kumparan
24 Agustus 2019 11:59

Jokowi vs Prabowo saat Debat Capres, Siapa Unggul?

Strategi Turn Taking Jokowi vs Prabowo saat Debat Capres 2019; Menang di Panggung, Kalah di Telikung
ADVERTISEMENT
Menarik untuk disimak. Berdasarkan kajian analisis percakapan Jokowi dan Prabowo pada Debat Pemilihan Presiden 2019 bertajuk “Strategi Turn Taking atau Giliran Berbicara” sebenarnya Prabowo lebih unggul dibandingkan Jokowi.
Giliran berbicara atau turn taking dapat disebut suatu kondisi di mana seorang pembicara berusaha untuk mengambil giliran berbicara untuk mengungkapkan isi pembicaraannya. Oleh karena itu, seseorang yang berbicara harus paham tentang strategi atau tata cara mengatur teknik percakapan sehingga berjalan lancar. Sebagai bagian dari perilaku berbahasa, kajian giliran berbicara atau turn taking dapat dilakukan terhadap aktivitas percakapan sehari-hari. Beragam interaksi dan percakapan yang menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dapat dipelajari untuk menjelaskan aturan, struktur, dan urutan bentuk interaksi. Giliran berbicara atau turn taking dalam analisis percakapan pada akhirnya dapat mendeskripsikan cara kerja percakapan, aturan-aturan yang berlaku, struktur percakapannya, dan urutan pola interaksi, baik dalam percakapan institusi maupun percakapan biasa.
ADVERTISEMENT
Salah satu cara untuk mengetahui proses giliran berbicara atau turn taking dapat dilakukan melalui analisis percakapan (conversational analysis). Analisis percakapan merupakan pendekatan untuk mempelajari interaksi sosial, baik perilaku verbal dan non-verbal dalam situasi percakapan sehari-hari. Analisis percakapan pun bisa dilakukan pada wacana atau percakapan yang dibangun atas kerjasama antara penutur dan petutur yang sifatnya informal dan tidak direncanakan, seperti yang terjadi dalam Debat Capres di Indonesia tahun 2019. Giliran berbicara atau turn taking bertumpu pada cara dan waktu bagi penutur untuk mengambil alih giliran berbicara dari penutur sebelumnya (Morrisan dan Andy Corry Wardhan, 2009).
Seperti yang pernah dilakukan saat antara Donald Trump dan Hillary Clinton pada Pemilu AS 2016, saya pun melakukan penelitian tentang “Strategi Turn Taking (Giliran Berbicara) antara Jokowi dan Prabowo saat Debat Capres 2019” lalu. Karena debat capres merupakan realitas berbahasa yang jarang terjadi, hanya 5 tahun sekali. Hal ini tentunya, dapat menjadi informasi gaya berbahasa dari masing-masing kandidat, di samping mengetahui peran perilaku berbahasa terhadap emosi atau perasaan pemilih.
ADVERTISEMENT
4.jpeg
Menurut Stenstrom (1994), turn-taking merupakan pergantian pembicara, sebelum maupun sesudah pembicara yang lain mengambil alih pembicaraan. Beberapa strategi turn-taking sangat pendek dan terdiri dari satu kata, selebihnya panjang dan menyerupai monolog. Ada tiga strategi dasar di dalam turn-taking, yaitu 1) mengambil giliran, 2) memegang giliran, dan 3) menghasilkan pergantian giliran. Hal ini relevan dengan fungsi dan tujuan bahasa politik; ada tipikal bahasa tertentu yang digunakan untuk mencapai tujuan kekuasaan. Bahasa yang bertaburan saat Debat Capres 2019, mau tidak mau, berisi pertentangan argumentasi untuk mengeksplorasi alasan-alasan di belakang setiap sudut pandang kandidat presiden.
Dalam praktiknya, menurut Jacob L. Mey (2001), ada tiga jenis strategi pengambilan giliran bicara. Tipe pertama adalah mengambil alih bicara, tipe kedua memegang kendali bicara, dan tipe ketiga adalah menghasilkan pembicaraan. Jenis ini menjelaskan tentang bagaimana orang memulai percakapan, bagaimana orang melanjutkan pembicaraan dan bagaimana orang memberi kesempatan untuk yang lainnya.
ADVERTISEMENT
Mengacu pada 149 data turn taking atau giliran berbicara dalam Strategi Turn Taking yang digunakan Jokowi dan Prabowo dalam Debat Pemilihan Presiden 2019 dapat diungkapkan turn taking atau giliran berbicara berdasarkan penutur sebagai berikut:
Turn penutur crop.png
Maka dari sisi penuturnya, turn taking atau giliran berbicara dalam Debat Pemilihan Presiden 2019 dapat dinyatakan bahwa:
1. Jokowi memiliki porsi 32% turn taking atau giliran berbicara, sementara Prabowo menguasai porsi 42% dan moderator 26%.
2. Taking the turn atau mengambil giliran lebih didominasi Prabowo 27%, sedangkan Jokowi 23%.
3. Holding the turn atau memegang giliran Jokowi lebih didominasi Jokowi 68%, sedangkan Prabowo 24%.
4. Yielding the turn atau menghasilkan pembicaraan lebih didominasi Prabowo 62,5%, sedangkan Jokowi 26,5%.
ADVERTISEMENT
Dengan kata lain, penelitian ini menyiratkan bahwa sebenarnya Prabowo lebih unggul dariada Jokowi saat debat capres berdasar pada strategti girliran berbicara. Boleh dikatakan Prabowo jadi “raja panggung” dibandingkan Jokowi. Namun, pada lahirmya realitas politik berbeda. Secara faktual perolehan suara, Jokowi ebih unggul daripada Prabowo.
Pola berbahasa saat debat capres di Indonesia ini persis sama seperti yang di terjadi di AS pada 2016 saat Donald Trump vs Hillary Clinton, yang ketika itu Hillary dianggap jadi "ratu panggung" di debat. Dianggap lebih unggul namun dalam realitasnya kalah.
Apa artinya itu semua? Ternyata, ada lanskap yang berubah dan sulit dikontrol dalam peta politik di mata konstituen atau pemilih. Hal ini berarti tingkat persuasi politik yang dibangung kandidat presidensangat bisa "berubah" ke dalam realitas sosial akibat gagal mengelola bahasa, gagal mengelola pesan. Maka konsistensi dan gaya berbahasa yang diisi oleh "pesan bahasa" sangat mampu menggeser dari hal-hal yang tadinya dapat diduga menjadi tidak terduga. Itulah yang makin menegaskan peran penting bahasa dalam politik.
ADVERTISEMENT
Turn taking atau giliran berbicara pada akhirnya adalah manifestasi penggunaan bahasa dalam interaksi politik, yang mencakup: 1) aspek isi, menyangkut topik yang didiskusikan dalam percakapan; secara eksplisit, melalui preposisi, atau diimplisitkan dengan berbagai macam cara; termasuk mengelola topik dan 2) aspek formal percakapan, menyangkut proses percakapan yang terjadi; aturan-aturan yang dipatuhi; dan ‘keberurutan’ yang dicapai dalam memberikan dan memperoleh giliran sesuai mekanisme turn-taking seperti jeda, interupsi, overlap, dan sebagainya.
Strategi turn taking yang digunakan Jokowi dan Prabowo dalam Debat Pemilihan Presiden 2019 pun dapat menunjukkan gaya bahasa penuturnya dalam percakapan, di samping dapat dikaitkan dengan karakteristik sistem pengambilan giliran bicara para penuturnya.
Bila dari segi penutur, turn taking atau giliran berbicara dalam Debat Pemilihan Presiden 2019 didapati Jokowi berkontribusi 32%, sementara Prabowo berkontribusi 42% dan moderator 26%. Maka dalam realitas politik, ternyata tidak selalu demikian? Itulah bagian dari “dialektika” politik yang terjadi di Indonesia. Antar kemampuan berbahasa dan bernalar boleh jadi tidak sama, tidak berbanding lurus. Menang di Panggung, Kalah di Telikung … #TurnTaking #Penelitian #Unindra
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan