibu dan orang dewasa yang buta huruf. Sama sekali tidak terbayangkan di era revolusi industri 4.0 yang katanya serba digital, serba otomatis, dan serba kecerdasan buatan, masih ada realitas masyarakat yang buta huruf, buta aksara. Fakta, mereka tidak bisa baca dan bisa menulis.

Mereka, ibu-ibu dan orang tua yang buta huruf. Nyata ada dan di dekat kita. Sementara di luar sana "meng-agungkan" logika dan kecerdasan, tapi di kampung ini sama sekali tidak tersentuh dari program pemberantasan buta huruf. Maka wajar, dari informasi yang saya peroleh, Desa Sukaluyu Kecamatan Tamansari, rata-rata tingkat pendidikan masyarakatnya 81 persen hanya SD dan 9 persen hanya SMP.

Melihat realitas ini, maka harus ada ikhtiar dan keikhlasan untuk membantu masyarakat yang buta huruf agar terbebas dari ketidakbisaan membaca bahkan bebas dari tidak bisa menulis. Walau hanya untuk keperluan yang sederhana, keperluan kemasyarakatan.

Berangkat dari realitas yang ada di depan mata inilah, sudah cukup alasan buat saya untuk terjun dan merintis "GErakan BERantas BUta aksaRA-GEBER BURA" di Warung Loa Desa Sukaluyu di Kaki Gunung Salak Bogor. Untuk kali pertama kelas GEBER BURA dilakukan pada Minggu (9/12), bertempat di TBM Lentera Pustaka yang saya kelola.

Dihadiri 5 orang ibu yang buta huruf, saya berkomitmen dan atas dasar iktikad baik akan membimbing dan mengajar mereka untuk mengenal dan mampu membaca huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga nantinya dapat menuliskan apa yang terucap dari mulutnya.

Setidaknya, ada dua problematika buta huruf yang saya peroleh dari mereka. Satu, mereka sama sekali tidak kenal huruf maupun angka. Dua, mereka kenal huruf tapi sama sekali tidak bisa menggabungkan dalam suku kata maupun kata. Maka di sini, membangun masyarakat yang punya budaya literasi mendapat ujian yang sangat besar.

Maka seminggu dua kali, kelas GEBER BURA kini sudah digelar. Tentu, masih banyak orang tua atau ibu-ibu yang belum mau bergabung. Entah karena apa?

Inilah momentum buat saya, mungkin juga orang-orang yang peduli kepada sesama untuk mengecek kembali. Apakah di lingkungan kita masih ada orang yang buta huruf? Bila ada, maka berbuatlah untuk membantu mereka. Agar terbebas dari buta huruf.

Sungguh, zaman mau maju sehebat apapun. Peradaban secanggih apapun. Tiada berguna bila masih ada orang-orang di sekitar kita yang tidak bisa tahu, bahkan tidak bisa menikmatinya.

Sungguh, zaman mau maju sehebat apapun. Peradaban secanggih apapun. Tiada berguna bila masih ada orang-orang di sekitar kita yang tidak bisa tahu, bahkan tidak bisa menikmatinya.

- -

Bantulah mereka sekarang, kaum buta huruf. GEBER BURA, gerakan berantas buta aksara hanya wujud dari kepedulian sosial yang semestinya ada pada setiap kita.

Memberantas buta huruf memang perbuatan kecil. Tapi sulit dikerjakan bila tanpa hati. Karena di sini, hanya kepedulian dan keikhlasan adalah bahasa yang paling bisa didengar dan dirasakan mereka, kaum buta huruf.

Mereka memang boleh buta huruf. Tapi kita harus mampu melihat dengan hati tentang mereka.

Kalau yang lain bisa, kenapa kita tidak? Semangat ya ibu-ibu yang buta huruf. Insyaallah

__________

#GEBERBURA #TBMLenteraPustaka

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63